Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Aku Siap Hamil Lagi


__ADS_3

Alvaro usianya kini sudah hampir satu tahun. Bocah lucu itu kini sudah bisa berjalan. Mulutnya juga semakin pandai mengoceh. Al semakin mirip Willy. Ia tampan sekali, hidungnya mancung, kulitnya putih, matanya bulat cemerlang. Tawanya ramai mengundang siapapun yang melihat akan gemas padanya.


Lintang sedang mendorong kereta bayi, ia membawa Al berjalan-jalan sore. Para tetangga di komplek elit itu menyapa dirinya dan juga Alvaro. Lintang membalas setiap lambaian, membuat siapapun yang menjumpainya tersenyum ramah.


"Wah sudah besar ya Al. Lucu, semakin tampan saja." Ibu-ibu komplek memuji anaknya.


"Lin kemarin anak tante cerita, dia pergi makan ke restoran kamu, katanya makanannya enak sekali. Tante pengen ke sana tapi belum sempat." Ibu yang lain menimpali, Lintang tersenyum kepada mereka semua.


Ya, kehidupannya benar-benar sempurna saat ini. Usahanya juga lancar. Kemarin, media juga memberitakan tentang Willy dan Zacky sebagai pengusaha muda sukses dari Kerajaan Dwianuarta Group. Bertambah sempurna rasanya kehidupan Lintang.


ia sengaja mengajak Al untuk berjalan-jalan sore ini. Sambil menunggu Willy kembali dari perusahaan. Lintang dan Willy semakin di kenal di kalangan atas. Banyak sekali para sosialita yang mengajaknya untuk bergabung ketika mereka mengadakan party khusus para kaum borjuis.


Lintang tapi dengan halus menolaknya, ia ingin selalu berada di keluarganya saja. Mengurus restoran, mengurus anak dan juga mengurus suaminya. Lagipula, Willy tidak terlalu suka bila ia banyak keluar rumah dengan alasan-alasan tidak jelas.


"Lin, aku lebih suka kamu di sini aja sama aku. Kalau mau keluar atau refreshing, kita bisa keluar bersama." Begitu Kata Willy.


"Iya Kak, aku juga gak terlalu suka ngumpul gak jelas begitu. Aku lebih suka berada di rumah, bersama mama, papa, Al dan setia nungguin kak Willy pulang." Sahut Lintang menatap suaminya.


Willy tersenyum, ia suka Lintang nya. Lintang yang penurut dan selalu meminta izin kemana pun ia akan melangkah ketika ada hal di luar sana.


Lintang kembali ke rumah setelah senja hampir tinggi dan menuju magrib. Ia masuk ke dalam gerbang dan kebetulan suaminya juga pulang. Willy menyerahkan kunci mobil kepada Pak Mamat yang segera memarkirkan mobil mewah itu ke dalam. Ia sendiri ikut berjalan mendorong Al yang masih berada di dalam kereta bayi bersama Lintang.


Willy mengecup kening istrinya lembut. Wangi rambut Lintang menyeruak ke indera penciumannya.


"Apa dia nakal?" Tanya Willy menunjuk jagoan kecilnya.


"Dia baik sekali, sayang." Sahut Lintang. Willy tertawa.


"Good boy. Nurut kata bunda ya." Willy mencubit gemas pipi gembul Al.

__ADS_1


"Sayang, apa tawaranmu masih berlaku?" Tanya Lintang. Willy mengerutkan dahi, ia tidak mengerti.


"Apa, sayang?" Tanya Willy juga.


"Kita bisa mulai membuat anak lagi malam ini." Lintang menunjuk perutnya. willy menatap istrinya berbinar.


"Benarkah? kau sudah siap?" Tanya Willy lagi. Mereka jadi saling melempar pertanyaan satu sama lain sore ini.


Lintang mengangguk. Willy senang bukan main. Ia mengangkat tubuh istrinya, memutar Lintang bersama dirinya. Al melihat mereka tertawa. Al sepertinya akan menjadi pribadi yang ramah, sebab ia suka sekali tertawa.


"Jagoan kecil, kau akan segera menjadi Kakak." Willy mencium gemas putra gembul nya.


"Eehhh, Will, pelan-pelan dong, nanti Al habis nafas kamu cium begitu." Miranti datang dari dalam rumah, ia segera mengambil alih Al yang masih tertawa melihat tingkah ayahnya itu.


Willy kembali memeluk Lintang. Ia sangat sayang pada perempuan ini. Ia senang sekali Lintang telah siap untuk mempunyai anak lagi seperti keinginan nya.


"Walaupun tubuhku nanti gendut lagi?" Tanya Lintang.


"Tidak masalah, kau tetap yang tercantik." Sahut Willy yakin.


"Baiklah, berusahalah dengan keras sayang, agar kita bisa secepatnya memberikan Mama cucu lagi." Lintang mengecup bibir suaminya lembut.


...****************...


Willy dan Lintang menjalani hari dengan bahagia. Mereka tetap berusaha untuk bisa menghadirkan manusia baru lagi di tengah keluarga besar ini.


Mereka juga melakukannya dengan penuh cinta. Kalau tak ingin di ganggu, Willy akan mengajak Lintang menginap di apartemen seperti biasa.


Seperti malam ini, mereka sudah berada di apartement. Willy telah mencumbu Lintang untuk kesekian kalinya hari ini. Gairah cinta mereka membara, terus bergelora seolah tak pernah padam.

__ADS_1


"Apa kau mengharap anak laki-laki lagi setelah Al?" Tanya Lintang sambil memainkan jarinya membentuk lingkaran di dada telanjang Willy.


"Aku berharap perempuan, agar Al bisa belajar cara melindungi perempuan. Tapi kalau Tuhan menghendaki anak lelaki lagi, aku juga bersyukur, sayangku." Sahut Willy sambil tersenyum pada Lintang yang tengah menatapnya.


"Semoga Tuhan mendengar doa kita, agar diberikan anak perempuan setelah ini." Timpal Lintang lagi yang segera diamini oleh Willy.


"Masih ingin mengulangnya?" Tanya Willy nakal. Lintang tersipu malu, tapi jujur ia mau.


"Masuki aku lagi, Kak." Ujarnya lembut. Willy meraih bibir Lintang lagi. Ia ********** lembut lalu semakin menuntut.


Mereka kembali mengulang malam panjang berdua. Merajut malam dingin dan syahdu ini dengan sukacita. Willy tidak pernah bosan mencumbu setiap inci dari tubuh istrinya. Sudah sejak dulu Lintang dan tubuhnya adalah candu. Willy tidak bisa menghindari itu.


Malam ini, desahan istrinya menjadi awal pembuka bagi kehidupan baru yang akan segera bersemayam di dalam rahimnya. Hasil cinta yang di tanam Willy dalam bentuk benih yang akan senantiasa Lintang jaga.


Lintang bangga, bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik bagi Willy dan Anak mereka. Kalau saja dulu ia tidak bersabar dan ikhlas, mungkin ia tidak akan pernah bisa mendapat cinta yang bertubi-tubi ini dari Willy, suami yang pernah membenci dirinya.


"Aku bangga bisa memilikimu, kak." Ujar Lintang di tengah desahannya yang semakin membakar gairah Willy.


"Aku lebih bangga lagi, sayangku." Willy meraih bibir Lintang, mencumbunya lagi dan lagi sambil terus memompa tubuh istrinya itu.


"Jangan pernah tinggalkan aku." Balas Lintang lagi sambil membenamkan kepala Willy ke belahan dada sintalnya.


"Itu hal terbodoh yang tidak akan pernah aku lakukan. Oh, sayang kau sempit, masih senikmat dulu." Willy semakin mempercepat pacuannya. Lintang sudah melenguh panjang, mendesah semakin keras, membuat ruangan itu bergema hebat. Malam itu Willy kembali menumpahkan cairannya ke dalam rahim Lintang. Ia mencium lama Lintang untuk terakhir kali malam ini setelah puas menuntaskan hasrat sekaligus setelah berusaha keras untuk membuahi istrinya dengan gagah dan penuh cinta.


"I love u, istriku." Willy mengecup dahi Lintang yang telah terkulai lemas.


"I love u more, cinta." Balas Lintang di sela nafasnya yang mulai normal.


Mereka tidur saling berpelukan, saling menguatkan perasaan dan berjanji untuk tidak akan pernah saling terpisahkan.

__ADS_1


__ADS_2