
Lintang telah selesai merapikan tempat tidurnya yang tidak terlalu luas. Ia juga telah mengganti seprai dengan yang baru. Tadi ia ingat bagaimana kedua mertuanya begitu antusias dan senang saat Willy mengatakan akan tinggal di rumah belakang bersama Lintang untuk beberapa hari sebelum mereka pindah ke apartemen dan sebelum ia kembali ke perusahaan.
"Wah, ide bagus Ma, biarkan mereka berdua di rumah belakang saja. Keramaian di rumah induk dengan banyak pelayan pasti mengganggu kegiatan bikin cucu." Ujar Ayahnya senang. Willy hampir tersedak buah anggur yang sedang ia kunyah saat mendengarnya.
"Iya pa, Aduh mama kok gak sabar lagi pengen punya cucu. Will, kamu harus segera menghadirkan generasi baru untuk keluarga kita ya." Ibunya menimpali, tidak kalah antusias dengan tangan yang sudah tertangkup di depan dada pula.
Willy menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat sambutan bahagia dari ayah dan ibunya itu. Anak? tentu saja itu tidak akan terjadi. Willy tidak pernah berniat untuk memberikan anak dari rahim perempuan yang tidak ia cintai.
Saat ini ia telah berada di kamar mungil Lintang. Kamar yang mungil tapi begitu sejuk dengan pepohonan dan banyaknya tanaman serta bunga yang di tanam oleh gadis itu di luar. Udaranya sejuk, pemandangan rumah minimalis ini begitu memanjakan mata.
"Kak..." Panggil Lintang hati-hati. Willy tidak menoleh tapi Lintang tahu lelaki itu mendengarnya. "Aku tidur di ruang tengah saja ya." Lanjutnya lagi.
"Jangan berani melangkah keluar tanpa seizinku."
"Tapi.. "
Kalimat itu di bungkam oleh bibir Willy yang telah mengunci bibirnya. Lintang tidak bisa memberontak, ia juga tidak berusaha melepaskan diri. Karena Lintang tahu, Willy bisa marah besar jika ia menolak. Lagi pula, seperti yang Willy katakan beberapa waktu yang lalu bahwa kebaikan yang selama ini keluarganya telah berikan harus ia bayar mahal termasuk dengan menyerahkan tubuh.
__ADS_1
Lintang juga pasrah saat Willy mulai menuntun dan menggerayangi tubuhnya. Namun ketika lelaki itu mulai menindih, Lintang seperti tersadar. Matanya terbelalak. Ia berusaha lagi melepaskan tubuhnya sekuat tenaga. Ia berhasil lepas dari genggaman lelaki itu sesaat dan berlari keluar kamar. Namun, ia sadar pintu telah dikunci dan kuncinya tidak ada. Willy jauh lebih pintar karena telah menyimpan kunci itu terlebih dahulu.
"Berani ngelawan?" Tanya Willy yang sudah berada di belakangnya.
"Bukan kak, jangan begini. Tolonglah." Gadis itu mengiba. Willy menatapnya penuh kemarahan. Lelaki itu segera mendekatinya lalu menyergap dirinya lagi dan lagi. Lintang tidak bisa kemana pun. Ia tidak punya kekuatan apa pun melawan lelaki itu.
Willy membaringkan paksa dirinya di sofa, dan pergulatan yang menyakitkan kembali terjadi. Menambah deretan panjang penderitaan Lintang hingga hari ini.
...****************...
Lintang meraih selimut, dengan hati yang kacau diselimuti nya tubuh Willy yang telah terbuai alam mimpi. Ia juga membetulkan letak bantal untuk kepala lelaki itu. Lintang melihat tubuhnya yang memerah, bekas kecupan keras Willy beberapa saat yang lalu. Ia kemudian berbaring di sisi tempat tidur, berusaha memejamkan mata dan terlelap juga.
Saat pagi menjelang, namun matahari belum tinggi, Lintang telah terbangun. Ia melihat suaminya masih tertidur. Lintang mengikat rambutnya, kemudian mengenakan pakaian. Ia telah berada di dapur mungilnya. Lintang membuatkan sarapan untuk Willy, juga tidak lupa membuatkan susu yang di tetesi madu, menu rutin Willy ketika berada di rumah induk.
Saat ia telah selesai dengan pekerjaannya. Ia memilih untuk masuk ke kamar mandi. Lalu membersihkan tubuhnya sendiri. Lintang harus kembali berkuliah hari ini. Ia harus fokus pada perkuliahannya yang akan selesai dua tahun lagi. Ia pergi sebelum Willy terbangun. Dan seperti biasa, ia pergi dengan angkutan umum.
Willy terbangun saat waktu telah menunjukkan pukul Sembilan. Ia terlalu nyaman di tempat tidur Lintang hingga tidurnya pun menjadi sangat nyenyak. Ia tidak melihat kehadiran gadis itu. Willy mengusap matanya sesaat lalu beranjak dari tempat tidur. Ia menyeret langkah menuju kamar mandi, saat itu ia melihat sarapan telah terhidang di atas meja. Bau nya enak dan menggugah selera.
__ADS_1
Ia bergegas mandi setelah itu menuju meja makan. Ia mulai memakan nasi goreng buatan Lintang. Rasanya enak sekali, bahkan lebih enak dari restoran langganannya. Ia tersenyum kecil, ternyata pembantu itu bisa membuatkan makanan sederhana ini menjadi sangat lezat. Lalu ia juga meminum susu madu yang juga terlah tersaji. Lagi-lagi Willy harus mengakui bahwa Lintang benar-benar memperhatikan hal terkecil seperti ini sekali pun.
Ia menghentikan makan saat di lihatnya tempat itu sunyi. Willy mencari ke seluruh ruangan dan tidak menemukan gadis itu. Ia kemudian berajalan menuju rumah induk, dilihatnya ibunya seperti biasa sedang sibuk di dapur.
"Eh udah bangun. Lintang udah pergi kuliah tadi pagi. Nanti pulang kuliah kamu jemput dia ya." Ujar Ibunya sambil mencicip dessert yang dibuatkan oleh pelayan. Ia sedikit kecewa karena tidak seenak yang sering dibuatkan Lintang.
"Biarin ajalah Ma, dia biasa naik bus kan." Sahut Willy malas, ia mencomot satu buah apel lalu menggigit dan mengunyah nya.
"Gak bisa. Kamu kan suaminya. Lagi pula nanti kalau kamu udah masuk kantor, mana sempat lagi antar jemput Lintang." Miranti kembali menentang anaknya. Willy lagi-lagi tidak bisa membantah.
Ya, pada akhirnya ia tetap harus menjemput Lintang nanti. Saat ini ia ingin menenangkan diri dahulu. Willy pergi ke kolam renang di belakang rumah mereka yang megah. Ia duduk santai di kursi yang tak jauh dari kolam renang. Matanya menatap lurus ke depan mengingat betapa berkuasanya ia atas diri Lintang.
Gadis yang kini menjadi istrinya dan telah ia renggut paksa kesucian dan kehormatannya. Willy tidak menyesal sama sekali mendapati kenyataan bahwa ia telah membuat Lintang sangat menderita selama ini. Bukankah itulah harga yang pantas di bayar oleh gadis itu. Pernikahan yang harusnya bisa ditolak oleh gadis itu nyatanya harus terjadi. Willy tidak akan membiarkan Lintang bahagia dengan pernikahan ini. Meski ia tahu, gadis itu tidak punya daya apapun untuk melawan dirinya namun itu seakan belum cukup untuk membuatnya membayar semua hal yang telah terjadi saat ini.
Kau lah yang telah menciptakan penderitaan bagimu sendiri. Kau lah yang harus membayar semua ini. Aku tidak akan pernah mau mencintaimu. Aku akan menghancurkanmu hingga kau tak bisa tertawa lagi.
Dan begitulah hati jahat lelaki itu berbisik, menutup pintu kebaikannya yang lain. Yang baginya tak pantas di dapatkan oleh Lintang, pembantunya.
__ADS_1