Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - USG


__ADS_3

"Kak jadi kita ke dokter hari ini?" Tanya Lintang pada Willy saat ia sedang membenahi dasi suaminya.


"Jadi, sayang. Nanti pulang aku dari kantor, kita langsung periksa ya." Willy mengecup kening Lintang seperti biasa saat akan berpisah untuk berangkat ke perusahaan.


Lintang mengantar Willy sampai ke depan pintu. Ia melambaikan tangan seraya memanjatkan doa agar suaminya tetap dalam lindungan Tuhan pergi dan pulang nanti.


"Al, main sama bunda yuk." Lintang mendekati Al yang sibuk main kejar-kejaran dengan si Mbok. Tawanya terdengar lucu membuat Mama ikut tertawa juga.


Mama menghampiri Lintang, menyerahkan vitamin dan segelas air minum.


"Eh iya, Lintang hampir lupa ma. Makasih ya Ma udah ingetin." Lintang menerima vitamin itu lalu langsung menelan dan meminum air nya.


Mama mengelus perut Lintang. Ia mengerutkan kening.


"Gede banget ya Lin, padahal hitungannya masih muda juga." Mama tertawa, Lintang juga.


"Iya nih Ma, aku aja ngerasa berat banget bawanya, gak kayak waktu hamil Al kemarin."


"Gak papa Lin. Mudah-mudahan anaknya sehat ya. Semoga sesuai harapan kita semua."


Lintang mengangguk, Ia menuntun Al, bersama mama ia membawa Al ke taman belakang, agar Al bisa lebih leluasa bermain.


"Acara jamuan makan malamnya besok kan Ma?" Tanya Lintang sambil mengelus rambut putranya yang lebat dan hitam.


"Iya Lin, ada Zacky dan istrinya juga kok."


Lintang tersenyum mengingat kedua orang itu. Ia masih seperti mimpi saja jika terkenang Sela dan Zacky. Tapi bagaimana pun, ia bahagia Sela dan Zacky telah saling menemukan cinta mereka.


"Aku gak nyangka loh Ma, Kak Zacky ternyata berjodoh dengan sahabatku sendiri. Keajaiban Tuhan itu benar-benar nyata ya Ma." Ujar Lintang dengan pandangan menerawang. Mama tersenyum, lalu menggenggam jemari menantunya hangat.


"Tuhan maha baik, Lin." Katanya singkat namun penuh makna.


Lintang dan Mama saling pandang dan melempar senyum. Mereka kemudian menghampiri Al yang sibuk mengejar kupu-kupu cantik yang terbang di sekitarnya.


Lintang merasa hatinya sejuk, cuacanya juga sejuk, tawa anaknya tidak kalah sejuk. Hatinya indah, hari ini indah, keluarga ini indah. Lintang bersyukur atas segala nikmat dan karunia.


...****************...

__ADS_1


Lintang sedang mengganti baju saat Willy datang ke kamar membuatnya sedikit terkejut. Ia mengelus dada. Kaget.


"Kaget gitu?" Tanya Willy sambil tertawa kecil. Lintang mencubit pinggang suaminya.


"Iya, aku suka kagetan deh sekarang." Sahut Lintang sambil memasang dress selututnya. Willy membantu menarik risletting bagian belakang dress itu.


"Kok bisa?" Tanya Willy sambil berkerut kening.


"Gak tahu nih Yah. Kenapa ya, kayak bakal ada kejutan gitu loh." Sahut Lintang sambil tertawa bingung.


Willy menghadapkan istrinya. Ia menatap wajah cantik yang putih itu dengan sayang.


"Semoga kejutannya yang baik-baik aja Bun." Kata Willy lagi. Lintang mengangguk lagi, menyetujui permohonan suaminya barusan.


"Udah siap nih, yuk berangkat." Lintang menggandeng lengan Willy seperti biasa.


Mereka menuruni tangga yang lumayan tinggi itu dengan hati-hati mengingat Lintang saat ini sedang hamil.


"Kamu kalo gak perlu-perlu banget jangan terlalu banyak turun ya. Bahaya." Kata Willy mengingatkan istrinya.


Mereka masuk ke dalam mobil. Mobil melaju menuju rumah sakit langganan keluarga besar mereka. Sampai di ruang dokter kandungan, mereka tiba-tiba jadi gugup.


Entah apa yang akan mereka dengar, tapi nampaknya semua akan baik-baik saja.


Dokter mulai melakukan pemeriksaan. Ia fokus menatap layar monitor sambil menggerakkan doppler pad permukaan perut Lintang yang sudah membesar. Dokter terlihat sedikit terperangah. Ia juga tak hentinya menyunggingkan senyum.


Setelah selesai Lintang dipersilahkan untuk duduk kembali bersama Willy berseberangan dengannya.


"Tuan, Nona. Selamat." Dokter menyalami mereka satu persatu. "Anak kalian kembar." Sambung dokter itu sambil tersenyum. Lintang sudah tercengang tapi di detik berikutnya ia berseru riang, mencoba menyadarkan Willy yang juga masih ternganga tak percaya. Ia menatap Lintang dan dokter bergantian. Menunjuk dua jarinya.


"Kembar dok?" Tanya Willy ragu. Ia terlihat memincigkan mata juga ke arah dokter yang langsung tertawa menanggapinya.


"Iya, selamat. "Kata dokter itu sambil menyunggingkan senyum.


"Kembar Lin, kembar." Willy masih terperangah sambil menatap suaminya haru.


"Iya Kak. Kembar."

__ADS_1


Willy langsung memeluk Lintang sangat erat. Betapa ia mencintai Lintang sampai saat ini dan pastinya akan selamanya.


"Aku bahagia sekali." Seru Willy disepanjang koridor rumah sakit saat mereka telah keluar dari ruangan dokter. Mereka akan segera pulang ke rumah.


"Mama pasti senang sekali." Seru Willy lagi.


Willy tak hentinya bersyukur, Lintang juga sama halnya. Ia berpikir, pantas saja perutnya terasa lebih besar dari kehamilan yang pertama, pantas saja ia deg-degan beberapa hari ini. Inilah kejutannya.


Ia sama sekali tidak berpikir sampai kesana bahwa dirinya sedang hamil anak kembar. Lintang menatap Willy yang sedang menyetir itu dengan senyum yang terus saja terulas.


"Al akan memiliki adik kembar." Lintang mengusap perut besarnya itu dengan sayang. Willy sudah tak sanggup lagi untuk berkata-kata. Ia berulang kali tersenyum dan mengelus perut istrinya.


"Mari sampaikan berita gembira ini pada mama dan papa." Ujar Willy akhirnya. Lintang mengangguk, semangat sekali untuk segera sampai dan memberi kejutan ini pada mama dan papa.


Sampai di rumah, Willy dan Lintang masuk ke dalam mencari mama dan papa. Mereka melihat papa dan mama sedang bersama Al, bermain dan tertawa bersama.


"Eh udah pulang." Mama menunjuk Lintang dan Willy pada Al yang segera menghampiri kedua orangtuanya itu. Willy dengan sigap langsung menangkap anak sulung gembul tersebut.


"Ma, pa, kami punya berita gembira buat kalian." Willy membuka kalimat pertama. Mama mengerutkan keningnya.


"Apa Lin?" Tanya papa pada Lintang yang sudah tersenyum.


"Lintang hamil anak kembar, pa, ma!" Seru Willy membuat mama dan papa saling pandang untuk beberapa saat. Namun setelah itu mereka berhamburan memeluk Lintang yang sudah tersenyum .


"Beneran ini Lin?" Tanya mama tidak percaya. Lintang mengangguk mantap. Membuat mama memeluk nya juga.


"Ma, kembar , cucu kita setelah ini kembar." Papa berkata masih dengan mimik terkejutnya yang nampak sekali.


Mereka larut dalam perasaan bahagia. Willy tak hentinya bersyukur atas kehamilan anak kembar yang sedang di kandung oleh istrinya. Hingga sampai saat malam tiba, keduanya masih saja terjaga. Masih tidak ingin cepat sadar dari hal indah ini.


"Pantas saja aku lebih cepat gendut, Kak. Ternyata ada dua nyawa yang sedang hidup dalam perut ku ini." Lintang menunjuk perutnya. Willy segera menempelkan daun telinganya di sana.


"Hey dua kecilku, tenang ya di dalam sana. Jangan berantem ya kalian." Ujar Willy mengajak perut besar istrinya berbicara.


"Ayo tidur Kak." Ujar Lintang dengan mata yang sudah sayu. Willy mengangguk, ia mengecup kening istrinya sesaat lalu merapikan selimut dan menyelimuti Lintang kemudian ia sendiri masuk ke dalam selimut yang sama.


Keduanya mulai memejamkan mata, menutup malam indah ini dengan begitu baik dam sempurna sebagai dua insan yang saling mencintai dan menyayangi dalam situasi dan kondisi apapun. Lintang melihat Willy tersenyum dengan mata yang terpejam. Ia bahagia sekali hari ini.

__ADS_1


__ADS_2