Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
38. Kenyataan Pahit.


__ADS_3

Willy dan Emilie telah sampai di apartement milik gadis itu. Mereka masuk, Willy segera duduk di sofa empuk berwarna merah muda yang ada di dalamnya. Emilie membuatkan Willy minuman lalu ia menyerahkannya pada Willy. Willy menerimanya kemudian menyesapnya perlahan.


"Maaf Will aku merepotkan mu malam-malam begini." Ujar Emilie sambil membuka blazzernya. Baju dalamannya hanya berupa dress tanktop yang ketat, membungkus tubuh indahnya. Ia duduk di samping Willy, Emilie memperhatikan Willy dari samping penuh kekaguman.


"Kau tinggal sendiri?" Tanya Willy pada gadis itu yang segera mengangguk.


"Ya, dulu aku tinggal bersama pacarku, tapi dia sudah pergi dan memilih bersama wanita lain." Emilie menjawab menjelaskan alasannya tanpa diminta.


"Will, aku boleh mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Emilie.


"Tanyakanlah apa yang ingin kau tanyakan." Sahut Willy.


"Apa aku boleh jatuh cinta padamu?" Tanya gadis itu lagi. Willy sedikit terkejut mendengarnya, namun ia bisa dengan santai menguasai keadaan.


"Tidak ada yang melarang kau untuk jatuh cinta pada siapapun. Tapi.." Kalimat Willy berhenti, karena Emilie tiba-tiba menaruh satu jari telunjuknya di bibir lelaki itu kemudian menggantinya dengan bibirnya sendiri. Emilie mengecup bibir itu perlahan. Willy awalnya tidak merespon, tapi kemudian ia mulai merengkuh gadis itu ke dalam pelukan. Cukup lama mereka berciuman mesra sampai akhirnya wajah Lintang kembali terbayang. Willy melepaskan Emilie seketika. Ia meremas rambutnya, kesal pada dirinya sendiri.


"Kenapa? kenapa kau menghentikannya?" Emilie tampak tidak terima. Ia kembali mendekati Willy lalu duduk di pangkuan lelaki itu. Ia kembali mencoba mencium lelaki itu. Mengecup lehernya, juga mendekatkan wajah Willy ke dadanya. Willy kembali menyentaknya, ia kembali membuat Emilie menghentikan aksinya.


"Em, aku tidak bisa. Hentikan." Ujarnya sambil menatap Emilie yang mulai kecewa.


"Kau juga menginginkannya bukan?"


"Aku sudah menikah. Istriku menunggu kepulangan ku sekarang." Balas Willy membuat Emilie lemas seketika. Ia merosot, jatuh di bawah sofa mendengar satu kenyataan pahit dari lelaki yang telah mencuri hatinya itu.


Matanya basah, Emilie menangis menatap Willy.

__ADS_1


"Aku telah jatuh cinta padamu, Will." Ujarnya putus asa.


"Lupakanlah perasaan sesaatmu itu, Em. Aku lebih baik pulang." Willy beranjak, ia tidak ingin terjadi hal-hal di luar kendalinya nanti. Namun, kakinya terasa berat, tidak mampu bergerak cepat. Emilie telah memeluk kakinya erat, gadis itu meraung, menangis tersedu-sedu.


"Jangan, jangan pergi. Tetaplah di sini." Emilie menatap Willy, memohon lelaki itu untuk tetap tinggal.


Willy mengusap wajahnya yang tampak kusut dan lelah. Ia kemudian mengalah, di ajaknya Emilie duduk dengan benar di atas sofa tadi. Ia tidak tahu harus bagaimana, bingung melanda dirinya.


"Temani aku malam ini saja, Will. Aku berjanji tidak ada yang akan terjadi." Pinta Emilie dengan airmata yang sudah menganak sungai. Willy menarik nafas panjang. Ia akhirnya mengangguk, mengiyakan apa kemauan Emilie itu.


Willy menemani Emilie semalaman, gadis itu memeluknya, tidak membiarkan Willy beranjak hingga ia tertidur sambil memeluk Willy. Willy juga akhirnya tertidur setelah lelah berperang dengan hati dan pikirannya sendiri.


Sementara di apartementnya sendiri, Lintang menunggu. Ia belum bisa memejamkan mata, juga sedari tadi mencoba menghubungi suaminya. Namun tidak ada jawaban. Waktu terus berjalan, Jarumnya telah menunjukkan pukul satu malam. Willy belum juga kembali.


Lintang mencoba memejamkan mata saat di rasanya bayangan Willy tidak kunjung muncul juga. Ia benar-benar tertidur dengan membawa harapan akan menemukan lelakinya telah tertidur pulas di sampingnya begitu ia terbangun pagi nanti.


...****************...


Pagi menjelang, Lintang membuka matanya. Ia menoleh, menatap ruang kosong di sampingnya. Ia menghela nafas kecewa. Willy tidak kembali sejak semalam padahal ia berharap sekali bisa menjumpai suaminya itu pagi ini. Lintang merasakan sepi. Ia segera memasak sarapan pagi, menyiapkan untuk suaminya yang entah dimana. Lintang sendiri tidak sarapan, ia tidak ingin makan apapun saat ini. Ia lebih memilih mandi dan segera pergi ke kampus untuk kuliah hari ini.


Saat Lintang sedang menunggu bus, sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Seseorang dari dalam sana menurunkan kaca jendela mobil. Lintang segera mengenali pengemudi mobil itu. Ia tersenyum sumringah, lupa sejenak tentang kekecewaan hatinya.


"Kak Zacky kok tumben ketemu disini." Ujar Lintang sambil tersenyum.


" Gue abis anterin Audy tadi. Lo mau berangkat kuliah?" Tanya Zacky ramah. Lintang mengangguk. "Suami lo mana?" Sambungnya.

__ADS_1


"Kak Willy ada pekerjaan, buru-buru tadi." Lintang terpaksa berbohong agar Zacky tidak berpikiran macam-macam tentang suaminya.


"Ya udah, gue anterin yuk. Tar lo telat. Bus pasti lama lewat sini." Ujar Zacky lagi, ia menawarkan tumpangan kepada Lintang.


Akhirnya setelah menimang sesaat, Lintang mengangguk setuju lalu masuk ke dalam mobil sepupu suaminya itu. Zacky melihat penampilan Lintang yang rapi dan cantik pagi ini, dengan beberapa buku yang ia peluk di depan dadanya. Degup jantung Zacky terdengar seperti genderang saja di telinganya sendiri.


"Kak Zacky gak kerja?" Tanya Lintang saat mereka sudah setengah perjalanan menuju kampus.


"Kerja kok. Abis nganterin lo gue ke kantor." Jawab Zacky sambil tersenyum.


"Ehmmm ... Kak Zacky ngga satu kantor sama Kak Willy?" Tanya Lintang lagi. Zacky menggeleng lalu menjawab.


"Masih perusahaan milik Kakek kok Lin, cuma beda tempat. Willy megang perusahaan pusat. Gue, yang di Kebayoran. Perusahaan Kakek memang banyak Lin, semua keluarga udah bertanggung jawab sama perusahaan masing-masing." Jelas Zacky panjang lebar. Lintang mengangguk saja. la memang tahu semua keluarga besar Dwianuarta Group telah dididik untuk menjadi pebisnis handal sejak kecil bahkan sepupu-sepupu Willy yang perempuan pun mendapatkan porsi yang sama. Namun jabatan dan tahta paling tinggi tetap berada di tangan William Dwianuarta. Semua orang tahu itu.


"Berarti nanti Audy juga?" Tanya Lintang lagi.


"Itu anak kayaknya gak punya jiwa bisnis sama sekali, Lin. Dia pernah cerita sama gue dulunya, pengen jadi Dosen. Melenceng banget dari sejarah keluarga gue." Sahut Zacky sambil tertawa, Lintang pun demikian.


"Lintang senang lihat Kak Zacky dan Audy. Kalian akrab sekali." Ujar Lintang tulus. Ia memang mengagumi keakraban kakak beradik itu.


"Bisa aja lo, Lin. Gue cuma punya adek satu doang jadi ya gue sayang banget sama Audy. Lo sendiri pengen jadi apa Lin?" Kini Zacky yang balik tanya. Lintang menunduk, memangnya ia punya keinginan apa? bukankah ia kini telah menjadi istri yang semua gerak geriknya selalu di bayang-bayangi suaminya.


"Aku pengen jadi koki, Kak. Mungkin karena aku suka masak ya." Lintang menjawab asal-asalan saja dan menjadi Koki terlintas saat ia teringat hobbynya berkreasi dengan masakan di dapur.


"Suatu saat lo pasti bisa wujudkan itu." Zacky menghiburnya. Mereka telah sampai di Kampus. Lintang turun dan mengucapkan terima kasih pada Zacky. Ia melambai kemudian berbalik masuk ke dalam kampus. Zacky juga melajukan deru mobilnya kemudian, meninggalkan Kampus menuju perusahaannya.

__ADS_1


__ADS_2