
Willy menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, ia duduk menghadap dinding kantornya yang terbuat dari kaca sehingga ia bisa langsung melihat pemandangan luar dari ketinggian. Dahinya nampak berkerut. Ia nampak tengah berpikir serius.
Beberapa jam yang lalu, perwakilan dari perusahaannya di Perancis menelponnya. Keadaan di sana sedang genting sekali. Willy paham, kehadirannya sangat diharapkan namun Willy masih bingung apa yang harus ia lakukan pasalnya membawa Lintang tentu tidak bisa ia lakukan, dokter berkali-kali menyarankan untuk tidak membawa Lintang untuk berpergian ke luar negeri dahulu.
Willy menarik nafas panjang. Kedatangannya ke Perancis tidak bisa diwakilkan. Willy akhirnya meraih telepon, ia menekan nomor rumah induk. Ia butuh bantuan Ibunya.
"Ma.." Katanya saat panggilan telepon telah tersambung.
"Kenapa Will, tiba-tiba menelpon mama?" Ibunya menyahut dari seberang.
"Ma, mama udah dengar berita tentang perusahaan kita di Perancis?" Tanya Willy.
"Udah kok, papa cerita tadi." Sahut mamanya santai.
"Aku mesti gimana ya, Ma?" Willy garuk-garuk kepala.
"Kok masih nanya sih, ya terbang lah ke sana." Celetuk mamanya gemas.
"Masalahnya aku jadi mesti ninggalin Lintang dalam waktu yang cukup lama ma." Kata Willy gundah. Ibunya tertawa di ujung telepon.
"Mama ngerti, Will. Tapi mau gimana lagi, kamu mesti datang ke Perancis. Keadaan di sana genting sekali. Lintang antar saja ke sini. Dia pasti senang bisa kembali ke rumah."
"Tapi, Lintang akhir-akhir ini gak bisa jauh dari aku, Ma. Dia juga jadi suka nangis, moodnya naik turun." Gundah Willy lagi.
"Haduh, gini nih kalo udah bucin. Udah antar aja nanti Lintang ke rumah. Mama yang kasih pengertian nanti dia pasti ngerti kok." Saran Mamanya lagi.
Willy menarik nafas panjang dan akhirnya mengiyakan semua saran Ibunya. Ia jadi sulit membayangkan akan berada jauh dari Lintang untuk waktu yang cukup lama. Namun, perusahaan di Perancis butuh dirinya segera, hanya ia yang bisa menyelamatkan keadaan.
Willy memanggil asistennya. Setya masuk lalu menunduk hormat sebelum kembali mendekati bosnya itu.
__ADS_1
"Aku akan pulang cepat hari ini. Handle semua situasi di sini dengan baik. Dan persiapkan dirimu, kita akan terbang besok ke Perancis." Ujar Willy sambil meraih jas nya kemudian menyampirkannya ke siku.
"Baik Tuan." Setya mengangguk patuh lalu mempersilahkan Willy untuk berjalan keluar ruangan.
Willy di sepanjang koridor perusahaan setelah ia turun dari lift, tidak hentinya berpikir tentang Lintang dan juga kepergiannya. Ia rasanya tak sanggup jauh dari istrinya itu. Apa ia nekat saja akan membawa Lintang ke Perancis dalam kondisi hamil besar itu. Tidak! tidak boleh. Ia tidak boleh egois.
Willy melajukan mobilnya menuju toko buah, untuk membelikan istrinya apel. Lintang suka sekali buah itu dan kebetulan stock apel di kulkas mereka telah habis. Setelah melakukan transaksi pembayaran, akhirnya Willy kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju istrinya. Ia rasanya juga sudah tak sabaran ingin segera memeluk Lintang.
...****************...
"Sayang, aku pulang." Willy menghampiri Lintang yang tengah berada di dapur. Istrinya sedang memasak. Ia lantas memeluk Lintang dari belakang setelah meletakkan satu kantong plastik penuh buah apel.
Willy seringkali nakal ketika berada di dekat Lintang. Ia sering menjawil bagian-bagian sensitif tubuh istrinya. Dan yang paling ia sukai adalah memeluk Lintang dari belakang lalu memberikan sentuhan pada dua buah dada istrinya yang semakin menantang.
"Kak.. ah jangan di sini." Lintang meletakkan spatula dan memegang pinggiran kitchen bar menahan gejolak.
"Kenapa ini semakin menantang." Willy meremasnya lagi, ia juga menyerukkan wajah ke leher Lintang, membuat nafasnya terasa panas memancing gairah.
"Matikan api kompornya. Mandi bersama ku ya." Bisik Willy menuntut. Lintang akhirnya menurut, sebab ia juga sudah menahan gejolak gairah sedari tadi.
Willy dan Lintang sudah berada di dalam kamar mandi. Keduanya kini berada di dalam bath up. Lintang menggosok punggung suaminya lembut. Ia juga menciumi leher suaminya, membuat lelaki itu geli.
"Kau nakal." Bisik nya, kemudian ia berbalik. "Nakal hanya denganku saja, sayang." Ujar Willy serius.
"Tidak ada yang lain, Kak." Balas Lintang kemudian ia merasa bibirnya dikecup. Lintang membuka mulutnya, membiarkan Willy mengakses setiap jengkal rongga mulutnya.
Willy perkasa. Ia lihai membuat Lintang menggelinjang. Ia juga selalu suka menatap mata istrinya yang sayu tapi penuh kilatan nafsu saat mereka sedang memadu kasih. Saat ini keduanya sedang sibuk memberi kepuasan. Lintang membalas setiap sentuhan penuh cinta itu dan melenguh berulang-ulang.
Saat mereka telah selesai, Willy kembali menghampiri istrinya yang tengah memasang dress rumahannya. Willy sendiri telah mengenakan pakaian santai. Ia mengajak Lintang duduk bersamanya. Lintang juga mengambil buah apel dan kini ia sedang mengupasnya.
__ADS_1
"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu." Willy menatap istrinya yang cantik dengan rambut setengah basah.
"Katakan Kak.
"Sayang, aku harus pergi ke Perancis besok. Perusahaan di sana sedang dalam masalah."
Lintang menghentikan kegiatannya. Ia menatap suaminya.
"Apa begitu gawat, Kak?" Tanya Lintang lirih ia tidak bisa jauh dari suaminya ini.
Willy jadi gusar saat melihat tatapan Lintang yang berubah nanar. Ia sudah menduganya. Namun, ia tidak bisa untuk tidak datang ke Perancis.
"Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin, sayangku. Kau akan tinggal di rumah Mama dulu. Perusahaan di sana benar-benar membutuhkan aku sayang." Willy berusaha memberikan pengertian.
"Baiklah, Kak. Jangan lama ya meninggalkan aku." Akhirnya Lintang tersenyum juga.
Willy merengkuhnya, memeluk istrinya penuh cinta. Ia mencium kening istrinya berulang-ulang.
"Aku berjanji akan segera pulang jika urusan di sana selesai. Lintang, aku pasti sangat merindukanmu." Keluh Willy lagi. Lintang mengusap punggung lelaki itu lembut.
"Jangan khawatirkan aku di sini ya, Kak. Bekerjalah dengan baik saat di sana." Kata Lintang menenangkan.
Willy meletakkan telapak tangannya di atas perut Lintang yang kian membesar. Ia mengelus dan menciumnya lembut lalu menempelkan telinganya berusaha mendengar suara anaknya di dalam.
"Sayang, kau sudah tidur?" Willy berbicara pada perut Lintang. Lintang membelai kepala suaminya lembut.
"Dia sedang nyaman sekali mendengar ayahnya. Tunggulah, sebentar lagi ia pasti bergerak." Sahut Lintang sambil tersenyum. Benar saja, Bayi itu bergerak membalas sapaan Ayahnya.
"Kau semakin aktif." Willy mendaratkan satu kecupam di perut istrinya itu.
__ADS_1
Kurang lebih tiga bulan lagi Lintang akan segera melahirkan. Willy sudah tidak sabar menantikan kehadiran jagoan kecilnya di antara mereka. Ia membayangkan betapa indahnya jika anaknya telah lahir. Rumahnya akan ramai oleh suara anaknya. Willy tersenyum membayangkan hal indah itu yang ia harap tidak hanya sekali. Ia benar-benar ingin anak lebih dari satu. Ia akan membuat PR setelah anak pertamanya lahir.