
"Lin, nanti aku akan menjemputmu ya selepas meeting siang nanti kita akan ke rumah sakit." Ujar Willy lalu meminum susu madu seperti biasa.
"Iya Kak, Aku akan menunggumu." Sahut Lintang sambil membereskan meja makan.
Kemudian ia menghampiri Willy lalu mulai merapikan jas kemeja suaminya itu. Jasnya sendiri sengaja belum Willy pakai. Ia hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga ke siku. Lintang tersenyum menatap suaminya. Begitu tampan nan mempesona. Willy meraih Lintang, meminta istrinya itu duduk di pangkuannya. Ia menyibak rambut Lintang ke belakang telinga.
"Jangan kemana-mana, Lin. Aku bisa gila kalau kau pergi." Ujarnya sambil menatap Lintang.
"Iya, Kak. Hmm, tapi Lintang sudah tiga hari tidak kuliah, empat hari dengan ini." Sahut Lintang. Willy tersenyum.
"Tenanglah, asistenku sudah mengurus surat izin mu untuk tidak masuk sampai hari ini. Besok, kau bisa berkuliah lagi." Willy menenangkan Lintang. Akhirnya Lintang tersenyum dan mengangguk juga.
"Kak, hati-hati ya." Lintang membelai rambut suaminya. Willy mengangguk lalu mencium lembut bibir istrinya.
Lintang turun dan membiarkan Willy meraih jasnya yang segera ia sampirkan ke siku tangannya. Willy mencium puncak kepala Lintang lalu meninggalkan istrinya itu dengan tenang menuju ke Lift yang akan membawanya turun menuju besment dimana mobilnya terparkir lalu akan membawanya menuju ke perusahaannya.
...****************...
Willy memasuki perusahaan dan berjalan menuju ruangannya diikuti tatapan para karyawan. Ia tampak terlihat luka di beberapa bagian wajah meski tidak lagi sakit dan nampak karena Lintang telah mengobatinya, namun tetap saja itu membuatnya sedikit berbeda. Setya yang melihat atasannya sangat terkejut dan kaget namun Willy hanya menanggapinya dengan santai.
"Biarkan saja. Nanti akan hilang sendiri lagipula aku senang mendapat luka-luka ini. Karena ini bukti aku memperjuangkan istriku." Sahut Willy dengan mimik bangga dan santai. Ia meneruskan langkah juga membalas sapa dari para karyawannya lalu masuk ke dalam ruangannya sendiri.
"Tuan, hari ini kita ada meeting dengan perusahaan Wijaya, yang datang nanti adalah Nona Emilie juga asistennya." Ujar Setya sambil membacakan agenda kegiatan di perusahaan hari ini.
__ADS_1
"Apa yang akan kita bahas?" Tanya Willy sesaat sebelum ia duduk.
"Pembahasan lanjutan tentang penetapan lokasi juga biaya yang akan di perkirakan. Nona Emilie juga akan membawa satu dari arsitek terbaiknya untuk mendukung kelancaran proyek pembangunannya nanti." Setya menjelaskan secara terperinci. Willy mengangguk.
"Atur meeting hari ini tidak lebih dari satu jam, lebih dari itu kau yang akan menghandle. Aku akan pulang lebih cepat hari ini." Perintah Willy pada Setya. Asistennya patuh mengangguk.
Willy memang sengaja tetap mengikuti meeting namun ia tidak akan lama, karena sudah berkeras akan mengantar dan menemani Lintang ke rumah sakit hari ini. Lagipula, Willy tidak ingin berlama-lama satu ruangan dengan Emilie. Ia tidak ingin perempuan itu masih menaruh harapan akan dirinya. Juga tidak ingin membuat Lintang kembali kecewa.
"Jam berapa Meeting dimulai?" Tanya Willy lagi.
"Waktu yang disepakati kemarin pukul Sebelas, Tuan."
"Majukan jadi jam 10. Kabarkan mereka sekarang." Perintah Willy lagi membuat Setya kembali mengangguk patuh dan segera melaksanakan perintah dari atasannya itu.
Akhirnya sesuai arahan dan perintah, meeting dimajukan menjadi satu jam lebih cepat dari waktu yang telah disepakati sebelumnya. Willy kini telah berdiri di depan layar proyektor, ia menjelaskan secara terperinci juga dengan tegas mengatakan hal-hal yang perlu dihindari saat pembangunan proyek dimulai. Sebenarnya proyek itu harusnya sudah berjalan beberapa pekan lalu, namun sempat tertunda karena beberapa hal dan proyek itu akan benar-benar mulai dibangun pekan depan.
Emilie tahu saat ini Willy tidak lebih menganggapnya hanya rekan bisnis, namun jauh di lubuk hati, ia masih berharap bisa meraih hati lelaki itu lagi. Namun, sulit rasanya. Lelaki itu bahkan tidak memberinya muka saat ini.
Saat mereka telah selesai meeting ketika Willy telah berjalan lebih dulu meninggalkan ruangan ia lekas menyusul setengah berlari. Dress cantik dan juga blazzernya bergerak mengikuti.
"Will." Panggilnya. Willy berhenti, menoleh lalu berbalik.
"Ada apa, Em?" Tanya Willy dengan senyum ramah pada gadis itu.
__ADS_1
"Kau berubah. Apa aku membuat kesalahan?" Tanya Emilie dengan mimik sedih, ia meraih lengan Willy hendak menggandengnya. Willy tersenyum lalu melepasnya perlahan.
"Maaf Em, aku tidak ingin membuat istriku kecewa lagi. Kau bisa mencari lelaki yang lebih baik segalanya dari ku." Ujar Willy berusaha menyadarkan Emilie yang sudah menatapnya nanar.
"Tapi.."
"Aku mencintainya, Em. Aku mencintai Lintang, istriku." Kata Willy lagi, memotong kalimat yang belum selesai Emilie ucapkan.
Willy kemudian berlalu, meninggalkan Emilie yang terluka. Ia telah jatuh hati pada pria yang tidak bisa membalas perasaannya. Willy kini memandangnya hanya sebatas rekan bisnis dan tidak akan pernah lebih dari itu.
Willy masuk ke dalam mobil, ia melajukan deru kendaraannya menuju apartement dimana Lintang telah menunggu dirinya. Willy tidak sabar untuk segera berada di dekat istrinya.
Sementara di apartement mereka, Lintang telah menunggu, dengan nyeri di perutnya yang mulai timbul lagi. Ia juga sudah menghabiskan separuh pagi hanya untuk memuntahkan seluruh isi perutnya. Lintang pusing, lemas terasa tubuhnya.
Namun, ia tidak ingin membuat Willy khawatir. Ia tetap memaksa untuk bersikap biasa semua nampak baik-baik saja. Lintang menunggu Willy dengan duduk di dekat Jendela. Ia selalu suka melihat pemandangan di luar melalui jendelanya yang terbuka. Lintang bisa merasakan semilir angin yang membelai anak-anak rambutnya. Kadang, sejuknya membuat Lintang mengantuk dan ingin tidur saat itu juga.
Namun, saat ini ia tidak boleh mengantuk. Ia ingin nampak segar dan tidak pucat di hadapan suaminya. Lintang sudah mengoleskan sedikit lipstik berwarna cerah untuk menyamarkan kesan pucat yang ia dapatkan beberapa hari terakhir ini.
Saat sedang termenung menatap keluar jendela, Pintu apartementnya terbuka. Tampak Willy dengan Kemeja yang ia gulung lengan baju hingga ke siku. Suaminya tidak mengenakan jas kerja, nampak kasual tapi tetap mempesona. Willy berjalan mendekati Lintang, menyentuh puncak rambutnya perlahan.
"Ayo kita berangkat." Ajaknya pada Lintang yang segera mengangguk.
"Kakak tidak apa-apa meninggalkan kantor saat ini?" Tanya Lintang. Ia tidak enak hati. Lintang tahu saat ini Willy sedang memiliki jadwal yang cukup padat di perusahaannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku sudah menyerahkan semuanya pada asistenku. Dia bisa diandalkan." Sahut Willy dan jawaban itu membuat Lintang jadi sedikit lega.
Mereka kemudian keluar apartement dan menuju rumah sakit tempat biasa keluarga besarnya dirawat. Willy khawatir akan kesehatan istrinya akhir-akhir ini. Ia ingin segera tahu apa yang sedang diderita oleh istrinya itu.