Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Bucin


__ADS_3

Hari ini sudah Empat hari semenjak mereka menjejakkan kaki di Bandung Utara. Lintang tidak sekali pun jauh dari Willy. Willy akan membawanya pergi kemana pun. Seperti saat ini, Willy mengajak Lintang untuk ikut serta bersamanya, menghadiri acara makan siang bersama para pihak yang terkait dengan pembangunan proyek ini.


Emilie memandang kemesraan keduanya dengan kesal. Ia kesal sedetik pun ia tidak bisa mencoba dekat dengan Willy. Willy juga seperti sudah benar-benar mengunci rapat hatinya untuk Lintang.


"Besok hari terakhir kami berada di sini. Saya setuju dengan semua yang sudah kita bahas hari ini." Ujar Willy pada semua yang hadir.


Semua yang ada di sana mengangguk paham dengan apa yang Willy katakan. Tadinya, Willy menargetkan akan berada di Bandung Utara selama satu minggu namun, nyata cukup selama empat hari ia bisa dengan lega meninggalkan proyek ini.


"Bagaimana dengan Nona Emilie?" Salah satu yang hadir di tengah mereka mengalihkan pandangannya pada Emilie.


"Saya juga sepakat dengan apa yang Tuan Willy katakan barusan." Sahut Emilie. Ia juga tidak lagi bersemangat untuk berada lebih lama lagi di tempat ini.


"Kalau tidak ada lagi yang akan dibahas, saya permisi." Emilie berdiri lalu meninggalkan semua yang ada di sana dengan lesu. Ia merasa sangat bodoh, membiarkan matanya menyaksikan kemesraan antara Willy dan Lintang barusan.


Lintang juga tidak mau ambil pusing. Ia juga sedikit kesal melihat Emilie yang nampak sekali mencari-cari kesempatan untuk selalu dekat dengan suaminya.


"Kau mau kembali ke penginapan?" Tanya Willy sedikit berbisik.


"Aku ingin jalan-jalan Kak." Lintang menjawab dengan ragu. Ia memang ingin mengujungi tempat-tempat istimewa yang ada di Bandung. Namun, ia takut nanti Willy tidak memiliki waktu untuk mengajaknya.


"Ayo, kita jalan-jalan." Kata Willy membuat Lintang menarik segaris senyum di bibirnya.


Mereka pun akhirnya berpamitan dan mulai menyusuri tempat-tempat indah yang ada di Bandung Utara. Awalnya mereka pergi ke curug cimahi. Lintang senang sekali. Lalu berwisata juga ketempat lainnya dan kini mereka berada di Dago Tea hause. Willy dan Lintang sedang menikmati kuliner yang ada di sana.


"Kau suka?" Tanya Willy sambil menatap istrinya yang mulai kelelahan namun masih nampak bersemangat.

__ADS_1


"Suka sekali, Kak. Terima kasih suamiku sudah mengajakku ke tempat indah ini." Lintang memberi kecupan di pipi Willy.


"Aku akan melakukan apapun untuk menjaga agar senyummu selalu ada." Sahut Willy.


Keduanya terlihat sangat bahagia. Lintang merasa Willy begitu mencintainya. Ia ingin seperti ini terus. Semoga tidak ada yang berubah nantinya. Karena ia tetap saja memiliki ketakutan akan ditinggalkan karena perempuan lain.


"Kak.." Panggil Lintang.


"Ya, Lin."


"Jangan pernah berubah." Kata Lintang sambil menunduk dalam. Willy berdiri lalu berpindah tempat duduk di samping istrinya.


"Tidak akan. Selamanya akan seperti ini." Ia merangkul Lintang.


"Kau masih ragu?" Tanya Willy lagi.


"Tidak Kak, aku percaya padamu." Sahut Lintang, Ia melingkarkan tangannya di perut atletis suaminya itu.


"Jangan pernah ragu. Aku mencintaimu. Itulah perasaanku." Kata Willy lalu ia mengecup kening Lintang perlahan.


Lintang bahagia dan menutup sore terakhir di Bandung Utara itu dengan perasaan berbunga-bunga di hatinya.


...****************...


Willy dan Lintang juga Setya mengunjungi proyek pembangunan yang masih berjalan di pagi terakhir mereka berada di sana. Ia puas melihat pembangunan yang berjalan lancar dan kalau para pekerja bekerja dengan cepat dan giat menyelesaikannya, dalam waktu beberapa bulan ke depan tempat itu akan rampung dan akan di resmikan.

__ADS_1


Dan kini mereka telah di dalam mobil yang akan membawa mereka ke Jakarta. Di tengah perjalanan, Lintang meminta untuk berhenti di pinggir jalan. Lintang keluar diikuti Willy yang khawatir pada istrinya itu.


Lintang mengeluarkan seluruh isi perutnya. Ia telah muntah beberapa kali pagi ini. Kepalanya pusing, juga terasa lemas setelah muntah-muntah tadi. Lintang berbaring di pangkuan Willy yang tengah mengusap kening kepalanya.


"Aku tidak tega melihatmu seperti ini." Begitu kata Willy seraya mengusap lembut perut istrinya.


"Tidak apa Kak, itulah kodrat perempuan dan aku senang bisa mengandung anakmu." Sahut Lintang sambil tersenyum.


"Tapi kau jadi sakit dan kelelahan seperti ini." Balas Willy lagi. Ia benar-benar takut.


"Ini tidak sebanding dengan kebahagiaan yang sudah kudapatkan, Kak." Ujar Lintang sambil menaruh telapak tangannya diatas tangan Willy yang tengah berada di atas perutnya.


"Terima kasih ya, atas semua pengorbanan mu selama ini." Kata Willy lalu ia mengecup bibir Lintang sekilas. " Tidurlah, perjalanan kita masih cukup jauh." Tambah Willy lagi dan Lintang mengangguk patuh. Ia tertidur pulas di pangkuan suami yang mencintainya itu.


Setya menyaksikan pemandangan indah dari atasan dan istrinya itu lewat kaca beberapa kali. Ia tersenyum, ingatannya kembali saat Willy pertama kali datang ke perusahaan dengan sikapnya yang dingin juga angkuh. Semua orang tunduk dan takluk pada sosok nya yang berkharisma namun penuh perhitungan. Lelaki dingin yang berwibawa itu kini menghangat seiring berjalannya waktu.


Willy juga nampak terpejam. Ia menikmati sepanjang jalan pulang bersama istri kesayangannya. Willy ingin menjaga semua yang ada pada Lintang dengan baik. Ia mengelus perut istrinya yang terasa mulai sedikit membesar sedikit.


"Hey anak pintar, kau aktif sekali ya sampai bunda jadi muntah terus." Willy terkekeh seolah ia sedang berbicara dengan anaknya. "Ayah berjanji akan menjagamu dan Bunda. Anak ayah jangan nakal ya, baik-baik di dalam sana." Lanjut Willy serasa mengusap perut istrinya itu.


Lalu ia mulai memejamkan matanya lagi. Willy menikmati perjalanan kerja ini sekaligus menikmati kebersamaannya dengan Lintang yang tak kunjung hilang. Tidak Tidak, ia memang menginginkan kemesraan ini tidak cepat berlalu. Willy ingin selamanya begini. Mesra juga menyayangi cinta sejatinya.


Willy mengamati mata yang sedang terpejam itu dengan seksama. Istrinya kini nampak lebih cantik. Kehamilan membuat dirinya lebih beraura. Lintang terlihat bercahaya kontras dengan sikapnya yang lembut keibuan.


"Bersamamu, semuanya jadi terasa lebih indah dan menyenangkan. Aku sepertinya sudah mencintaimu dengan sempurna dan terlalu dalam." Lirih dibisiknya kata-kata itu tepat di telinga Lintang yang masih terbuai dalam tidur. Willy mengusap bibir ranum itu dengan tatapan candu dari waktu ke waktu. Betapa kini Willy mengagumi Lintang dari segala arah. Ia seperti budak cinta yang akan melihat pasangannya sempurna tanpa cela. Nampaknya ia harus benar-benar percaya, jatuh cinta memang membuat orang bisa sedikit gila. Ia mengubah yang tadinya tidak baik menjadi sangat baik, dari yang tadinya benci jadi cinta setengah mati. Ya, mungkin memang benar begitu.

__ADS_1


__ADS_2