
Tepat satu minggu sebelum hari perkiraan lahir, Lintang merasa perutnya mengencang. Terasa amat nyeri tak tertahankan. Ia yang saat itu tengah berada di dapur bersama para pelayan sontak merasa tubuhnya kesakitan. Lintang setengah menjerit menahan rasa sakit yang menjalar dari perut hingga ke sekujur tubuh. Para Pelayan jadi meninggalkan pekerjaan, mereka sibuk membantu Lintang berdiri.
"Lintang, kenapa? aduh cepat bawa ke sofa cepat." Miranti yang baru saja tiba di dapur seketika merasa cemas luar biasa. Lintang mengaduh kesakitan. Ada sesuatu mengalir hangat dari sela pahanya. Miranti terbelalak.
"Aduh, sakit Ma." Lintang menekan perutnya. Terasa tulangnya lemas, seluruh tubuhnya terutama bagian rahimnya nyeri luar biasa.
"Ketubannya, ketubannya. Lin, kau akan segera melahirkan. Panggil Mang Ujang, kita ke rumah sakit sekarang." Miranti tetap berusaha tenang meski ia sendiri panik.
"Ma, Kak Willy." Lintang tidak sanggup lagi meneruskan perkataannya. Miranti mengerti apa yang sedang diinginkan Lintang.
"Tenanglah, Lin. Mama akan menelponnya. Sekarang mama akan bantu kamu ya, kamu tarik nafas. Rileks, Lin." Miranti tetap berusaha setenang mungkin. Ia memerintahkan Mbok Nah mengambil pembalut untuk menahan sisa cairan ketuban juga menghalau cairan itu berceceran di lantai. Sementara pelayan lain mulai membersihkan cairan yang sudah keluar agar tidak mengakibatkan cidera bagi yang melewatinya. Setelah dipasangkan pembalut, Lintang di papah menuju mobil. Mereka bergegas menuju rumah sakit.
Dalam perjalanan, Mama menggosok punggung juga perut menantunya dengan lembut. Lintang wanita yang kuat, ia tetap berusaha tenang dan menahan kontraksi yang semakin kuat menjalar ke seluruh tubuhnya.
Mang Ujang berusaha secepat mungkin untuk sampai di rumah sakit. Jalanan kali ini lenggang, tidak terlalu macet jadi mempermudah ia mengakses jalan menuju tempat tujuan mereka.
Willy sedang meeting dengan beberapa kolega saat Setya datang membawakan ponselnya. Ia menyerahkan ponsel itu pada Willy yang masih berada di depan.
"Tuan, anda harus menerima telepon ini penting." Setya berkata hormat. Willy segera berbicara kepada penelepon yang ternyata adalah Mamanya.
"Will, pulang sekarang susul Mama di rumah sakit. Lintang akan segera melahirkan."
Willy tersentak ia segera mematikan sambungan telepon. Bergegas ia masuk kembali ke ruang meeting.
"Maaf Tuan-Tuan, saya serahkan meeting ini pada asisten saya. Saya harus segera ke rumah sakit sekarang, istri saya akan segera melahirkan." Willy membungkukkan badannya lalu secepat mungkin keluar dari ruangan yang kini telah diambil alih oleh asistennya itu.
Di dalam mobil, Willy berusaha menenangkan diri. Ia harus tenang karena kalau ia panik, ia jadi tidak fokus untuk menyetir. Willy melajukan mobilnya dengan cepat, luwes juga lihai. Ia tidak sabar ingin segera sampai ke rumah sakit dan mendampingi Lintang untuk melahirkan anak mereka.
__ADS_1
"Lintang, bertahanlah sayang. Aku segera datang." Gumamnya dalam hati. Ia tetap menyetir mengarahkan mobilnya ke rumah sakit dengan cepat tetapi dengan hati-hati.
...****************...
Willy sampai di rumah sakit. Setengah berlari ia naik dan masuk ke dalam lift dan menyusuri koridor menuju ruangan dimana istrinya tengah berbaring menahan sakit.
"Will, cepat masuk, Lintang membutuhkanmu." Mamanya menyambut dan segera memerintahkan anaknya itu untuk masuk ke dalam ruangan.
Lintang nampak tersenyum meski ia sedang menahan sakit yang teramat sangat. Ia memaksakan diri untuk tetap terlihat baik-baik saja agar Willy tidak terlalu cemas.
"Sayang, maafkan aku terlambat." Willy segera meraih jemari istrinya, menggenggamnya erat lalu menciumnya berulang-ulang.
"Tidak apa, Kak. Anak kita menanti kedatangan mu." Sahut Lintang sembari mengerang. Willy semakin mendekatkan dirinya, ia mencium kening istrinya berusaha memberi kekuatan pada pelita hatinya itu.
"Sayang, aku sangat mencintaimu, berusahalah untuk melahirkan dengan baik ya." Willy hampir menangis saat ia mengatakannya. Ia tahu, nyawa istrinya jadi taruhan.
"Dokter, bisakah aku melahirkannya sekarang? aku sudah tidak kuat." Lirih Lintang. Willy meneteskan airmatanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya yang tengah dirasakan Lintang saat ini.
"Kita tunggu beberapa pembukaan lagi, Nona. Akan berbahaya jika kita memaksanya keluar saat ini." Dokter menyarankan Lintang untuk tetap bersabar.
Willy mengusap kening Lintang yang telah dibanjiri keringat. Terasa tangan mungil istrinya bergetar. Lintang menatap Willy lama, ia menyentuh wajah lelaki itu dengan jemarinya. Menghapus airmata Willy yang keluar perlahan.
"Aku akan berjuang untuk anak kita, Kak." Lirih Lintang lagi. Willy mengangguk, ia menciumi istrinya berulang kali. Saat ini ia panik, cemas, juga takut namun ia harus tetap menenangkan Lintang.
"Dokter, aku tidak kuat lagi, aku rasanya ingin mengedan." Lintang menjerit tertahan. Jemarinya semakin kuat menggenggam Willy.
Dokter kembali datang, ia kembali memeriksa pembukaan. Ia tahu Lintang sudah tidak tahan lagi namun pembukaan belum sempurna. Tapi jika tidak segera dilakukan tindakan, maka mereka akan kehilangan kedua-duanya. Maka dengan perjuangan juga semangat yang diberikan Willy juga dokter dan perawat, Lintang berusaha melahirkan sesuai instruksi.
__ADS_1
Sudah hampir tiga puluh menit Lintang mengedan, berusaha melahirkan anaknya. Keringat membanjiri seluruh wajahnya. Willy tidak henti membisikkan kalimat menenangkan, menguatkan pegangan. Namun saat sedang mengedan lagi, tiba-tiba Lintang lemas. Ia kehilangan tenaga. Ia terlalu keras berusaha. Willy panik, memanggil namanya berulang kali.
"Bangun sayang, bangun. Kau harus tetap kuat demi anak kita." Airmata membanjiri pipinya.
"Kak..." Lirih Lintang tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dokter segera memerintahkan perawat memasang infus secepat mungkin. Kondisi pasiennya gawat.
Pandangan Lintang yang tadinya mengkabur, kini mulai perlahan kembali terang. Ia melihat sekeliling berusaha mengembalikan tenaganya.
"Kita lakukan operasi saja, resikonya besar jika memaksa melahirkan normal." Samar-samar terdengar dokter ingin mengubah metode melahirkan.
"Lakukan apa saja, Dok. Selamatkan istri juga anakku." Willy menyetujuinya namun, suara Lintang kembali terdengar. Lirih namun terdengar mantap penuh keyakinan.
"Aku ingin normal. Dokter ayo kita lanjutkan."
"Nona Lintang.. "
"Aku ingin melahirkannya normal." Lintang kembali bersuara, ia menatap dokter dengan memohon.
"Sayang, tidak apa kau sudah lemah. Kita harus segera mengeluarkannya." Bujuk Willy lembut. Ia meraih kembali jemari istrinya itu.
"Tidak, Kak. Aku ingin segera melahirkannya disini." Lintang bersikeras. Dokter menatap Willy meminta persetujuan. Akhirnya Willy mengangguk.
"Berjuanglah, sayangku." Kecupnya pada Lintang.
Lintang kembali mengedan, ia mengerahkan seluruh tenaganya. Mengikuti saran dokter untuk istirahat sesaat menarik nafas lalu mulai mengedan lagi. Di sisa-sisa tenaganya, Ia mengedan sekuat tenaga membuat bayi mungil itu akhirnya keluar diiringi tangisan melengking jagoan kecil itu. Dokter secepat mungkin mengeluarkan bayi, menyerahkannya kepada Lintang dan Willy yang segera menyambutnya haru. Lintang tidak lagi merasa kesakitan, bayinya sehat, putih, lucu, gembul. Ia laki-laki. Tampan seperti ayahnya.
Miranti menghambur masuk ke dalam dan memeluk menantu juga putranya berulang-ulang. Mengucapkan selamat berulang kali. Saat bayi itu kembali diserahkan kepada perawat untuk dibersihkan, Willy meraih Lintang, memeluknya erat dengan airmata yang sudah banjir.
__ADS_1
"Sayang, terima kasih telah berjuang melahirkan bayi kita." Bisiknya tepat di telinga Lintang.