Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
39. Serba Salah


__ADS_3

Willy membuka apartementnya segera, ia berharap menemukan Lintang. Namun yang ia temukan hanya lah ruangan kosong juga sarapan lengkap dengan susu madu yang telah terhidang di meja makan. Willy menghela nafas berat. Karena tidak menemukan Lintang, Ia memutuskan untuk mandi saja membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia segera ke meja makan dan segera menghabiskan makanannya. Willy rindu pada Lintang yang baru semalam tidak dijumpainya itu.


Willy menyentuh layar ponselnya, kemudian ia menghubungi asistennya. Terdengar sambungan teleponnya disambut. Suara Setya yang penuh hormat terdengar.


"Batalkan semua pertemuan meeting hari ini. Atur situasi di perusahaan sebaik mungkin." Perintahnya pada asistennya itu.


"Baik Tuan, akan segera saya laksanakan." Setya menyahut hormat dan patuh.


Willy mematikan sambungan telepon, ia mulai mencari kontak telepon rumah Ibunya, lalu kembali membuat sambungan telepon yang segera di sambut oleh pelayan.


"Panggilkan Mama, aku ingin bicara." Perintahnya pada Asri, salah satu pelayan di rumah induk yang kebetulan mengangkat teleponnya itu. Setelah beberapa saat menunggu, suara ibunya yang anggun terdengar. Willy tersenyum.


"Tumben kamu telepon. Ada apa, Nak?" Tanya Miranti.


"Hmmm ... Mama tahu Lintang suka apa?" Willy bertanya ragu pada ibunya.


"Lintang suka sama kamu." Mamanya malah bercanda. Membuat Willy gemas.


"Ma please. Aku serius." Ujar Willy membuat Ibunya segera berhenti tertawa namun tetap dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


"Ajaklah dia ke toko roti terkenal langganan kita. Dulu, Mama dan Lintang sering menghabiskan waktu berjam-jam di sana untuk menikmati roti yang baru saja selesai diproduksi dan mengobrol sambil minum kopi." Sahut Mamanya kemudian.


"Lintang suka minum kopi?" Willy mengerutkan keningnya, karena sekalipun ia tidak pernah melihat istrinya itu minum kopi.


"Itu kan bahasa kerennya Will, gimana sih kamu. Lintang gak suka kopi tapi dia pesan minuman lain. Pokoknya kamu ajak lah dia ke sana, Lintang pasti suka." Balas Ibunya lagi, Willy akhirnya mengangguk. Tadinya Willy pikir Ibunya akan mengatakan bahwa Lintang menyukai perhiasan atau benda mahal lainnya namun tebakannya meleset jauh bahkan sangat jauh dari pemikirannya.


Baiklah, ia telah membatalkan semua pertemuan dan juga telah menurunkan harga diri dengan bertanya pada Ibunya tentang kesukaan istrinya itu hanya karena ia rindu pada Lintang. Willy bergegas menyelesaikan makannya lalu mengirim pesan kepada istrinya untuk tetap menunggu di kampus sampai ia tiba kelak.


Pesan itu telah dibaca, lalu ia mendapat balasan patuh dari istrinya itu. Willy tersenyum, tak sabar untuk segera bertemu Lintang.


...****************...


Pukul dua siang akhirnya Willy telah sampai dan menunggu Lintang dari dalam mobil. Ia menemukan istri cantiknya dengan kemeja putih dengan sedikit aksen motif yang pas di tubuhnya juga bawahan celana jeans panjang yang membentuk kaki jenjang dan bagian belakangnya yang sintal. Lintang berjalan menuju mobil suaminya menunggu, sebagian mahasiswa dan mahasiswi menatap iri pada dirinya yang dianggap beruntung itu.


"Maaf Kak, tadi dosennya memberi kelas tambahan." Jawab Lintang. Ia juga mengangkat tangannya untuk menguncir rambut panjangnya. Membuat sesuatu tampak lebih menonjol di balik kemejanya. Willy menahan gejolak yang tiba-tiba terbakar.


Sial ! Kenapa kau mudah sekali bangun hanya dengan melihat Lintang. Batinnya kesal pada benda keramat dibalik celana.


Willy menyalakan mesin mobil, ia juga menyalakan musik yang langsung memutar lagu. Terdengar alunan merdu suara penyanyi grup band ternama Indonesia. Lagi berjudul Takkan Pernah Ada milik Geisha itu menemani perjalanan mereka yang hening. Namun tiba-tiba Lintang tersadar satu hal.

__ADS_1


"Kak Willy gak ke kantor?" Tanya Lintang setelah ia melihat pakaian yang dikenakan suaminya terkesan santai.


"Aku ingin bersamamu hari ini." Willy menjawab sambil tetap fokus menyetir. Lintang tertunduk mendengarnya. Ia ingin bertanya kemana Willy semalam, tapi ia ragu. Namun, hati kecilnya terus mendesak agar ia menanyakan hal itu.


"Kak, tidur dimana semalam?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.


Willy melihat Lintang, ia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa semalam Ia tidur dengan perempuan yang memeluknya. Tidak mungkin ia mengatakan ia sempat terbuai dan berciuman dengan Emilie. Tidak mungkin.


"Ehmm.. aku harus kembali ke perusahaan semalam. Ada masalah dan aku harus datang mengeceknya." Willy terpaksa berbohong. Lintang tidak menanyakan apapun lagi setelah itu. Ia ikut dan pasrah akan dibawa kemanapun oleh suaminya.


Lintang tersenyum sumringah melihat mobil Willy berhenti di toko roti terkenal langganan Ibu Mertuanya. Di tempat ini dulu Lintang sering menghabiskan waktu bersama Ibu Mertuanya. Willy melihat itu, senyuman yang membuat bibirnya beku. Benar kata Ibunya, Lintang akan sangat senang ketika tiba di tempat itu.


"Waahh Kak Willy mengajak Lintang kesini?" Tanya Lintang dengan mata penuh binar bahagia. "Ayo Kak, kita turun. Lintang tidak sabar ingin ke dalam." Lanjut Lintang yang segera membuka pintu mobil. Ia segera berlari kecil menuju tempat itu. Sudah lama ia tidak mengunjungi tempat ini. Willy mengikutinya dari belakang.


Lintang segera memesan roti andalan tempat itu lalu memesan minuman mocca float kesukaannya. Willy juga memesan makanan yang sama. Mereka mengambil tempat duduk di sudut dekat dengan jendela, tempat favorit Lintang. Willy mengikuti saja semua kemauan Lintang, jujur ia senang sekali mendapati wajah itu tertawa dan tersenyum. Willy merasa ada yang mulai aneh dengan hatinya.


"Kak, makasih ya." Ujar Lintang sambil tersenyum. Willy membalas senyumnya dengan senyuman kecil kemudian meraih jari jemari Lintang lalu menggenggamnya. Cukup lama, namun keduanya segera tersadar. Willy menarik tangannya cepat. Lintang memalingkan wajahnya yang telah bersemu merah. Namun di detik berikutnya ia kembali murung kala teringat kepergian Willy semalaman hingga tidak pulang.


Jujur sebenarnya ia sama sekali tidak percaya dengan alasan yang Willy berikan. Namun, lagi-lagi ia harus menyadari siapa lah dirinya ini. Hanya seorang budak berlabel kan istri yang di nikahi Willy karena terpaksa. Tapi, mengapa saat ini Willy jauh berubah. Ia tidak lagi kasar, tidak juga terlalu dingin seperti dulu apalagi saat ini Willy mengajaknya ke tempat favorit Ia dan Ibu Mertua. Lintang dibuat bingung oleh lelaki ini. Ia mendesah pelan. Ingin meminta kejelasan, namun lagi-lagi hatinya melarang.

__ADS_1


Sudahlah, terima saja lah kenyataan. Kau itu cuma budak. Jangan pernah bermimpi akan menjadi istri sesungguhnya Lelaki ini. Ingat, jangan terbuai terlalu dalam.


Hatinya kembali berperang, mencoba menyadarkan Lintang agar tidak menyesal di kemudian hari. Lintang terdiam. Ia memilih menikmati roti lembut kesukaannya yang telah datang. Namun, Willy sering sekali melihat dirinya dengan begitu intens. Membuat Lintang jadi tambah serba salah.


__ADS_2