
Malam itu saat waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam, seluruh keluarga besar Dwianuarta Group telah berada di meja makan untuk menikmati jamuan makan malam dan juga sekaligus membicarakan tentang acara pernikahan antara pewaris utama yaitu William dan juga Lintang tentunya.
Acara makan malam tersebut diadakan di taman belakang rumah induk. Semua anak dan cucu dari Franky sudah berkumpul. Franky memiliki tiga orang anak yang yang dua diantaranya adalah wanita. Cucunya dua laki-laki dan tiga perempuan. William dan juga sepupunya Zacky Dwianuarta adalah cucu lelaki dari Franky dan keduanya hanya berbeda berapa tahun saja. Zacky dan William tidak terlalu dekat, malah bisa dibilang keduanya tidak akrab. Zacky adalah pribadi yang hangat dan ramah sedangkan William terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tidak mudah menyapa orang lain.
Saat mereka sudah berkumpul, kursi yang disediakan masih kosong satu. Miranti, ibu Willy menyadari Lintang belum hadir diantara mereka. Willy tampak tidak antusias dengan acara jamuan makan malam ini. Namun, demi menghormati ibu dan keluarga besarnya mau tidak mau ia tetap memaksakan diri untuk tetap berada di sana. Setelah beberapa saat menunggu, Dari arah samping Lintang muncul dengan dress putih yang pas sekali di tubuhnya juga rambut yang ia bentuk sedemikian rupa membuatnya tampak berbeda malam ini.
Sejenak Willy terpesona dengan penampilan gadis itu namun, di detik berikutnya ia melengos membuang muka mengembalikan kebenciannya akan Lintang. Miranti menyambut Lintang hangat begitu juga ayah Willy. Sementara Zacky tidak sedikit pun melepas pandangannya dari gadis itu.
"Kak Lintang cantik banget ya, Kak." bisik Audy, adik Zacky yang duduk di samping kakaknya itu. Zacky tidak menjawab ia hanya mengangguk pelan menyetujui perkataan adiknya tersebut.
"Selamat malam semuanya, malam ini sengaja kita dikumpulkan dalam acara jamuan makan malam yang mana juga akan menjadi acara untuk menentukan tanggal dan hari pernikahan untuk Willy dan juga Lintang." Ricky membuka acara itu dengan penuh kegembiraan. Semua menyambut hangat rencana itu kecuali Willy yang sama sekali tidak terlihat senang. Lintang pun sebenarnya merasakan hal yang sama, namun ia tetap memaksakan senyum terbaiknya untuk menghormati semua yang ada di meja makan saat ini.
"Dan acara pernikahan ini akan kita langsungkan dua minggu lagi. Untuk Lintang sudah setuju bukan?" Ricky mengalihkan pandangannya, Lintang hanya mengangguk pelan, ia tunduk dalam kepasrahan. Willy memandang Lintang tajam.
__ADS_1
Setelah perbincangan kekeluargaan itu terjadi mereka mulai acara makan malam. Lintang sesekali mencuri pandang pada Willy yang sedang asyik menyantap makanannya. Ia menghela nafas berat, membayangkan akan begitu sulitnya nanti ia menghadapi sikap Willy yang dingin dan juga keras kepala.
Akhirnya setelah selesai dari acara makan malam itu, Lintang memutuskan untuk duduk di kursi taman belakang. Matanya menengadah ke langit, menatap hamparan bintang-bintang. Ia mencoba menemukan bayangan keluarganya yang telah pergi ke atas sana.
Ada kerinduan pada ibunya saat ini. Kalau saja Lintang tidak mengenal keluarga besar Dwianuarta, tentu saat ini ia telah terlunta-lunta hidup di jalanan. Karena kebaikan yang sudah begitu banyak diberikan oleh keluarga itulah yang membuatnya tidak kuasa menolak permintaan terakhir kakek Franky.
Di tengah lamunannya saat ini, seseorang ikut duduk di sampingnya. Zacky menatap Lintang penuh kehangatan. Zacky memang jarang ke rumah induk yang megah dan besar milik kakeknya itu, namun ia mengenal Lintang sudah cukup lama. Kini ia menyadari Lintang telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan juga sederhana. Zacky menoleh, melihat Lintang dari samping yang tampak natural dengan hiasan make up tipisnya.
"Udah lama gue gak lihat lo, lo sudah tumbuh dengan baik ya." ujar Zacky sambil tersenyum. Lintang menoleh, ia melihat Zacky sedang menatap dirinya. Ia menyunggingkan senyum kecil untuk lelaki yang lebih tua tujuh tahun darinya ini
"Maksud gue, lo semakin dewasa dan cantik." sahut zacky sambil tertawa hangat. Lintang tersipu malu mendengarnya. Ah andai saja Zacky yang akan menjadi calon suaminya tentu ia akan merasa sangat bahagia saat ini. Pikirnya dalam hati. Namun ia segera menggeleng, menepis pikirannya sendiri. Mana mungkin Zacky mau menikahinya yang hanya anak seorang pembantu ini. Lagipula, pernikahannya dengan Willy juga bukan karena keinginan lelaki itu tetapi karena perintah yang tidak bisa dibantah.
" Jujur, gue sama sekali gak nyangka bahwa Kakek akan nikahin lo sama sepupu gue itu." ujar Zacky lagi, membuat Lintang agak terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Iya kak, aku juga tidak menyangka. Kakak pasti tidak setuju dengan permintaan Kakek ya karena aku harus menikah dengan Tuan Willy." sahut Lintang lirih. Iya, tentu saja ia seperti orang yang tidak tahu diri. Orang-orang pasti mengutuk dirinya karena bisa menikah dengan pewaris utama Dwianuarta Group tersebut.
"Gue emang nggak setuju sih. Tapi kalo yang dijodohin itu gue sama Lo, kayaknya gue nggak bakal nolak." Zacky menimpali Lintang dengan tertawa kecil. Lintang tersentak mendengarnya, antara senang dan juga tidak percaya disaat bersamaan.
"Kakak ini ada-ada aja. Mana ada sih Kak, orang yang mau menikahi pembantu kayak aku. Kalau bukan karena Kakek, Tuan Willy juga pasti tidak mau menikahiku." balas Lintang dengan tawa juga.
"Gue mau kok." sahut Zacky. Lagi-lagi ia menatap Lintang lembut. Gadis itu secepat mungkin menoleh untuk menyembunyikan wajahnya yang telah bersemu merah. Zacky tersenyum senang melihat gadis itu. Tidak lama kemudian, Audy terdengar berseru, memanggil kakaknya untuk segera pulang. Zacky akhirnya berdiri tapi sebelum beranjak, ia sempat mengatakan sesuatu yang membuat Lintang tidak mengerti.
"Nanti kalo dia jahat sama lo, lo kasih tau gue ya. Biar gue bikin bonyok mukanya." ujar Zacky serius kemudian ia berlalu meninggalkan Lintang yang masih berusaha mengartikan kata-kata barusan.
Di ujung taman dilihatnya Zacky telah merangkul adiknya lalu mereka hilang dari pandangan Lintang yang masih terpaku. Ia tidak mengerti apa arti kalimat Zacky barusan. Tapi, lelaki itu nampak bersungguh-sungguh saat mengucapkannya.
Dari kejauhan tanpa Lintang sadari, Willy memandangnya tanpa berkedip untuk waktu yang cukup lama. Dengan rokok di tangannya yang masih mengepul, ia nampak bersender. Dilihatnya Lintang sedang berjalan menuju rumah mungil yang dibuatkan Kakek untuk gadis itu. Diam-diam ia mengikuti Lintang, menunggu agak lama sebelum akhirnya ikut masuk kedalam pintu yang tidak dikunci oleh Lintang. Ia membuka pintu kamar dengan Lintang yang akan mengganti gaun tadi dengan baju tidur yang akan dikenakannya malam ini.
__ADS_1
Kemudian mengunci kamar itu, lalu menghampiri Lintang yang mulai ketakutan menatap kearah dirinya. Pemandangan yang membuat Willy tidak akan bosan mempermainkan gadis itu.