Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Mood


__ADS_3

Memasuki Minggu semakin dekatnya dengan persalinan, Lintang merasa tubuhnya semakin sulit untuk bergerak. Nafsu makannya banyak berkurang, kalau sebelumnya ia bisa makan lebih banyak tapi kini malah sebaliknya.


Moodnya juga jadi naik turun. Lintang kadang suka gugup berlebihan. Entah mengapa bayang-bayang melahirkan yang menyakitkan sering terlintas di kepalanya. Ia sudah tidak bernafsu makan juga sangat sulit bergerak kini. Sedikit saja bergerak, perut bagian bawah akan terasa sakit.


Seperti saat ini, ketika sedang duduk di dekat jendela kamar. Lintang tampak termenung. Willy menghampiri istrinya itu.


"Kenapa Bun, ada yang mengganjal di hatimu?" Tanya suaminya penuh perhatian.


"Aku takut sekali Yah." Desah Lintang dengan wajah cemas.


"Apa yang kau takutkan, sayang?" Tanya Willy lagi sambil mengelus rambut istrinya.


"Aku takut sekali tidak bisa melahirkan normal."


"Serahkan semuanya pada Tuhan ya Bun, semoga nanti bunda diberi kekuatan untuk melahirkan normal seperti kemarin." Willy mengambil kursi, ia duduk di depan Lintang.


"Kemarin aku hanya mengeluarkan satu anak, sekarang ada dua. Aku takut sekali tidak bisa melakukan yang terbaik." Keluh Lintang dengan airmata yang sudah siap turun.


"Hey, jangan berpikiran begitu sayangku, yakinlah semua akan baik-baik saja."


Lintang menengadah, menatap Willy saksama. Lalu mengangguk pelan.


"Besok kita konsultasi lagi ya, agar istriku bisa bertanya banyak hal lagi sama dokter." Lanjut Willy dengan jemari yang sudah mengelus pipi istrinya. Lintang mengangguk pasrah, menyetujui segala titah suaminya.


Besok keduanya memang berangkat ke rumah sakit. Mereka akan konsultasi lagi. Willy khawatir melihat istrinya yang sering dilanda kecemasan.


"Dokter, apa saya bisa melahirkan normal seperti kemarin?" Tanya Lintang langsung saat dokter tengah memeriksa kandungannya.

__ADS_1


"Kemungkinan melahirkan normal pasti ada, Nona. Meskipun anda sedang mengandung anak kembar, namun proses melahirkan normal tetap bisa saja terjadi. Semoga nanti posisi kepala bayinya bagus ya." Jawab dokter, melegakan hati Lintang.


"Saya sering dilanda kekhawatiran berlebihan akhir-akhir ini. Saya takut sekali tidak bisa melahirkan dengan baik nanti." Keluh Lintang menumpahkan uneg-unegnya.


Dokter tersenyum menanggapinya.


"Banyak berdoa ya Nona, banyak berserah. Yakinkan saja Tuhan akan membantu proses persalinan nanti dengan lancar. Nona hanya perlu menenangkan diri, banyak beristirahat juga ya. Mengingat, kehamilan kali ini istimewa saya juga ingin mengatakan kepada kalian bahwa persalinan lebih cepat biasanya akan terjadi. Ada kemungkinan belum sampai umur kandungan 38 Minggu, persalinan akan terjadi. Jadi kalian harus bersiap ya. Persiapkan segala keperluan bayi juga mental dan fisik tentunya." Jelas dokter dengan tenang.


"Kenapa bisa begitu ya dok?" Kini Willy yang bertanya.


"Kembali lagi, Tuan, mengingat bayinya kembar maka bobot dari kedua bayi ini akan menekan leher rahim lebih berat. Itulah yang memicu kelahiran lebih awal."


Willy dan Lintang akhirnya mengangguk paham. Mereka kemudian memutuskan untuk pulang. Hati Lintang sudah lumayan tenang dari kemarin. Willy senantiasa mendampinginya dalam segala situasi.


"Sampai hari ini kalau menurut dokter, posisi bayi-bayi kita sudah bagus Yah, aku berharap banget bisa melahirkan normal lagi." Ujar Lintang dengan binar bahagianya.


Lintang mengangguk-angguk paham. Ia sekarang jauh lebih lega dari kemarin meskipun rasa khawatir itu masih ada tapi setidaknya, setelah mendengar penjelasan yang dokter berikan tadi ia jadi lebih bisa memahami kondisinya sendiri saat ini.


Keduanya berjalan pelan meninggalkan rumah sakit. Lintang tidak bisa berjalan cepat, kondisi perutnya yang sangat besar itu membuatnya tidak leluasa bergerak. Ia juga jadi cepat lelah. Willy senantiasa sabar mendampinginya. Ia juga selalu berusaha menyeimbangkan jalan istrinya yang sekarang melambat. Tak apa baginya, asal Lintang dan kandungannya sehat itu lebih dari cukup.


"Pelan-pelan saja jalannya sayang." Ujar Willy di sisi Lintang. Lintang tersenyum.


"Aku susah sekali bergerak sekarang Yah, kalau tidur juga gak bisa telentang lama, punggungku rasanya remuk jika terlalu lama telentang."


Willy merengkuh pundak Lintang, ia tahu saat ini masa-masa sulit yang harus dihadapi istrinya. Ia harus selalu bisa dan sabar menanggapi semua keluhan istri tercintanya itu. Ia juga tidak boleh emosi jika mendengar Lintang kerap mengeluh seputar kehamilannya kali ini. Lintang sudah sangat berusaha selama ini, jadi ia ingin menghargai perjuangan istrinya itu setinggi mungkin.


"Nanti pulang ke rumah, aku pijitin ya Bun, bunda pasti capek banget." Ujar Willy penuh perhatian. Lintang tersenyum dan mengangguk mendapat perhatian tulus seperti itu dari suaminya.

__ADS_1


Saat telah sampai ke rumah, setelah mengajak Al bermain sebentar, Willy kembali ke kamar, dimana Lintang tengah berbaring dan beristirahat.


Willy naik ke ranjang dengan pelan, ia mulai memijat kaki Lintang. Dengan lembut disentuhnya istrinya itu. Lintang tersenyum mendapatkan semua perhatian itu.


"Makasih ya Yah, aku senang sekali kamu perhatian." Ujar Lintang tulus. Ia menyentuh kepala Willy, mengusapnya perlahan penuh rasa sayang.


"Iya sayang, kalau bisa aku saja yang merasakan lelahnya. Kasihan istriku jadi cepat lelah begini." Willy terus memberikan pijatan lembut untuk Lintang.


"Rasa capek pun rasanya hilang Yah, kalau terus diperhatikan begini." Puji Lintang lagi kepada suaminya itu.


Setelah selesai memijat istrinya, Willy asik berbaring sambil mengajak perut Lintang bicara. Lintang mengelus rambut suaminya itu dengan lembut.


"Sayang, nanti tolong masukkan baju-baju juga keperluan bayi-bayi kita ke dalam koper ya. Aku ingat tadi dokter bilang bisa saja lahirnya jadi lebih cepat." Ingat Lintang pada Willy yang segera mengangguk.


"Iya sayang, nanti aku persiapkan semuanya ya."


Semua keperluan bayi sudah dibeli. Mengingat anak mereka kali ini kembar, maka peralatannya pun jadi lebih banyak lagi. Mama juga sudah banyak membeli peralatan bayi-bayi yang akan lahir nanti. Bisa dibilang, malah ialah yang paling banyak membelinya sebab ia sangat antusias sekali.


Ditemani papa waktu itu mereka berburu pakaian dan juga perlengkapan bayi kembar. Keduanya juga sangat bahagia.


"Cucunya kembar ya Bu?" Tanya petugas kasir saat mereka sedang membayar barang belanjaan saat itu.


"Iya mbak, cucu kedua kami." Sahut Mama senang setiap kali ada yang bertanya tentang cucu-cucunya.


Petugas kasir baby shop ternama itu tersenyum juga mendengar mereka. Pasangan suami istri yang telah menjadi kakek dan nenek itu sangat ramah pada siapapun. Mereka suka bercerita, tidak sombong membalas sapaan siapa saja meskipun mereka terkenal sebagai kalangan atas. Sikap merendah yang selalu di ajarkan Kakek Franky sejak dulu.


Kini mereka semua sedang bahagia, menanti kelahiran kembar yang tidak akan lama lagi. Al juga sekarang sudah semakin bertumbuh. Ia sudah bisa berceloteh riang. Anak sulung Lintang dan Willy itu semakin aktif dan tumbuh berkembang. Lintang mensyukuri semua nikmat ini.

__ADS_1


__ADS_2