
Willy menghempaskan tubuh Lintang di ranjang kamar hotel yang baru saja ia pesan. Ia membuka dasi lalu membuka kemejanya sendiri. Lintang hanya diam saja melihat suaminya itu. Ia tidak melakukan apapun sampai suara Willy menyadarkannya.
"Buka semua yang ada di tubuhmu." Perintah lelaki itu. Lintang tidak bergerak. Ia memalingkan muka.
Willy meraih dagu gadis itu, lalu ******* bibirnya.
"Aku bilang buka! Kau berani membantahku?" Bisik lelaki itu tepat di telinganya.
Lintang akhirnya menurut, ia mengambil posisi membelakangi Willy untuk membuka kancing kemejanya satu persatu. Willy terlihat puas menatap gadis yang bisa dikendalikannya itu. Ia membalikkan Lintang, mulai menggerayangi sekujur tubuh lintang yang pasrah namun dengan hati menjerit yang tidak bisa apa-apa. Setelah beberapa sentuhan, Lintang merasa terbuai. Ia menahan
mati-matian gejolak di dalam dadanya yang serasa ingin meledak. Willy berhenti, ia menatap Lintang yang menatapnya sayu dan sendu. Di mata yang sudah terpancing gairah itu, Willy melihat ada tatapan malu.
__ADS_1
Lintang tidak mampu membalas tatapan meremehkan lelaki itu saat Willy kembali membungkam dan ******* bibirnya berkali-kali. Suara decap bibir yang beradu, juga erangan Lintang yang tidak mampu lagi ditahan membuat Willy semakin naik ke puncak memabukkan. Ia mengutuki gadis itu, gadis yang dibencinya namun telah membuatnya begitu mencandu.
Willy tetap memacu tubuh mereka, menggilas waktu yang sudah beranjak malam. Mereka menghabiskan waktu semalaman hanya untuk bergulat di hotel. Lintang seolah lupa siapa suaminya itu. Hati Lintang menjerit dan tercabik-cabik oleh pengkhianatan yang di lakukan tubuh Lintang malam ini. Lintang sendiri terkulai lemas setelah Willy melepaskannya dan jatuh tertidur di sampingnya. Lagi, Lintang menarik selimut lalu menyelimuti suaminya yang sudah kelelahan itu. Bagaimana dirinya? jangan ditanya, karena saat ini Lintang merasa dunia telah runtuh diatas kepalanya. Ia mulai terhanyut permainan gila suami yang tidak pernah mencintainya itu.
...****************...
Willy belum tertidur. Ia masih duduk dan sibuk dengan ponselnya. Di seberangnya, Lintang sudah tertidur pulas, dengan baju tidur yang rapi melekat di tubuhnya. Satu jam yang lalu mereka telah kembali ke apartement dari hotel tempat ia melepaskan hasrat kepada istrinya itu. Willy memandang Lintang yang tertidur dengan tenang. Ia tidak bisa menghindari candu pada Lintang hingga sore tadi ia benar-benar menuntaskan hasratnya dengan menjemput istrinya itu.
Ia juga mulai mengutuki dirinya sendiri karena telah begitu bodoh dan tidak mampu melawan hasratnya kala teringat atau melihat istrinya. Willy mendekati ranjang, melihat Lintang yang masih terpejam.
Rutuknya pada benda keramat yang menempel di bagian bawah tubuhnya. Willy kembali mulai bergerak. Tangannya mulai membuka satu persatu kancing piyama Lintang. Willy membenamkan wajahnya ke belahan dada Lintang. Membuat gadis itu menggeliat namun matanya masih terpejam. Lalu Willy mulai meremasnya, awalnya pelan lalu mulai kuat. Lintang terbangun, matanya yang sayu menambah volume gairah kelelakiannya berkobar.
__ADS_1
Willy membuka piyama dress Lintang. Membuat gadis itu membuka matanya. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir mungilnya. Pertempuran panjang akan segera dimulai. Lintang membiarkan saja suaminya itu melakukan apapun yang ia mau. Ia hanya menggigit bibirnya sendiri, berusaha menekan semua penghinaan terpanjang dalam sejarah hidupnya ini. Penghinaan yang atas tubuhnya yang dilakukan lelaki dengan stempel suami. Suami yang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya kecuali benci yang terlihat nyata dalam kilatan mata bulatnya. Lintang mengerang, entah karena hasrat yang mulai terpancing hebat atau karena sakit hati yang terlanjur terukir namun terus saja ia pendam. Memangnya mau kepada siapa ia mengadu? Yang menidurinya adalah suaminya sendiri terlepas dari cinta atau tidaknya lelaki itu kepada dirinya. Mau protes? protes saja terhadap waktu yang lalu, saat kau mati-matian ingin menuntaskan janjimu pada keluarga besar itu. Hati Lintang berperang, yang satu menghujat sementara hatinya yang lain mengiba minta dimaklumi dan dipahami. Mau menolak? memangnya ia punya kuasa apa? dan lagi pergulatan itu kembali terjadi malam ini. Dengan hati yang sudah hancur berkeping-keping, Lintang melewati malam ini terasa amat panjang, menyiksa dan menyakitkan. Lintang menangisi nasibnya, ia tidak dicintai oleh suaminya namun lelaki itu masih tega memperlakukannya dengan begitu hina dan kejam. Tidakkah ia mau berbelas kasih padamu, Lintang? bisik hatinya yang sudah kalah entah sejak kapan.
...****************...
Pagi hari Lintang terbangun. Willy masih tertidur di sampingnya. Tangannya berada di atas salah satu dadanya. Lintang meletakkan tangan suaminya itu hati-hati takut itu membangunkannya. Kemudian ia membuka semua tirai, membiarkan sinar mentari saja yang nanti akan membangunkan suaminya. Lintang hari ini tidak ada kuliah. Jadi ia hanya bisa berada di dalam apartement seharian. Ia tidak bisa kemana-mana.
Lintang tapi tidak habis akal, ia akan menghabiskan waktu di dapur. Ia akan membuat kue dan memasak sesuatu seperti saat dulu masih berada di rumah induk. Lintang dan memasak memang seolah tidak bisa di pisahkan.
Saat sedang menyiapkan sarapan, ia melihat Willy telah bangun dan lelaki itu juga nampaknya sudah selesai mandi. Lintang sigap meraih kemeja dan memberikan pada suaminya itu. Lalu ia mengambil dasi dan mulai memasangkannya. Willy memperhatikan Lintang, ia menunduk menatap istri cantik yang di bencinya itu.
Kemudian ia mulai menyantap sarapan yang telah dihidangkan. Lintang sendiri memilih mandi karena ia teramat malu jika terkenang dengan apa yang telah terjadi pada mereka berdua belakangan ini. Lintang malu karena ia mulai merespon Willy di tempat tidur. Ia seolah kehilangan muka untuk bersitatap dengan lelaki itu.
__ADS_1
Lintang juga menyesali kebodohannya membiarkan ia larut dalam permainan suaminya itu. Kalau Willy melakukannya dengan cinta, itu akan lain cerita. Ini ia sama saja membenarkan panggilan kotor dari lelaki itu atas dirinya. Ia merespon semua yang di lakukan Willy ketika mereka berada di atas ranjang. Bukankah itu sama saja dengan *******?
Lintang termenung, ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Semua mengalir begitu saja. Insting kewanitaannya terlalu banyak mengambil peran saat ia mulai mengalami penyiksaan di tempat tidur bersama Willy. Ia seolah menikmati, meski beberapa kali Willy melakukannya dengan kasar. Kadang di tengah kegiatan itu Willy akan melihatnya dengan intens. Lalu ia akan mendapatkan tatapan menyeringai dan sinis di tengah pacuannya pada Lintang yang mulai melenguh seolah membenarkan ia perempuan yang mudah jika disentuh lelaki. Padahal hanya Willy lah yang telah menyentuhnya juga merenggut kesuciannya, tempat segala bentuk kehormatan dalam dirinya. Lalu, apa ia salah jika alam bawah sadarnya mulai terbuai dan merespon suaminya itu?