Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
56. Bandung Utara.


__ADS_3

Lintang membantu Willy membereskan beberapa barang yang harus mereka bawa selama berada di Bandung Utara. Hari ini ia ikut suaminya, asisten Willy juga telah mengurus surat izin ke kampus tempat Lintang kuliah. Mereka tidak membawa banyak barang, hanya beberapa potong pakaian juga alat mandi. Selebihnya mereka akan membeli yang kurang saat tiba di sana.


Mereka akan berada di sana selama satu minggu. Willy tidak mengendarai mobil, asistennya yang akan menyetir, sementara ia sendiri akan menemani Lintang duduk di belakang. Mereka berpamitan pada Miranti dan Ricky. Awalnya Miranti tidak mengizinkan Lintang ikut, tapi kemudian Lintang meyakinkan ia akan baik-baik saja dengan Willy ada di sampingnya. Akhirnya dengan berat hati ia melepaskan kepergian menantunya itu.


Kini mereka telah berada di dalam mobil. Lintang mengenakan Dress selutut juga outer rajut berwarna cokelat muda.


"Apa perutmu masih sering sakit?" Tanya Willy pada Lintang yang sedang bersandar di bahunya.


"Tidak Kak, hanya sesekali." Sahut Lintang.


"Nanti kalau aku ke proyek kau istirahat saja di penginapan, aku tidak ingin kau lelah." Kata Willy lagi sambil membelai rambut istrinya.


"Aku ikut ya." Sahut Lintang.


"Aku tidak mau kau lelah, sayang." Balas Willy lagi. Lintang menggeleng pelan.


"Kak, aku lebih baik lelah fisik daripada lelah hati." Sahut Lintang sambil menatap suaminya. Willy tersenyum lalu akhirnya mengangguk.


"Kau takut kehilanganku?" Tanya Willy pada Lintang yang masih menatapnya.


"Aku sangat takut." Lintang menjawab dengan mata berkaca-kaca.


"Aku lebih takut." Willy menimpali. Ia memeluk Lintang. "Tidurlah, perjalanan kita masih cukup jauh." Sambung Willy lagi. Lintang mengangguk lalu mulai memejamkan matanya. Ia memang mengantuk, matanya sudah sayu. Akhirnya ia tertidur pulas dalam rengkuhan Willy.


"Apa orang dari perusahaan Wijaya sudah datang?" Tanya Willy pada Setya yang masih menyetir dengan fokus.


"Sudah Tuan, mereka tiba kemarin."


"Baiklah, setelah sampai kita ke penginapan dulu. Aku ingin beristirahat, atau kau kabarkan mereka untuk bertemu besok saja denganku." Perintah Willy yang segera di balas anggukan patuh dari asistennya.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Mereka melanjutkan perjalanan. Willy akhirnya ikut tertidur bersama Lintang. Mereka sampai di penginapan saat waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Ia ingin melanjutkan istirahat bersama Lintang tanpa ingin di ganggu siapa-siapa dulu.


Di lokasi proyek, Emilie menunggunya dengan penuh harap. Ia masih berharap bisa meraih cinta Willy namun sepertinya ia tidak akan menyangka bahwa Willy membuktikan kesungguhan penolakannya dengan membawa Lintang kemana pun dirinya pergi. Ia akan tahu esok hari.


...****************...


Lokasi proyek pembangunan dengan banyak bahan material itu sangat luas. Tempat ini juga strategis. Willy optimis pembangunan ini akan berjalan lancar juga akan memberi efek kenaikan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Lowongan kerja juga dibuka besar-besaran.


Senyum Emilie perlahan hilang saat ia melihat seorang perempuan yang membersamai Willy. Perempuan yang tangannya selalu digandeng oleh Willy itu tak lain adalah Lintang, istrinya. Emilie memaksakan senyum seramah mungkin. Lintang juga berusaha membalasnya meski ia masih nyeri saat teringat foto-foto Willy dengan wanita itu.


"Hai, apa kabar? senang kembali bertemu denganmu." Ujar Emilie sambil mengulurkan tangannya.


"Senang bertemu denganmu kembali." Lintang membalas jabat tangan dari wanita yang juga menggilai suaminya itu.


"Aku tidak menyangka Willy akan membawa istrinya ke tempat ini." Ujar Emilie masih dengan senyumnya.


"Ya, dia beruntung sekali." Timpal Emilie, ia masih bisa menguasai diri.


"Apalagi istriku sedang hamil. Aku tidak akan membiarkannya seorang diri." Kata Willy lagi. Lintang hanya diam saja mendengar dua orang itu. Namun ia senang karena Willy begitu memanjakan telinganya. Emilie tersentak, lemas terasa tubuhnya. Ia terhuyung tanpa diduga dan langsung di sambut asistennya.


"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya sedikit kurang enak badan." Ujarnya kemudian berusaha terlihat setenang mungkin. Ia syok mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh Willy.


"Nona, anda mau minum?" Asistennya beranjak hendak mengambilkan air untuk atasannya itu. Tapi Emilie menggeleng.


"Kita ke sana saja." Akhirnya ia mengajak asistennya untuk melihat para pekerja yang sedang membangun proyek itu.


Willy menoleh pada Lintang, Ia menatap istrinya.

__ADS_1


"Lin, aku ke sana dulu ya. Aku juga harus melihat sudah sejauh mana proyek itu. Kau tunggu di sana ya. Jalanan menuju ke sana tidak aman untukmu, terlalu licin dan berbatu." Ujar Willy, Lintang mengangguk, ia tidak perlu khawatir. Emilie tentu tidak akan berulah setelah mendengar apa yang Willy katakan barusan.


Namun di luar dugaan keduanya, Emilie malah sengaja membuat kakinya tergelincir dan Willy yang baru saja tiba di belakangnya sontak reflek menangkap tubuhnya agar tidak jatuh. Lintang melihat itu, matanya panas. Hatinya tiba-tiba nyeri. Ia tahu ini bukan kesalahan suaminya. Tapi Lintang sedih ia tidak bisa apa-apa. Lintang akhirnya masuk ke dalam mobil dengan nyeri yang masih terasa di hatinya.


Sementara dari kejauhan Emilie melihatnya puas. Namun ia harus menelan pahit saat di lihatnya Willy bergegas menuju mobil. Terlihat sekali ia khawatir pada istrinya itu.


"Kita kembali ke penginapan saja. Aku lelah." Ujar Emilie pada asistennya yang segera menunduk patuh. Ia kesal Willy ternyata lebih memilih kembali pada istrinya yang sedang merajuk daripada melanjutkan pembahasan basa basi mengenai proyek ini.


Willy telah berada di dalam mobil, ia melihat istrinya terpejam. Ia tahu istrinya sedang merajuk. Ia menjawil hidung Lintang, mengganggu istrinya itu dengan mencium lehernya berulang-ulang.


"Hentikan Kak." Ujarnya kemudian. Willy meraih istrinya, memeluknya penuh kehangatan.


"Kau cemburu." Kata Willy sambil membelai rambut Lintang.


"Tidak." Sahut Lintang.


"Kau marah."


" Tidak."


"Kau tidak mencintaiku?"


"Ti.." Lintang kembali menghentikan kata-katanya. Selalu seperti itu. Willy selalu berhasil membungkam kekesalannya dengan kalimat pamungkas itu.


"Aku benci pada mereka yang menggilaimu." Ujar Lintang putus asa.


"Aku tidak peduli pada mereka. Aku mencintaimu." Sahut Willy lalu mengecup bibir istrinya itu.


Lintang tersenyum lalu membenamkan kepalanya ke dada suaminya itu. Mereka pulang ketika Setya tiba di mobil.

__ADS_1


Di ranjang penginapan, penyatuan kembali terulang. Willy tidak pernah bosan mengulangnya bersama Lintang. Perempuan yang pernah ia siksa dulu hati dan fisiknya yang kini malah membuatnya bertekuk lutut oleh penyerahan yang sempurna. Lintang juga merasakan cinta yang sangat pada lelaki itu. Ia berharap Willy tidak akan mudah tergoda oleh perempuan-perempuan di luar sana. Dan kalau pun masih banyak yang menggilai suaminya itu, ia berharap Willy selalu ingat pada dirinya yang telah begitu setia mengabdi dan mencintainya.


__ADS_2