
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berganti. Kini usia kehamilan Lintang sudah memasuki bulan Ke tujuh. Perutnya benar-benar menggembung sempurna.
Banyak yang terjadi belakangan ini. Selama Lintang hamil anak kedua ini, Willy jadi sedikit manja padanya. Willy juga kerap menginginkan makanan tertentu, seperti ia saja yang mengidam.
Seperti malam ini, saat Lintang belum masuk ke kamar, Willy tampak uring-uringan sendiri. Bolak balik turun naik melihat istrinya belum juga ke kamar.
"Bun, ayo tidur." Ia akhirnya bersuara. Lintang tengah memainkan ponselnya.
"Ayo." Lintang menggamit lengan suaminya.
"Tidur sendiri dulu ayah kan bisa. Nanti aku kan bisa nyusul." Kata Lintang sambil mencubit gemas perut Willy.
"Gak mau lah. Gak enak." Ujarnya cuek.
"Iya, iya ini udah ditemenin." Balas Lintang. Suaminya ini, ia yang hamil tapi malah dia yang manja begini.
Saat mereka masuk, Al sudah tertidur dengan pulas. Mereka segera naik ke atas ranjang.
"Sini bun." Ia meminta Lintang merapat kepadanya. Lintang menurut. Lintang membalas pelukan suaminya itu. Mereka biasanya akan bercerita dulu sebelum memejamkan mata untuk tidur.
"Dua bulan lagi lahiran ya." Katanya sambil memejamkan mata.
"Iya sayang." Sahut Lintang dengan mata yang terpejam juga.
"Aku jadi deg-degan." Keluh Willy.
Lintang membuka matanya, ia jadi tersenyum.Yang akan melahirkan dia, malah suaminya yang deg-degan parah.
"Gak papa sayang, aku pasti baik-baik aja." Lintang menenangkan Willy.
"Jadi gak sabar deh pengen ketemu si kembar." Celetuk Willy dengan senyum terkembang.
"Aku juga sayang. Nanti kalau anak kita lahir, rumah ini pasti akan tambah rame."
Willy mengangguk setuju.
"Bun besok ke mekdi yuk." Ajaknya pada Lintang. Lintang mengangguk lagi. " Abis pulang kerja kita berangkat ya." Sambung nya. Lintang lagi lagi mengangguk. Apa sih yang tidak untuk bayi gedenya ini?
...****************...
Keesokan hari saat sore menjelang, Willy pulang dari perusahaan dengan riang. Ia mencari Lintang dan menemukan istrinya itu sedang duduk dengan santai di taman belakang bersama mama dan Al.
"Sayang, ayo." Ajaknya pada Lintang yang sudah mengerti.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya mama.
"Bayi gede ku ini pengen mekdi Ma." Kata Lintang sambil menunjuk Willy.
"Kayak orang ngidam aja dia. Udah sana Lin, hati-hati ya. Al sama mama aja ya."
Lintang mengangguk, ia mencium pipi Al sebelum mendekati Willy. Willy langsung mencium pipi dan keningnya begitu Lintang sudah berada dekat dengan dirinya itu.
"Sayang tunggu bentar, aku ambil tas dulu ya."
Lintang kembali turun dengan dandanan yang lebih rapi. Ia juga telah berpenampilan lengkap dengan tas kecilnya.
Willy merangkul Lintang, membawanya menuju mobil. Mereka mulai meninggalkan halaman rumah yang luas itu menuju tempat tujuan.
Willy memesan burger, kentang goreng, minuman dingin juga beberapa makanan lainnya. Lintang menatap suaminya itu takjub
"Ayah, laper banget ya?" Tanya Lintang sambil tersenyum.
"Nggak bun, pengen aja." Sahut Willy dengan mulut penuh makanan.
"Ini belepotan sayang." Lintang mengambil tisu, membersihkan noda saus di bibir suaminya.
"Kamu juga makan yang banyak ya sayang." Ujar Willy ditengah keasyikannya mengunyah.
Lintang menikmati makanannya dengan terus tersenyum melihat suaminya itu. Selalu ada rasa sejuk saat ia melihat Willy yang nampak bahagia.
"Iya Bun, apalagi perusahaan kita di Perancis sukses besar."
"Syukurlah semuanya berjalan lancar, restoran kita juga berkembang semakin pesat."
"Berikan bonus untuk semua karyawan, sayang. Mereka sudah bekerja dengan sangat baik." Ujar Willy, Lintang mengangguk cepat.
Setelah selesai dengan makanannya, Willy dan Lintang masih duduk bersantai sambil menunggu pesanan mereka untuk dibawa pulang. Willy sengaja memesannya untuk para pelayan di rumah.
"Mbok dan yang lain pasti senang nih." Tukas Lintang sambil menatap makanan-makanan dalam satu kantung besar itu.
Willy mengangguk dan tersenyum. Ia dan Lintang berjalan menuju mobil mereka terparkir. Lintang duduk dengan tenang. Perutnya kenyang.
"Yah, aku begah rasanya kayak susah banget nafas deh ini." Ia menunjuk perutnya yang besar itu.
"Sabar ya sayang, gak lama lagi ini kempes lagi kok." Willy mengusap rambut istrinya seraya menjalankan mobil.
Lintang tersenyum, ia merasa kehamilan kedua ini luar biasa. Ia juga sudah tidak pernah mual dan muntah lagi. Kondisinya kini sangat baik, ia sudah tidak lagi kalah. Lintang menatap perutnya itu dengan gemas.
__ADS_1
"Semoga kalian perempuan ya. Biar kakak Al bisa belajar jagain kalian." Ujar Lintang pada perutnya yang besar itu.
Willy tersenyum melihat istrinya itu. Sumpah, Lintang tetap cantik dimatanya. Mau bagaimana pun berisi nya ia kini.
"Sayang, aku ngantuk. Nanti kalo kita udah nyampe, bangunin ya."
"Iya, sayang, kamu tidur aja. Nanti aku bangunin kalo udah sampe."
Lintang mulai memejamkan matanya. Willy fokus menyetir, Sesekali tangannya turun untuk mengusap perut Lintang yang besar itu
"Anak-anak ayah dan bunda jangan nakal ya, nendangnya pelan aja. Kasihan bunda."
Lintang tampak menggeliat. Willy kembali fokus menyetir. Tidak berapa lama kemudian, keduanya sampai. Willy menyerahkan satu bungkus makanan pada pak Mamat di pos security juga menitipkan untuk para supir pada satpam rumahnya itu.
"Makasih, Tuan."
Willy tersenyum dan mengangguk. Ia kembali melajukan mobil. Saat mereka telah sampai di garasi panjang tempat mobil mewah itu berjejer, Willy membangunkan Lintang lembut.
"Aku ketiduran beneran." Ujar Lintang sambil berusaha bangun.
Ia kemudian membantu Willy untuk membawa makanan-makanan itu di dapur.
"Makasih banyak Tuan, aduh jadi laper." Mbok Nah nyeletuk. Willy dan Lintang tertawa.
"Makan aja Mbok, ajak yang lain juga ya." Balas Willy sambil tersenyum.
"Bun, kita ke kamar ya, aku mau mandi."
"Iya sayang."
"Mandi bareng kamu ya." Pintanya. Lintang menjawil hidung suaminya itu, kemudian ia mengangguk.
Di bawah pancaran air itu Willy menatap Lintang lagi. Perut Lintang sudah sangat membesar saat ini. Willy meraih bibir Lintang ke dalam bibirnya.
"Kenapa ini selalu menggoda?" Tanya Willy pada Lintang, matanya menatap bibir merah yang basah dan ranum itu penuh kehangatan.
"Sebab ia milikmu." Sahut Lintang dengan mesra. Willy mengangguk. Tentu saja itu miliknya. Tidak ada yang boleh memiliki bibir itu selain dirinya.
"Sini." Willy menarik Lintang untuk masuk ke dalam dekapan hangatnya. Mereka berdiri di bawah pancaran air yang membasuh tubuh keduanya.
"Sayang, terima kasih ya sudah ikhlas memaafkan kesalahanku padamu di masa lalu." Ujar Willy lagi dengan suara lirih.
"Aku mencintaimu, Kak Willy."
__ADS_1
"Aku juga, Lintang."
Willy mendaratkan satu kecupan terakhir lagi sebelum mereka menyelesaikan acara mandi indah bersama itu.