Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Kabar Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Lintang sedang bersantai di taman belakang dengan Mama Miranti di sore yang cerah itu. Mereka sedang mengobrol santai dengan tetap mengawasi Al yang sedang bermain di tengah taman. Saat sedang bersantai itu, Mbok Nah datang tergopoh-gopoh dari dalam rumah.


"Bu, ada telepon dari rumah sakit." Mama mengerutkan dahinya. Seketika panik menyerang.


Mama segera berlari ke arah dalam menuju telepon. Lintang sendiri langsung menggendong Al dan buru-buru masuk ke dalam juga. Perasaannya tak enak. Firasatnya tak baik. Ia segera menuju Mama yang sudah menutup telepon.


"Ada apa, Ma?" Tanya Lintang cemas.


"Ayo Lin, kita ke rumah sakit, Papa kecelakaan." Ujar Mama dengan raut yang diusahakan tetap setenang mungkin. Lintang menutup mulutnya, musibah datang tiba-tiba. Ia tidak menyangka.


Secepat mungkin Lintang menyerahkan Al kepada Mbok Nah. Ia tidak akan membawa Al, takut Al nanti menangis melihat Kakeknya di sana.


"Ayo Ma, aku telepon Kak Willy juga."


"Gak usah, Lin. Willy udah di sana, barusan dia kirim pesan ke Mama." Mama melangkah cepat menuju mobil dengan Mang Ujang yang sudah menunggu. Lintang setengah berlari mengikuti langkah Mama yang jadi cepat itu.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Lintang berusaha menguatkan Mama. Mama tampak tenang meski di dalam hatinya ia sedang gelisah.


Sampai di rumah sakit, Mama segera mencari ruang tempat papa di rawat. Papa sedang terbaring di dalam ruang ICU. Ia belum sadar. Di tubuhnya ada banyak alat-alat medis penunjang kehidupan.


Willy mendekati Mama. Ia sama cemasnya.


"Ma, sabar ya, Papa pasti bisa melewati masa kritisnya." Willy memeluk Mama. Ia juga menatap Lintang sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


"Apa kecelakaannya begitu parah, Will?" Tanya Mama dengan suara bergetar.


"Iya, Ma. Mobil papa oleng dan menabrak tembok pembatas tidak jauh dari perusahaan. Tapi, dokter bilang papa masih punya harapan besar untuk segera sadar." Willy menepuk-nepuk pundak Mama. Lintang juga merengkuh Mama, memeluknya erat. Ia juga ikut merasakan apa yang sedang dirasakan Mama.


"Al dimana?" Tanya Willy pada Lintang.


"Di rumah, Kak. Sama Mbok Nah. Aku sengaja gak ajak dia takut dia nangis nanti liat Kakeknya." Jawab Lintang lirih. Willy mengangguk. Al memang sangat dekat dengan Kakeknya itu.


"Mama mau di sini? Biar aku saja yang jaga papa." Kata Willy. Mama menggeleng.


"Tidak, kau pulanglah. Jaga Lintang, ia sedang hamil dan membutuhkanmu. Mama bisa menjaga papa di sini." Sahut Mama sambil memaksakan seulas senyum. Sulit sekali rasanya, Mama tidak pernah berpisah dengan papa kecuali saat ditinggal ke perusahaan. Jadi mama ingin tetap bersama papa meski suaminya itu belum sadar.


Willy akhirnya menyetujui semua kata-kata mama. Ia dan Lintang menemani Mama untuk beberapa jam ke depan sebelum akhirnya kembali lagi ke rumah induk. Lintang berusaha menguatkan Willy dan Mama. Ia juga merasa sangat sedih karena mertua lelakinya masih dalam masa kritis. Ia berharap semoga papa secepatnya sadar dan bisa berkumpul lagi bersama mereka semua.


"Kak, semoga papa cepat sadar ya." Ujar Lintang saat mereka telah berada di dalam mobil. Mereka dalam perjalanan akan kembali ke rumah.


"Iya, sayang. Aku juga berharap begitu." Sahut Willy berusaha tenang. Ia tidak ingin Lintang juga ikut merasakan kecemasan yang sama seperti dirinya walaupun tanpa dicegah pun Lintang tengah merasakan itu saat ini.


"Al pasti merindukan Kakeknya." Desah Lintang. Willy menjulurkan satu tangannya, mengusap puncak kepala istrinya lembut.


"Tenanglah, semua akan baik-Baik saja. Papa akan segera melewati masa kritisnya. Kita berdoa ya." Sahut Willy lagi. Lintang mengangguk.


Mereka tiba di rumah dan di sambut para pelayan yang bertanya apa yang terjadi pada Tuan besar. Mereka juga sedih setelah mendengar cerita itu langsung dari Lintang. Al juga seharian ini menangis. Tidak ada sebabnya ia sebentar-sebentar menangis. Al kecil seperti tahu bahwa Kakeknya sedang kesakitan saat ini.

__ADS_1


Al baru saja tertidur. Willy mencium pipi putranya itu dengan sayang.


"Kau pasti sedang mengkhawatirkan Kakekmu juga ya?" Willy mengelus pipi gembul anaknya itu. "Tenanglah Nak, Kakek pasti bangun. Sebentar lagi ia akan sadar dan segera berkumpul lagi bersama kita." Sambung Willy lagi sambil menyelimuti anak tampan itu.


Lintang menghampiri Willy, ia merengkuh pinggang suaminya dari belakang. Lintang berusaha menenangkan Willy. Mencoba mengajaknya untuk berbagi semua perasaan. Agar Willy tak sedih sendirian, ia ingin menemani dan menghibur Willy dalam situasi apapun.


"Kita makan dulu ya, Kak. Seharian ini kau pasti belum makan." Ujar Lintang lembut. Benar, Willy belum memasukkan apapun ke dalam perutnya seharian ini. Kekhawatiran akan papa, membuatnya lupa untuk memperhatikan diri sendiri.


"Ayo." Ia berbalik, merengkuh pundak Lintang dan mengajaknya turun ke bawah. Terlihat Mbok Nah sudah menyajikan makanan untuk mereka berdua.


"Kau juga makan yang banyak ya. Anak kita di dalam sana harus mendapat gizi yang baik." Kata Willy sebelum ia menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya. Lintang mengangguk. Ia pasti akan melakukan semua yang terbaik untuk anak-anak mereka.


Keduanya makan dengan sangat tenang. Sesekali Lintang berusaha menghidupkan suasana dengan candaan yang di balas tawa dari suaminya itu. Benar kata Mama, semua hal akan baik-baik saja dan terasa menyenangkan saat dibicarakan di atas meja makan.


"Besok, biar aku yang temani Mama ya Kak." Lintang meminta izin suaminya. Takut Willy tak mengizinkan, karena saat ini Willy sangat protectif terhadap dirinya yang sedang hamil lagi itu. Willy tampak berpikir sesaat namun kemudian ia mengangguk.


"Asal kau jangan lupa istirahat dan minum vitaminmu ya. Aku tak ingin kau terlalu lelah." Sahut Willy sambil mengelus punggung tangan istrinya.


"Iya sayang, pasti. Kak Willy jangan terlalu banyak berpikir juga ya. Mama dan aku akan menjaga papa dengan baik di rumah sakit." Lintang berusaha memberikan pengertian pada suaminya itu. Willy mengangguk lagi, ia tahu ia akan baik-baik dan tenang dengan adanya Lintang dalam hidupnya.


Willy tidak akan menyia-nyiakan Lintang. Ia istri terbaik yang Tuhan berikan dalam hidupnya itu. Lintang telah banyak merubah sifat Willy yang tidak baik. Willy kini dikenal sebagai pribadi yang hangat, tidak lagi angkuh, tatapannya juga jadi lebih bersahabat kepada siapapun walaupun ia tetap menjaga kewibawaannya dimana pun ia berada.


Lintang juga merasa sangat beruntung dicintai oleh Willy. Lelaki yang membuatnya selalu merasa aman dan terlindungi. Lelaki yang kerap membisikkan kata-kata mesra untuknya hampir setiap hari. Lelaki yang telah dipilihkan Tuhan lewat tangan Kakek Franky itu kini benar telah banyak sekali berubah. Menjadi lebih berbudi pekerti, lebih pengertian dan menjadi pribadi yang sangat perhatian kepada keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2