Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Libido


__ADS_3

Lintang mematut penampilannya di depan cermin. Ia melihat dirinya yang sudah sedikit berisi. Perubahan tubuhnya sebenarnya tidak banyak, hanya ada beberapa bagian tubuhnya yang semakin berisi dan memadat. Lintang mengenakan dress tidurnya yang agak tipis berwarna hitam pekat. Rambutnya yang panjang tergerai indah. Lintang merasa dirinya aneh beberapa hari ini. Perasaan ingin disentuh oleh suaminya membuncah. Ia juga heran.


Willy sedang memeriksa berkas yang tadi diantar asistennya. Ada beberapa berkas yang harus segera ia pelajari, jadi di sebuah meja kerja di dalam apartement ia nampak sibuk dan serius. Lintang berjalan pelan, menuju suaminya. Willy tertegun, melihat istrinya. Baru kali ini ia melihat Lintang memakai lingerie. Dengan perutnya yang membuncit, juga beberapa bagian yang semakin sintal ia jadi tampak seksi.


Benda keramat milik Willy perlahan bangun. Ia tersenyum, menatap istrinya yang semakin mendekat. Lalu saat Lintang tiba di depannya, ia segera menarik perempuan itu untuk duduk di pangkuannya. Terlihat paha Lintang yang putih tersibak seksinya lingerie.


"Kau tampak menggoda, sayangku. " Willy berbisik serak menandakan ia sedang menahan gejolak keinginan untuk segera menguasai istrinya.


"Kak..." Lintang balik berbisik, membuat Willy semakin mengeratkan rengkuhannya.


"Katakan sayangku."


"Aku menginginkannya." Sahut Lintang pasti namun dengan mimik malu-malu.


"Kau tidak sakit?" Tanya Willy, ia takut akan menyakiti istrinya karena beberapa kali ketika mereka sedang terlibat permainan ranjang, ia sempat kehilangan kendali dan menyetubuhi istrinya dengan cukup kasar.


"Tidak, aku menginginkannya, Kak." Lintang mengelus benda keramatnya, Willy mengerang.


Willy merengkuh Lintang, membuat benda itu bergesekan di antara pahanya. Ia menatap dua gundukan yang semakin besar itu, lalu membenamkan wajahnya ke sana. Willy naik, menatap mata istrinya yang sayu tapi penuh kilatan gairah.


Willy mulai membawa Lintang dalam ciuman panjang dan juga panas. Suara desahan istrinya membakar seluruh gairah. Willy menanggalkan semua yang ada pada Lintang. Mata istrinya kini benar-benar telah dikuasai letupan gairah, ia minta segera di bawa ke penyatuan panjang.


Willy dan Lintang masih di posisi semula, Ia mulai memainkan jemarinya membuat Lintang menggelinjang tidak tahan. Desahannya semakin kuat terdengar, membuat benda keramat di bawah sana meronta untuk segera menerobos masuk. Willy menahan, ia ingin Lintang semakin terbuai dahulu. Setelah melakukan foreplay cukup panas dan lama, Lintang semakin tidak kuat.


"Kak, masuk.. tolong." Iya memohon, membuat Willy semakin memperdalam permainan.


Willy tersenyum melihat istrinya sudah betul ingin merasakannya. Ia menggendong Lintang, membawanya ke ranjang. Di sana ia segera menjatuhkan istrinya dengan pelan. Lalu mulai melakukan penyatuan dengan lembut namun mulai lebih menuntut.

__ADS_1


"Lintang aku menginginkanmu setiap waktu." Willy mengerang sambil terus memacu. Lintang menikmati semua yang Willy lakukan. Ia juga terbakar gairah tak berkesudahan. Penyatuan mereka berlangsung cukup lama. Lintang akhirnya terkulai setelah beberapa kali klimaks dihantam benda keramat suaminya.


"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu." Lintang meraih Willy lalu mencium suaminya mesra. Membiarkan Willy kembali menguasai dirinya.


...****************...


"Kau menyukainya?" Tanya Willy saat mereka telah selesai melakukan pertempuran panjang.


"Aku sangat menyukainya. Apa aku terlihat aneh?" Lintang balik bertanya. Ia memang merasa aneh karena hasratnya tiba-tiba sering datang minta untuk segera melakukan penyatuan.


"Tidak aneh sayang, itu wajar. Mungkin karena bawaan hamil, kau jadi lebih bergairah." Sahut Willy sambil membelai rambut istrinya.


"Kak, kadang aku ingin melakukannya saat kau sedang di kantor." Lintang mengatakannya dengan malu, Willy jadi gemas melihatnya.


"Katakan padaku jika kau sedang menginginkannya, aku akan pulang." Ujar Willy sambil tersenyum hangat, ia senang istrinya mau terbuka soal hubungan ranjang mereka.


"Tidak sayang, aku tidak akan membiarkanmu menahan gairah terlalu lama. Aku akan menyelesaikannya." Willy meraih bibir Lintang lalu mengecupnya.


Lintang merasakan pipinya bersemu merah. Ia malu sekaligus nafsu. Tadinya ia pikir Willy akan jijik jika ia mengatakan hal itu, namun ia akhirnya tenang karena Willy menyambutnya sukacita. Lintang telah terbuai akan sentuhan suaminya yang memabukkan, membuatnya merindu siang malam. Pernikahannya berakhir indah, Lintang bersyukur karenanya.


...****************...


Keesokan hari saat Willy telah berada di perusahaan. Ia membawa Lintang juga. Lintang menemaninya bekerja sepanjang hari. Willy tidak mengizinkan siapapun untuk masuk ke dalam ruangannya.


Willy telah membuka sebuah ruangan yang memang ia buat khusus jika istrinya datang menemani. Sebuah ruangan dengan ranjang cukup besar. Dan di sanalah mereka sekarang. Memadu kasih yang tidak bosan dilakukan berulang-ulang.


Willy selalu suka menatap mata istrinya yang sayu namun penuh kilatan nafsu. Ia sering mendapati Lintang kehilangan kendali saat sedang bertempur bersamanya dan itu sukses membakar gairahnya lagi dan lagi.

__ADS_1


Ruangan kedap suara itu penuh suara erangan juga desahan. Lintang meremas rambut suaminya, sementara Willy semakin bersemangat memacu mereka berdua. Sesekali ia mengusap perut buncit istrinya agar yang di dalam sana tidak terganggu dengan aktifitas menggelora ayah bundanya.


"Apa ia tidak terganggu?" Tanya Willy pada perut lintang yang buncit.


"Tidak, sayang. Ia nyaman di sana apapun yang sedang kita lakukan." Sahut Lintang, ia sedang bersandar pada dada bidang suaminya.


"Bagaimana kalau dia menangis karena terguncang terlalu kuat, sayang?" Tanya Willy lagi.


"Tidak, sayang. Ia tahu ayahnya melakukannya dengan penuh cinta." Lintang menenangkan suaminya.


"Aku kadang terlalu kuat menggagahi mu, sayang. Maafkan ya sebab kau terlalu menggoda." Willy mencium puncak kepala istrinya.


"Aku meyukai nya, Kak." Kata Lintang malu-malu, wajahnya telah merah bersemu.


Willy membekap Lintang dalam pelukan hangat. Ia selalu suka melakukannya. Setiap selesai bercinta, ia akan meraih Lintang dalam pelukan mesra. Terlalu sayang melewatkan saat-saat berharga itu dengan langsung tidur memejamkan mata. Ia ingin membuat Lintang merasa dihargai, memberikannya kenyamanan dalam segala hal yang berarti.


Mereka kini saling mencintai walau dulu rasa benci sempat menguasai. Lintang juga telah menyerahkan semua miliknya, cinta, tubuh dan semua perasaan tanpa ada rasa terpaksa. Suaminya telah berubah, ia mencintainya. Lintang ingin selamanya seperti ini. Ia ingin menjaga semuanya agar tetap indah dan baik-baik saja. Kalaupun ada kerikil, semoga tidak sampai menggores luka menjadi dalam.


Willy menyibak anak rambut istrinya yang jatuh terjuntai. Mereka kembali berhadapan, saling pandang, menatap penuh perasaan. Ah, Lintang kau berbahaya dan memabukkan. Gumam Willy di dalam hati.


Ibu mertua, terima kasih ya telah melahirkan juga menghadirkan Lintang dalam keluarga besar ku. Aku kini teramat mencintainya. Kau tenanglah di alam sana, aku akan menjaga Lintang dengan baik di sini. Willy membatin penuh syukur.


"Kak, kakak gak ada meeting?" Tanya Lintang.


Willy menepuk jidatnya, ia ingat ada meeting penting dengan beberapa kolega. Dan ia telah mengkhianati waktu, para kolega menunggunya hampir dua jam. Willy terburu-buru memakai kemeja dan merapikan dirinya. Ia mengecup kening Lintang lalu meninggalkan istrinya yang sudah tertawa kecil melihat tingkah suaminya itu.


"Maaf menunggu, saya sedang ada keperluan tadi. Apa saya membuat anda-anda sekalian menunggu terlalu lama?" Tanya Willy dengan sikap wibawanya, namun ia tetap menyunggingkan senyum permohonan maaf.

__ADS_1


"Tidak Tuan, hanya saja beberapa kolega telah memesan tiga cangkir kopi siang ini." Setya mengatakannya dengan penuh hormat, Willy hanya nyengir kuda melihat para kolega yang tidak bisa apa-apa.


__ADS_2