Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Berjalan-jalan Pagi


__ADS_3

Memasuki usia persalinan yang semakin dekat membuat Lintang dan Willy dilanda perasaan yang bercampur aduk. Lintang kerap kali berubah-ubah moodnya. Seperti malam ini sebelum ia dan Willy memejamkan mata, mereka menyempatkan diri dulu untuk saling bercerita. Lintang mencurahkan semua isi hatinya pada Willy.


"Kak, aku jadi deg-degan." Ujarnya lirih. Lintang merapatkan tubuh dalam rengkuhan suaminya.


"Tenanglah, sayang. Semua akan baik-baik saja. Kau harus kuat untuk anak kita." Willy membelai rambut panjang istrinya.


"Iya, Kak. Aku pasti akan berusaha. Ehmmmm, apa Kak Willy akan menemanimu saat persalinan nanti?" Tanya Lintang, ia menengadah menatap suaminya.


"Tentu saja, sayang. Aku akan setia bersamamu saat tiba hari itu."


Lintang menghembuskan nafas lega. Ia senang dan bahagia mendengar kata-kata menenangkan dari suaminya.


"Besok kita bangun lebih pagi, akan ku temani istriku berjalan kaki. Kata Mama itu bagus dilakukan sebelum hari melahirkan tiba." Lanjut Willy, Lintang tersenyum lantas mengangguk.


"Kakak ingin bicara padanya?" Lintang menunjuk perut buncitnya. Willy mengangguk. Hal rutin yang selalu ia lakukan selama istrinya hamil adalah berbicara sebelum terlelap dengan anak di dalam kandungan Lintang.


"Kecil, kau sudah tidur?" Willy meletakkan telapak tangannya ke sana. Terasa gerakan kecil menyapa dirinya. Lintang dan Willy tertawa.


"Dia pasti sedari tadi menguping apa yang kita bicarakan." Ujar Lintang masih dengan tawanya.


"Ya, hei kecil, kau menguping apa yang ayah dan bunda bicarakan tadi? Kau nakal sekali." Willy mencium perut buncit itu lembut lalu mengusapnya perlahan.


"Ayo kita tidur, sayang. Kau pasti lelah seharian ini di perusahaan." Kata Lintang lagi, ia meraih Willy sesaat, mengecup bibir dan keningnya hangat, lalu meraih selimut dan menyelimuti suaminya itu.


Willy tidur memeluk Lintang dari belakang dengan tenang. Ia selalu suka melakukan itu. Membuatnya dan Lintang menjadi lebih dekat dan intim dari waktu ke waktu.


...****************...

__ADS_1


pukul setengah enam pagi Willy dan Lintang terbangun. mereka membersihkan muka dahulu lalu melangkah keluar kamar. Para pelayan yang sedang bekerja memulai aktifitas di pagi ini menyapa keduanya dengan hangat. Mereka suka melihat pasangan serasi itu.


"Mbok, kalo Mama nanya bilangin aku sama Lintang sedang keliling kompleks ya." Ujar Willy pada Mbok yang kebetulan melintas di depan mereka.


"Baik, Tuan muda."


"Ayo, sayang kita ke depan." Ajak Willy pada Lintang. Ia menggenggam jemari istrinya.


Mereka keluar dari gerbang rumah mewah itu. Keduanya mulai berjalan menyusuri jalanan yang masih sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang sedang berlari pagi saat itu. Lintang berjalan bersisian dengan Willy yang setia menjaganya. Mereka sesekali membalas sapaan orang-orang yang kebetulan lewat dan menyapa.


Willy juga terlihat sesekali mengusap lembut perut buncit Lintang yang semakin besar. Ia rasanya tidak sabar menantikan kelahiran jagoan kecilnya yang kurang dari satu bulan kalau sesuai hari perkiraan lahir.


"Kak, jadi ke perusahaan Kak Zacky nanti siang?" Tanya Lintang, ia berjalan perlahan dengan santai di samping suaminya.


"Jadi. Ada beberapa hal yang harus kami bicarakan sehubungan dengan kepindahannya nanti."


"Hmmmm.. semoga berjalan lancar, Kak. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaannya." Sahut Lintang tulus. Willy tersenyum ia memandang istrinya.


"Maksudmu, Kak?" Tanya Lintang tidak paham.


"Lin, Zacky sangat mencintaimu. Tapi aku juga mencintaimu. Aku tidak mau kau jatuh ke tangan siapapun. Tentangmu, rasanya aku harus egois." Willy menjawab, wajahnya serius sekali. Ia tahu betul betapa Zacky mencintai Lintang. Namun, ia juga tahu Zacky telah dengan ikhlas merelakan Lintang untuknya meskipun ia tahu bahwa Lintang juga mencintai dirinya, bukan Zacky. Namun ia tetap merasa tidak enak hati.


"Suatu saat Kak Zacky akan menemukan orang yang akan bisa meluluhkan hatinya. Aku mencintaimu, Kak Willy. Aku tidak bisa memberi perasaan itu pada orang lain." Lintang menghentikan langkah. Willy melakukan hal yang sama. Mereka memang terdengar egois, tetapi bukankah memaksakan perasaan tidak pada tempatnya juga lama-lama akan menyiksa satu sama lain?


"Aku juga berharap begitu. Semoga ia benar-benar bisa menemukan perempuan lain, yang akan mencintai dan dicintainya." Willy menyibak anak rambut istrinya ke belakang telinga.


Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan singkat pagi ini dan memutuskan untuk kembali lagi ke rumah. Willy harus segera bersiap untuk membersihkan diri dan berkunjung ke perusahaan Zacky.

__ADS_1


...****************...


Mobil yang Willy kendarai memasuki perusahaan yang luas itu. Ia membalas sapaan para karyawan yang mengenalnya. Saat tiba di lift ia juga menerima uluran jabat tangan dari para kolega yang juga berkunjung ke perusahaan kedua yang di pimpin oleh Zacky.


Willy masuk ke dalam ruangan Zacky. Lelaki itu nampak telah menunggunya. Zacky kini nampak lebih maskulin. Ia membiarkan rambutnya memanjang sedikit yang kini ia ikat kebelakang juga bulu-bulu halus yang mulai terlihat di sekitar wajahnya ia biarkan tumbuh.


Willy mengulurkan tangan, Zacky segera menjabatnya.


"Apa kabar lo?" Tanya Zacky, ia membuka jasnya menyisakan kemeja ketat yang membungkus tubuh atletisnya. Willy dan Zacky keduanya punya kharisma yang luar biasa. Mereka tampan. Mereka juga di sukai banyak perempuan.


"Baik. Oh iya, Lintang titip salam buat lo." Sahut Willy.


"Salam balik ya. Gue harap kalian selalu baik-baik aja sampai kapanpun itu." Balas Zacky. "Rokok?" Tawarnya pada Willy. Willy meraihnya sebatang. Hal sudah tidak dilakukannya lagi semenjak ia sadar ia mencintai Lintang. Namun, kali ini ia membuat pengecualian demi menghormati Zacky dan demi terciptanya suasana nyaman dan santai.


"Lo jadi handle perusahaan di Bandung?" Tanya Willy setelah ia menghisap rokok dan menghembuskan asapnya.


"Iya, gue pengen suasana baru. Lo bisa kasih gue izin kan?" Tanya Zacky serius.


"Apaan sih lo? lakuin apapun yang lo mau, Zack. Gue selalu dukung lo." Sahut Willy dengan senyum.


"Gue tetep harus hormatin lo. Makanya gue pasti bakal minta pendapat lo apalagi itu tentang perusahaan." Timpal Zacky dengan santai.


"Lo tenang aja, Zack. Gue selalu setuju dengan apapun yang lo lakuin. Apalagi itu demi kemajuan kerajaan keluarga besar kita." Sahut Willy. Ia meraih foto keluarga yang ada di atas meja Zacky.


"Lo enak, punya adik. Gue dari dulu sendiri. Gak punya teman main." Willy berusaha mengenang masa kecilnya.


"Lo harus bikin banyak anak." Zacky mulai berkelakar.

__ADS_1


"Pasti. Rumah besar itu harus ramai sama suara anak-anak." Keduanya kemudian tertawa bersama. Tidak ada lagi permusuhan. Secara tidak langsung, Lintanglah yang telah menyatukan hubungan keduanya menjadi lebih akrab dari sebelumnya.


"Temenin gue ngopi, yuk." Zacky berdiri diikuti Willy. Mereka saling merangkul. Saudara sepupu itu kini nampak kompak. Dua orang dengan kedudukan tinggi itu sukses membuat mata para karyawan terang melihatnya. Mereka tampan, membuat para staff perempuan jadi menelan air ludah.


__ADS_2