
Pukul sebelas malam, Lintang masih terpaku di samping jendela kamar. Malam ini ia sedang berada di sebuah kamar hotel yang telah di pesan oleh Ayah dan Ibu Willy. Matanya menatap ke pemandangan luar yang masih di penuhi kendaraan berlalu lalang. Hiasan make up bekas acara tadi masih membekas walau telah ia bersihkan. Lintang masih enggan terpejam, pikirannya masih berlarian kemana-mana.
Willy? dimana lelaki itu? Lintang ingat Willy pergi dua jam yang lalu. Entah kemana. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Lintang juga takut untuk bertanya. Rasanya, Lintang ingin kembali ke rumah mungilnya saja. Ia rindu kamar dan selimutnya. Lintang ingin pulang, tetapi nanti apa kata keluaga besar jika melihatnya kembali sendirian tanpa Willy.
Jadilah Lintang kini sendirian, berada di kamar hotel yang sunyi. Lintang pasrah saja, tidak mau mengeluh. Ia sudah lega karena telah mewujudkan keinginan Kakek, menikah dengan cucu kesayangannya. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Lintang saat ini, apakah Willy nanti akan menyentuhnya sebagaimana suami menyentuh istrinya. Jujur Lintang sangat takut akan hal itu. Karena Lintang tahu Willy sangat membencinya dan tidak akan mau belajar mencintai dirinya, jadi apakah boleh ia juga meminta Willy untuk tidak menyentuhnya lebih dari hal-hal yang sebelumnya pernah ia lakukan.
Saat Lintang sedang termenung, pintu kamar hotelnya terbuka. Lintang melihat Willy sedang berada di sana. Lelaki itu menatapnya masih sama, tajam dan tetap menakutkan. Lintang menunduk, berharap Willy tidak akan menggubris kehadirannya di sana. Ia telah mempersiapkan selimut di sofa, karena ia juga telah berencana untuk tidak tidur seranjang dengan lelaki itu.
Willy tersenyum kecil melihat semua yang telah dilakukan Lintang. Ia segera mematikan lampu, Lintang sendiri beranjak dan menuju sofa, ia ingin segera terlelap dengan cepat. Lampu yang tersisa adalah lampu tidur, membuat kamar hotel terasa remang. Willy membuka bajunya, Lintang sendiri mengetatkan selimut. Ketakutannya semakin menjadi saat dilihatnya Willy mendekat, semakin dekat dan telah benar-benar dekat.
"Buka bajumu." Perintah lelaki itu. Lintang menggeleng, berharap bisa menyelamatkan harga dirinya.
__ADS_1
"Jangan Tuan, saya tidak bisa melakukannya. Saya mohon." Pinta Lintang. Airmatanya siap untuk jatuh.
Willy tertawa, menertawakan ketakutan Lintang yang semakin menjadi.
"Aku sudah membayar mahal semua ini. Buka!" Perintah Willy lagi.
"Jangan Tuan, saya tidak bisa melakukannya dengan orang yang tidak mencintai saya." Masih berusaha membela dirinya.
Willy menggeram. Disentaknya selimut yang menutupi tubuh Lintang kemudian dengan paksa ia membuka baju tidur yang Lintang kenakan. Lintang berusaha memberontak, berkali-kali ia memukul dada Willy yang bidang, namun tetap saja ia kalah tenaga. Willy menghempaskan tubuh Lintang yang kini hanya tersisa Bra dan celana dalam. Ia menatap tubuh itu penuh kebencian juga nafsu yang tiba-tiba saja memuncak.
Willy tetap memacu tubuh mereka. Ia telah mencapai klimaks beberapa kali. Ia benar-benar menikmati semua permainannya. Ia menguasai Lintang dengan segala kebencian. Lintang sendiri tidak lagi bisa bersuara, airmata terus saja mengalir di sela matanya. Membasahi pipi, Membasahi ranjang, membasahi hatinya yang telah tergores luka.
__ADS_1
Setelah itu, Ia luruh, merosot kebawah dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Lintang kini tidak lagi memiliki apa-apa.Willy tidak mencintainya, tapi lekaki itu benar-benar telah menciptakan neraka untuknya. Willy sengaja menghancurkan semua yang ada pada Lintang tanpa sisa. Ia meraup habis semua hal yang Lintang jaga.
Lintang menatap ke bawah, bercak darah menjadi bukti kehormatannya yang telah hilang. Ia meringkuk, menangis sesegukan dengan memeluk lutut. Gadis itu benar-benar merasa dunia telah runtuh di atas kepalanya.
Willy sendiri telah tertidur setelah puas menghancurkan seluruh hidup Lintang. Lintang membaringkan tubuhnya di lantai. Tangisnya ia redam dengan selimut. Ia tidak berdaya, ia telah hancur hanya dalam waktu singkat. Lintang memaksakan matanya agar segera terpejam, berharap yang terjadi saat ini adalah mimpi. Ia ingin ketika bangun akan menemukan dirinya dalam kondisi baik-baik saja. Namun, kenyataannya kini berbeda. Ia telah hancur di tangan orang yang tidak mencintainya. Ia hancur di tangan orang yang sangat membenci kehadirannya.
Lintang menatap kosong kegelapan di sekitarnya. Ia ingin mengadu kepada siapa saja bahwa saat ini ia telah diperkosa habis-habisan. Namun tidak ada yang akan percaya padanya. Willy nyatanya kini adalah suaminya. Ia berhak atas tubuh Lintang. Namun yang tau bagaimana kebenarannya hanya ia dan Willy saja, jadi percuma saja jika ia ingin melaporkan perbuatan lelaki itu.
Lintang menangis lagi, kali ini tanpa suara. Tidak ia sangka, hidupnya akan benar-benar kacau seperti ini. Disaat gadis seusianya, sibuk kuliah dan bekerja atau berkumpul bersama teman-teman mereka, ia malah terjebak hubungan pernikahan tanpa cinta seperti ini. Ia malah telah kehilangan masa muda juga ketenangan hidupnya.
Willy tidak lebih menganggapnya ******* yang bisa seenak dan sesukanya diperlakukan sekehendak hati. Lintang hanya akan dilakukan layaknya budak yang sama sekali tidak perlu dikasihani. Lintang memejamkan mata lagi, berharap segera terlelap tanpa harus bermimpi. Sebab kini mimpi hanyalah cerita buruk baginya. Ia tidak ingin bermimpi buruk mengenai penyiksaan yang dilakukan Willy. Ia sudah cukup menderita dengan semua perlakuan Willy apalagi harus ditambah dengan mimpi buruk disetiap tidurnya.
__ADS_1
Lintang benar-benar terlelap kemudian. Airmata masih membekas menyisakan semua kepedihan di sana. Dimana dirinya kini tak lagi berharga. Lintang tidak ingin protes ini itu. Percuma saja, ia tidak akan pernah bisa melawan Willy dengan semua kuasa yang ia punya.
Lintang hanya berharap, untuk hari-hari selanjutnya, ia masih memiliki semangat untuk meneruskan hidup. Ia mencoba untuk menerima semua ini dengan hati yang lapang. Namun sisi hatinya yang lain kembali berbisik, mengajak perang hatinya yang lain. Benarkah begitu mahal balas budi yang harus ia lakukan pada keluarga besar ini walaupun nyatanya ia kini malah menderita dan tersiksa. Benarkah tidak ada cara lain untuk membalas semua kebaikan Kakek? Apakah ini benar sudah digariskan Tuhan untuk hidupnya yang kini kelam. Lintang meremas selimut kuat, Ia kembali menangis lagi. Kini bahkan lebih kencang dari tadi setelah menyadari memang tak ada lagi yang tersisa dari dirinya kini.