
Lintang membuka matanya, ia melihat tubuhnya kini telah berada di dalam selimut. Hari telah gelap. Malam telah menyapa, Lintang melihat jam dinding di dalam kamar, sudah pukul delapan malam. Lintang teringat tadi Willy berada di sisi ranjangnya, menatapnya lama lalu pergumulan itu pun terjadi. Lintang menoleh, ia melihat Willy sedang bersandar dengan bantal di ranjangnya, menjadikannya setengah duduk. Selimut juga terlihat masih menutupi setengah tubuhnya. Lelaki itu sedang asyik dengan ponselnya. Willy kemudian menoleh, melihat Lintang yang sudah terbangun.
"Bersihkan tubuhmu, Mama dan Papa menunggu kita." Ujarnya lalu kembali berkutat dengan ponselnya. Lintang mengangguk lalu menyeret tubuhnya yang masih sedikit lelah pergi ke kamar mandi.
Willy juga kemudian pergi ke tempat yang sama, ia membuka pintu kamar mandi dengan Lintang yang sedang berdiri di bawah pancaran air. Lintang terkejut, ia tidak bisa berkutik saat Willy mendekatinya. Willy ikut berdiri di belakangnya, tubuhnya seketika menjadi basah sama seperti Lintang. Lintang diam saja, tidak bergerak karena masih terlalu takut pada suaminya itu. Sementara Willy tersenyum di belakangnya, ia jadi menikmati kebersamaan ini. Terasa aneh memang, namun Willy merasa mulai nyaman saat ia dekat dengan gadis itu.
Willy memberikan sabun cair kepada Lintang yang diterima gadis itu bingung.
"Gosok punggungku." Begitu perintahnya. Lintang berbalik menghadap Willy yang masih belum memberi punggungnya. Mereka jadi berhadapan. Jarak antara keduanya pun sangat dekat. Lintang menunduk, namun satu sentuhan terasa di dagunya. Willy mengangkat wajah yang sedang tertunduk malu dan takut itu menjadi berhadapan dengannya, menjadikannya sedikit mendongak karena Willy lebih tinggi.
Wajah itu basah oleh air yang mengalir. Mata itu sendu, tampak patuh dan juga lugu. Bibir itu merah merona, memaksa Willy tidak tahan untuk tidak mengecupnya. Ia memandang Lintang di bawah guyuran air. Mencoba mencari kebencian yang sudah menguap entah kemana.
Benarkah aku membenci perempuan ini? Benarkah aku tidak menaruh perasaan apapun padanya kini? Benarkah ia Lintang? gadis yang sudah lancang masuk ke dalam keluarga besarku? Benarkah ia yang telah ku renggut segalanya, termasuk kesuciannya? Benarkah ia Lintang istriku? Mengapa aku baru menyadarinya, bahwa ia mampu membuat aku candu pada dirinya.
__ADS_1
Willy membatin dalam kebingungan. Lama sekali ia menatap Lintang dengan jari yang masih menahan dagu gadis itu untuk terus menatapnya.
"Lintang... Kau cantik." Ujarnya lirih namun mantap. Kemudian, Willy melepaskan dagu Lintang lantas ia segera berbalik, memberikan punggungnya untuk segera digosok oleh gadis yang sedang tertegun itu.
Lintang sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia segera menggosok lembut punggung Willy yang putih. Lintang terus membersihkan tubuh suaminya tanpa berbicara sepatah kata pun. Ia merasa sangat bingung saat ini. Lintang tidak ingin besar kepala karena pujian dari Willy barusan. Dan karena posisi Willy yang membelakanginya, dengan ia yang sedang menggosok punggung lelaki itu, menjadikan dadanya bergesekan dengan punggung Willy. Willy menahan mati-matian hasratnya yang kembali muncul.
Ia kemudian berbalik, menghentikan semua gerakan istrinya. Lintang terdiam, melihat Willy yang kini kembali merapatkan tubuhnya. Lintang terpojok, Willy menyudutkannya hingga menempel ke dinding kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang, seirama hatinya yang jadi naik turun.
"Kenapa kau hadir dalam kehidupanku, Lintang?" Tanya Willy lirih, ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu.
...****************...
Lintang dan Willy kini telah berada di rumah induk. Mereka makan bersama, dan tanpa ia sadari keluarga besar yang lain juga hadir di sana. Ibu Mertua rupanya telah mengundang mereka untuk makan malam bersama. Di sana juga nampak Zacky. Ia duduk di samping ibunya. Audy tidak terlihat, karena adiknya itu sedang berlatih basket bersama teman-temannya untuk mengikuti turnamen melawan Sekolah lain nanti.
__ADS_1
Zacky tidak berhenti menatap Lintang, gadis itu juga menyadari bahwa Zacky sedang melihatnya. Lintang tersenyum, Zacky membalasnya. Willy ternyata memperhatikan itu, ia memandang tidak suka namun tidak melakukan apapun. Mereka mulai makan dengan santai. Lintang menyendok kan makanan ke piring suaminya. Zacky melihat itu tidak nyaman. Ada nyeri seketika menikam ulu hatinya.
"Lintang, sudah ada tanda-tanda?" Tante Monik bertanya kepada Lintang mengenai kehamilan, sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia bahas. Lintang melihat Willy yang masih melahap makanannya dengan santai. Baru saja Lintang ingin menjawab, namun suara Willy menghentikannya.
"Sedang dalam proses, Tan." Begitu katanya, hampir membuat Lintang tersedak. Lintang sama sekali tidak menyangka, Willy akan menjawabnya. Jawaban yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya. Namun, secepat mungkin Lintang menyadarkan dirinya bahwa apa yang dikatakan Willy barusan tidak lain untuk menyelamatkan harga dirinya sebagai suami. Ia tentu tidak ingin keluarganya tahu tentang sebenarnya terjadi antara ia dan Lintang.
"Wah, tante senang sekali mendengarnya. Rumah ini akan ramai dengan suara anak-anak. Begitukan Mbak Yu?" Tante Monik meminta dukungan dari Kakak Iparnya itu yang segera ditanggapi antusias oleh mereka semua. Kecuali satu orang, Zacky tiba-tiba kehilangan nafsu makannya. Ia merasa nyeri di hatinya semakin menjadi.
Nanar ditatapnya Lintang dari seberang. Gadis itu telah membuat ia menggantungkan harapan setinggi langit, entah mengapa ia benar-benar merasakan debaran tidak karuan saat melihat gadis itu. Apakah ia jatuh cinta? Zacky pun tidak tahu. Yang jelas, mencintai Lintang adalah hal yang salah dan jelas terlarang untuknya.
Zacky mengalihkan tatapannya pada Willy, yang masih menyantap makanannya sedari tadi. Ia memandang sepupu sekaligus rivalnya itu dengan penuh perhitungan.
Will, jangan sekalipun lo nyakitin Lintang. Gue gak akan tinggal diam kalo lo jahat sama dia. Sekali aja lo berulah, gue pastiin Lintang akan gue rebut dari lo saat itu juga. Lo beruntung, bisa menikah dengan perempuan seperti Lintang.
__ADS_1
Zacky membatin penuh kemantapan di dalam hatinya. Ia menyesap minuman yang disediakan pelayan dengan hati kacau karena melihat gadis yang telah menempati hatinya itu bersama lelaki lain. Namun, Zacky tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa berjanji untuk menjaga Lintang dari jauh, dan akan selalu siap kapan pun gadis itu membutuhkan bantuannya. Lintang seperti oase dalam padang gersang hatinya yang telah lama tidak tersentuh manisnya kata cinta. Lintang adalah gadis yang telah memikat hatinya yang sempat patah.