
Lintang terbangun di pagi hari dengan Willy yang juga sudah berada di sampingnya. Ia tidak tahu suaminya itu pulang jam berapa semalam.
"Sayang, bangun." Lintang membangunkan Willy dengan lembut sambil sedikit menggoyang tubuhnya.
Mata itu kemudian terbuka perlahan. Willy memandangnya sesaat. Lalu melengos dan beranjak menuju kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun seperti biasanya. Lintang jadi heran. Tapi ia tidak mau berpikir macam-macam, mungkin suaminya sedang lelah.
Saat telah selesai mandi pun, Willy tidak menyapanya. Ia juga secepat mungkin memakai baju lalu pergi ke perusahaan tanpa menunggu Lintang selesai mandi.
"Kamu kenapa sih Kak?" Tanya Lintang, ia mengirim pesan pada suaminya itu. Namun setelah menunggu beberapa menit, pesan itu belum juga dibalas oleh suaminya.
Ia masih berpikir positif, mungkin Willy sedang ada meeting. Akhirnya karena tidak ingin berpikiran yang macam-macam, Lintang memutuskan untuk pergi ke restoran saja. Ia rindu pada suasana di restorannya. Juga pada para staff yang telah bekerja dengan baik di sana.
"Ma, aku ke restoran ya sekalian mau ajak Al juga." Lintang menghampiri mama dan meminta izin.
"Boleh, tapi jangan lama-lama ya Lin. Kamu kan mesti banyak istirahat."
"Iya Ma, aku nanti pulang cepat kok." Lintang mengambil alih gendongan mama pada Al.
Lintang pergi diantar oleh sopir. Sepanjang perjalanan, ia terkenang sikap Willy yang berubah jadi dingin padanya.
Saat telah sampai di restoran, Nora mengajak Al bermain. Lintang sendiri duduk di pinggir kolam ikan. Ia menekan nomor telepon Willy.
"Kenapa telepon?" Tanya Willy datar. Lintang semakin bingung. Bukannya mereka sudah biasa berteleponan seperti ini?
"Kak Willy kenapa? biasanya juga kita telponan kalo kakak lagi di kantor."
"Aku lagi sibuk Lin." Sahut Willy malas.
"Aku salah apa sih Kak? kalo aku ada salah, kakak ngomong dong." Desak Lintang.
Willy terdengar menghela nafasnya di seberang telepon.
"Udahlah, aku lagi banyak kerjaan."
"Kak Willy pasti ketemu perempuan lain ya semalam?" Tuding Lintang kesal.
"Asal aja kamu. Udahlah aku lagi gak pengen debat." Sergah Willy dengan suara lelah.
__ADS_1
"Kak, aku gak suka diem-dieman gini. Kenapa sih? aku salah apa?" Lintang terus mendesak.
"Aku ketemu Devan semalam! puas kamu?"
Telepon ditutup. Willy memutuskan sambungannya. Lintang terperangah, suaminya ternyata sedang cemburu. Pada siapa tadi? ia berusaha mengenang nama pria yang baru saja di sebut oleh suaminya. Devan. Ya Devan. Dan Lintang akhirnya ingat pada seorang pria yang pernah menyukainya dahulu.
Lintang menarik nafas panjang. Ia memang mengenal Devan, bahkan jauh sebelum Willy mengenalnya. Namun, mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan pria itu dulunya meski pun Devan kerap menyatakan perasaannya.
Lagipula, sejak Kakek menjodohkan dirinya dengan Willy, Lintang sudah tidak pernah bertemu Devan lagi.
"Kau salah paham, Kak." Bisik Lintang lirih.
Dan di saat Lintang sedang larut dalam pikirannya tentang Willy, Nora menghampirinya dengan Al bersamanya pula.
"Mbak Lintang, ada yang nyariin mbak."
"Siapa Nor?" Tanya Lintang pelan.
"Namanya, mas Devan Mbak."
Deg.
...****************...
"Mas Devan."
"Lin." Devan berbalik hendak berdiri namun Lintang menahannya.
"Duduk aja Mas." Ia ikut duduk juga berhadapan dengan pria itu terhalang meja.
"Apa kabar Lin?" Tanya Devan sambil tersenyum.
"Baik Mas. Mas Devan sendiri?"
"Aku juga baik, Lin. Gak nyangka ketemu kamu sekarang udah hamil." Kata Devan sambil tertawa kecil.
"Hmmmm, ada apa mas kesini?" Tanya Lintang langsung.
__ADS_1
"Aku mau minta maaf sama suami kamu Lin. Semalam, kita gak sengaja ketemu, dan aku bilang dulu aku sempat mau melamar kamu. Aku gak nyangka dia jadi marah banget." Ujar Devan penuh sesal. Lintang menghela nafas. Jadi benar, Devan dan Willy telah bertemu semalam.
"Iya Mas, gak papa. Kak Willy hanya salah paham." Sahut Lintang akhirnya. Ia tahu akan sulit meyakinkan suaminya itu.
Dan di saat itu pula, Willy melihat dari kaca mobilnya tanpa diketahui Lintang dan Devan. Ia jadi mengepalkan tangan. Tadinya ia ingin menghampiri keduanya tapi ia tidak mau membuat keributan di sana. Willy memutuskan untuk melajukan mobilnya kembali.
"Kak Willy belum balik ya Ma?" Tanya Lintang saat ia telah tiba di rumah. Mama menghampirinya dan Al.
"Willy tadi pulang sebentar, terus katanya mau ke apartement ada barang yang mau diambil di sana."
Lintang menghela nafas lagi. Suaminya itu kalau merajuk pasti seperti itu. Diam dan menghindar. Lintang akhirnya memutuskan untuk ke apartement juga.
Saat sampai di depan pintu ia langsung menekan passcode. Lintang mencari Willy, ia menemukan suaminya sedang tidur telentang di ranjang dengan tangan yang diletakkan di atas dahinya, membuat matanya jadi sedikit tertutup.
"Kak." Lintang memanggil, Willy bergeming. "Kak!" Akhirnya Lintang mengguncang pundak suaminya itu.
" Ngapain sih kamu kesini?" Willy akhirnya bersuara meski posisinya tidak berubah. "Temenin aja terus mantan pacar kamu di restoran." Sambungnya lagi.
Lintang tersentak, berarti Willy tadi sempat mampir ke restoran.
"Ceritanya gak kayak yang Kak Willy pikirin. Aku bisa jelasin, lagi pula siapa yang mantan pacarnya siapa sih. Aku sama mas Devan itu dulu gak pacaran kok." Lintang menjelaskan panjang lebar.
"Oh." Singkat tapi membuat Lintang gemas.
"Sayang, aku beneran gak ada hubungan apapun sama Mas Devan. Jadi tadi dia ke restoran aku mampir mau minta maaf sama kamu. Dia sempat ke perusahaan, tapi kamu lagi ada meeting sama di perusahaan lain tadi."
Willy membuka matanya, menatap istrinya sebentar. Lalu melengos lagi.
"Aku gak suka kamu gak pernah cerita apapun tentang laki-laki yang pernah mencintai kamu."
"Kamu kan gak pernah tanyain, Kak. Lagi pula gak penting juga kan. Aku gak macem-macem kok di belakang kamu."
Willy masih diam. Tapi ia nampaknya sudah melunak. Lintang menghela nafas lagi.
"Aku pulang aja deh, percuma aku susul kamu jauh-jauh ke sini." Lintang beranjak meninggalkan kamar lalu hendak menuju pintu utama, namun, Willy tiba-tiba menarik lengannya. Ia membalikkan Lintang, merapatkan tubuh istrinya itu ke dinding.
Willy mencium bibir Lintang lembut lalu semakin menuntut. Ia menatap mata Lintang, seolah sedang berusaha menemukan kejujuran di sana. Willy menggiring Lintang menuju sofa. Ia mulai mengecup inci tubuh istrinya mulai dari bibir, leher turun ke bawah.
__ADS_1
"Kak.. " Lintang melenguh saat Willy mulai bermain di sekitaran dadanya. Willy naik ke atas, menatap mata Lintang.
"Maaf." Lirih Willy lalu ia mulai bergerilya lagi dengan tubuh istrinya. Willy juga mengecupi perut buncit Lintang. Mereka menghabiskan waktu di apartement malam itu.