
Hari ini Lintang datang ke kampus hanya sebentar. Ia hanya datang untuk mengurus semua berkas cuti kuliah. Lintang tidak bisa melanjutkan kuliahnya untuk sementara waktu. Kehamilannya sudah semakin besar dan mendekati hari persalinan. Setelah selesai dengan tujuannya, Lintang pergi ke kelas yang sudah nampak lenggang. Ia mencari Sela. Namun, Lintang tidak menemukan sahabatnya itu di kelas. Apa mungkin Sela tidak masuk? tapi sepertinya dugaannya tidak benar sebab setelah ini akan ada mata kuliah lain.
Lintang mendekati salah seorang mahasiswi yang ada di kelas itu. Iya ingin menanyakan dimana Sela berada saat ini.
"Kamu lihat Sela?" Tanya Lintang pada mahasiswi yang sedang mengeluarkan buku ke atas mejanya.
"Sela udah satu minggu gak kuliah lagi, Lin. Dia gak bilang sama kamu?" Gadis itu mengerutkan keningnya.
"Gak. Aku terakhir ketemu Sela Sabtu malam kemarin." Lintang mengingat terakhir kali ia bertemu sahabatnya itu di rumah induk pada hari ulangtahunnya.
"Kamu juga gak tahu mamanya Sela udah meninggal tiga hari yang lalu? kamu juga gak tahu papa Sela sekarang di penjara?" Tanya gadis itu lagi.
Deg.
Lintang merasa tubuhnya lemas seketika. Ia benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi dengan sahabatnya. Sela terlalu tertutup tentang keluarganya. Kini ia harus menerima kabar buruk tentang Sela. Dan Lintang sedih harus mendengarnya dari orang lain.
Lintang menghampiri Willy yang masih menunggunya di dalam mobil. Di dalam ia terlihat mengatur nafasnya yang tersengal. Lintang merasa kecemasan menjalari seluruh tubuhnya kini. Ia harus ke rumah sahabatnya itu.
"Kak bisa tidak kita ke rumah Sela dulu?" Pinta Lintang penuh harap yang tentu saja langsung diiyakan oleh suaminya itu. Setelah menyebutkan alamatnya, Willy segera melajukan mobilnya menuju tempat tujuan istrinya.
Lintang keluar dari mobil setelah sampai di depan gerbang besar rumah Sela. Ia lemas, tubuhnya merosot setelah melihat gerbang itu telah di gembok. Nampaknya rumah itu telah di sita. Lintang menangis sesegukan, ia merasa tidak berguna sebagai sahabat Sela.
__ADS_1
"Sayang, tenanglah. Biar aku mencari tahu kemana sahabatmu itu dan apa yang telah terjadi pada keluarga mereka." Willy memeluk Lintang yang terguncang.
"Kak.. apa aku jahat sekali. Aku tidak ada di sampingnya saat ia susah." Lintang tersedu-sedu.
"Tidak, sayang. Ini bukan salahmu. Sela mungkin punya alasan kenapa ia tidak mau memberitahumu selama ini." Willy berusaha menenangkan istrinya.
"Dimana dia, Kak. Sepertinya rumah ini sudah cukup lama ditinggalkan." Lintang menatap Willy, ia sedang berusaha menghilangkan isak tangisnya.
"Tenanglah, aku akan meminta bawahan ku untuk mencari informasinya. Kau tidak boleh bersedih, sayangku. Ingat anak kita akan ikut sedih jika kau bersedih." Kata Willy lagi. Akhirnya Lintang mengangguk pelan. Ia membiarkan Willy menuntun dirinya untuk masuk ke dalam mobil dan mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Di dalam mobil, Lintang tidak berhenti menyeka airmatanya. Ia sedih tidak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Sela. Ia tidak akan pernah menyangka, sosok Sela yang ceria, bicara apa adanya, pemberani dan juga sering menghibur dirinya, nyatanya memiliki masalah keluarga yang lebih berat darinya. Lintang terus berdoa di dalam hatinya agar Sela tetap baik-baik saja dimana pun ia berada.
...****************...
Willy menghampiri Lintang, dipeluk istrinya itu dari belakang. Ia ingin menyampaikan kabar ini, namun ia harus membuat suasana senyaman mungkin.
"Sayang, kau sudah siap mendengar berita tentang sahabatmu itu?" Tanya Willy sambil mengelus perut Lintang.
"Apa yang terjadi, Kak? Apa Sela baik-baik saja? Lintang berusaha menghubunginya sedari tadi, tapi nomornya sudah tidak aktif lagi." Keluh Lintang.
"Sayang, kau mau berjanji untuk bisa menerima semua informasi ini? Aku akan mengatakannya tapi kau harus tenang."
__ADS_1
Lintang akhirnya mengangguk. Ia harus siap mendengar semua informasi itu, yang terburuk sekalipun.
"Sayang, Sela sudah tidak berada di Jakarta lagi. Ia sudah pergi." Lintang lemas. Tapi ia ingin mendengarnya lagi. "Ayahnya, Tuan Januardi telah melakukan korupsi dalam jumlah yang sangat besar hingga perusahaan merugi dan sekarang ia di penjara. Ibu Sela telah meninggal tiga hari yang lalu karena jantung. Sela selama ini ternyata hidup mengontrak rumah kecil tanpa sepengetahuan siapa pun. Dan dari cerita Ibu kontrakan, Sela telah pergi dari sana ke tempat lain kemarin. Kau harus tabah sayang, Sela pasti punya alasan mengapa ia tidak mau bercerita padamu." Willy menarik Lintang ke dalam pelukannya. Lintang kembali menangis tersedu-sedu. Tapi ia tahu ia tidak bisa melakukan apapun lagi. Sela telah memutuskan untuk meninggalkan Jakarta.
Mungkin, Sela malu mengatakan kebangkrutan ayahnya. Atau ia tidak ingin menyusahkan Lintang dan membuat sahabatnya yang sedang bahagia itu bersedih juga. Lintang tidak tahu. Yang jelas kini ia sedang dirundung duka karena sahabatnya.
Willy mengajak Lintang untuk duduk di ranjang. Ia membiarkan Lintang menangis di bahunya. Terasa kemejanya basah oleh airmata. Willy juga merasakan apa yang di rasakan oleh istrinya itu. Namun, ia terus menyemangati Lintang dan meyakinkan istrinya bahwa Sela pasti baik-baik saja saat ini.
"Sela selalu begitu, Kak. Ia tidak pernah mau berbicara tentang kesusahannya padaku." Lintang tersedu sendan.
"Ya, sayangku. Dia baik."
"Dia selalu menghiburku, dia selalu melindungi ku, dia selalu khawatir padaku sampai dia lupa bahwa dia juga punya masalah besar." Adu Lintang lagi.
"Kita berdoa ya, semoga Sela baik-baik saja dimana pun dia berada kini. Suatu saat ia pasti datang menemuimu lagi, sayang."
"Apa masih ada kesempatan itu, Kak?" Tanya Lintang dengan mata yang masih basah karena sisa airmata.
"Pasti, sayang. Suatu saat Sela akan kembali." Balas Willy mantap. Ia memiliki keyakinan bahwa sahabat baik istrinya itu pasti benar akan kembali nanti.
Lintang kembali menyandarkan tubuhnya pada Willy. Ia memeluk suaminya yang telah dengan lembut berusaha menenangkan dirinya. Lintang bahagia, Willy selalu ada disaat senang maupun sedihnya seperti saat ini. Betapa ia akan kesepian jika Willy tidak ada di sampingnya.
__ADS_1
Willy meraih dagu lancip istrinya itu. Ia mengecup bibir Lintang lembut. Ciumannya hangat dan sarat akan ketenangan. Lintang merasa damai dengan Willy di sisinya. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini. Ditemani dalam segala situasi. Dihibur ketika hati sedang gundah bersedih. Ditenangkan ketika jiwa sedang terguncang emosi. Lintang sempurna mencintai Willy. Tidak akan ada lelaki yang bisa menggantikan posisi Willy di hatinya. Ia akan membiarkan hatinya terus bermekaran, menjaga perasaan sakralnya dalam bentuk cinta yang sebenarnya, cinta sejati.