
Malam itu Lintang menemukan Willy telah berbaring di atas ranjang mereka. Suaminya telah tertidur. Ia melihat baby box, Al juga sudah tertidur pulas dengan salah satu ibu jari berada di dalam mulutnya. Lintang tersenyum kecil melihatnya, ia melepaskan perlahan jempol dari bibir mungil anaknya. Lintang mencium kening Al lalu menyelimutkannya.
Lintang menuju Willy, mendekat dan benar suaminya itu telah tertidur. Ia mengerutkan dahi, tak seperti biasanya Willy akan tidur dengan cepat seperti ini. Ia berbaring sedikit diatas tubuh suaminya, dan ia terkejut bukan main saat merasakan tangan dan area sekitar wajah Willy terasa panas sekali.
"Kak.." Lintang meletakkan punggung tangannya di atas pelipis Willy. Benar, terasa panas sekali.
"Sayang.." Serak suara Willy terdengar.
"Sayang, kau demam." Gumam Lintang. Ia segera menelepon dokter langganan keluarga mereka dan meminta Dokter itu agar segera datang.
Dokter Hilman datang setengah jam kemudian. Ia segera memeriksa keadaan Willy. Lintang senantiasa berada di dekat suaminya, menggenggam jemari Willy yang lemah.
"Dia kelelahan. Aku akan meresepkan obat dan vitamin untuk daya tahan tubuhnya. Minta lah Willy untuk istirahat hingga beberapa hari ke depan." Ujar Doktee Hilman sambil menyimpan kembali stetoskopnya.
Lintang mengangguk dan mengingat dengan baik perawatan apa saja yang harus ia berikan pada suaminya itu. Willy memang terlalu bekerja keras, apalagi saat ini proyek pembangunan di Semarang akan segera dilaksanakan. Suaminya pasti sedang sibuk-sibuknya.
"Sayang, istirahat lah untuk beberapa hari ke depan, agar kau cepat pulih." Ujar Lintang sambil membelai rambut tebal suaminya.
"Iya, sayangku. Maaf aku merepotkan mu saat ini." Gumam Willy, ia menyunggingkan senyum pada Lintang yang menatapnya penuh perhatian.
"Aku senang bisa merawat mu, suamiku. Cepat sembuh ya." Lintang mengecup kening Willy lalu menyelimutinya. Ia juga tidak berhenti mengompres dahi suaminya dengan air hangat kuku agar panas nya cepat turun, cara tradisional yang masih sering ia terapkan hingga saat ini.
Lintang tidur memeluk Willy. Ia berharap panas suaminya akan segera turun. Tidur Willy juga nyenyak karena Lintang senantiasa berada disisinya juga sangat telaten merawat dirinya yang sedang sakit. Keduanya tertidur, Alvaro juga tidak rewel malam ini, ia seolah mengerti Ayahnya lebih membutuhkan bunda malam ini.
...****************...
Pagi hari saat terbangun, Lintang langsung memeriksa keadaan suaminya. Ia tidak lagi merasakan panas seperti kemarin. Hanya tubuh Willy masih sedikit lemah.
"Sudah enakkan?" Tanya Lintang lembut. Willy mengangguk pelan.
"Benda kenyal ini yang sudah menyembuhkan ku." Willy menunjuk dua benda yang menyembul dari piyama yang kancingnya telah terbuka setengah.
__ADS_1
Lintang menunduk dan benar saja beberapa kancing piyamanya telah terbuka. Bagaimana ia bisa tidak sadar bahwa Willy telah membukanya dan membenamkan wajahnya di sana sepanjang malam?
Lintang memandang gemas suaminya yang hanya balas memandangnya sambil nyengir itu. Dan lihatlah tatapan suaminya itu, Oh betapa mesumnya. Lintang mencubit perut Willy dengan gemas, membuat suaminya itu meringis sesaat. Tapi kemudian, ia menggelitik pinggang Lintang membuat istrinya itu tertawa dan menggelinjang. Lintang memohon pada Willy untuk menghentikannya.
Mereka tertawa bersama diatas ranjang yang sudah berantakan. Lintang mengatur nafasnya yang tersengal karena lelah tertawa.
"Kau jahil sekali." Ujar Lintang sambil mengatur nafasnya.
"Aku suka melihatmu tertawa." Willy mendekati Lintang, memeluk istrinya dari belakang. Tangannya mulai nakal lagi. Menjamah dan bergerilya liar.
"Euhhmm hentikan, Kak.. nanti Al bangun." Desah Lintang tertahan.
"Aku selalu menyukai aroma tubuhmu. Kau membuatku bergairah sepanjang waktu." Willy mendengus leher jenjang istrinya.
"Sayang, aku sudah sembuh, ayo mandi bersama." Willy mengangkat tubuh Lintang, membawanya turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi.
Ia akan memanfaatkan pagi dengan Al yang belum bangun dari tidur itu dengan bergulat bersama istrinya sepuas mungkin. Willy dan Lintang mengerang dibawah pancaran air. Lintang mendesah terbakar gairah yang ditiupkan suaminya. Pagi itu mereka kembali memulainya dengan bercinta penuh gairah yang membara.
...****************...
Alvaro sudah mulai merespon jika Ayah dan Bunda memanggil namanya. Bocah kecil itu akan tertawa lucu setiap kali melihat ayahnya melucu.
Mereka bertiga sedang berada di ruang bermain Al. Menemani anak mereka.
"Kak, kemarin Kak Fiska datang ke restoran." Ujar Lintang ditengah keasyikan mereka mengajak Alvaro bermain.
"Apa dia macam-macam lagi?" Tanya Willy cepat.
"Tidak, sayang. Sebentar, aku akan mengambilkan sesuatu." Lintang beranjak menuju kamar dan setelah kembali, ia membawa undangan yang kemarin Fiska berikan padanya.
"Dia akan segera menikah." Lintang memberikan undangan itu. Willy melihatnya sekilas, lalu tersenyum.
__ADS_1
"Kita akan menghadirinya." Ujar Willy kemudian.
Keduanya kemudian kembali hanyut dalam suasana bahagia bersama buah hati mereka. Karena Al mulai menangis, Willy menggendong anaknya itu dan membawanya keluar. Nampaknya Al mulai bosan pada mainan-mainan itu.
Lintang dan Willy membawa Al turun menuju taman belakang. Al mulai tertawa lagi apalagi setelah ia melihat nenek mendekat dan mengambil alih gendongan akan dirinya.
"Duh, cucu nenek dicariin dari tadi ternyata di sini." Miranti membawa Al ke kursi taman diikuti Willy dan Lintang di belakangnya. "Will, kamu udah sehat?" Tanya Mamanya.
"Udah enakkan kok, Ma." Sahut Willy sambil tersenyum, di sampingnya Lintang hanya tertawa kecil mengingat apa yang dilakukan suaminya itu semalam.
"Ya terang udah enakkan, Lintang kamu peluk sampe mau abis nafas." Celetuk Mama. Lintang mencubit pinggang Willy lagi.
"Mama, tau aja yang enak-enak." Balas Willy terkekeh.
"Dasar kamu tuh, untung Al pengertian." Kata Mamanya lagi. Willy hanya tertawa mendengar celotehan Mamanya itu.
"Aku yang ajarin dong, Ma. Harus ngerti kalo Ayah sama Bundanya mau mesra-mesraan." Sahut Willy dengan mimik yang dibuat serius.
Mama melemparkan kuncir rambut pada putranya itu.
"Lin, kalo dia nakal gigit aja." Kata Mama lagi.
"Aku suka kok kalo Lintang gigit." Willy lagi-lagi terkekeh. Lintang sudah seperti kepiting rebus wajahnya. Merah.
"Tendang aja perkakasnya Lin." Ujar Mama kejam. Willy bergidik ngeri mendengarnya. Ia bertambah ngeri saat Al tiba-tiba tertawa setelah nenek mengatakan itu. Lintang kontan jadi ikut tertawa juga.
"Kejam sekali mama." Tukas Willy.
Miranti hanya tertawa melihat tingkah putra kesayangannya itu. Ia memeluk Al dengan sayang. Kebahagiaannya lengkap. Punya menantu baik hati, anak yang sayang keluarga dan juga cucu tampan yang sangat lucu.
Sejauh ini kehidupan keluarga besar berjalan sangat baik bahkan lebih baik dari pada harapan dan dugaannya. Semoga akan seperti ini selamanya. Harapan Miranti di dalam hati.
__ADS_1