
Holla guys, para readers kesayanganku, jadi setelah baca koment kalian juga ada beberapa teman yang DM aku di instagram untuk tetap meneruskan kisah Willy dan Lintang ini, So aku putusin buat lanjutin beberapa episode lagi ya. Dan juga mulai membuat novel kedua yaitu kisah tentang Sela dan Zacky.
Jadi silahkan dilanjutkan lagi ya membacanya. Terima kasih sudah mendukung novel remahan rengginang ini hihihi.
Author Julies tq banyak.
Salam cinta.
...****************...
Bayi Alvaro sudah semakin aktif dari hari ke hari. Ia jadi lebih sering berbicara dengan bahasa bayinya dan itu membuat seisi rumah menjadi sangat bahagia. Willy dan Lintang juga semakin kompak merawat dan menjaga pangeran kecil mereka. Bayi Alvaro suka sekali diajak bercerita. Ia tampak membalas apa yang dikatakan Lintang atau anggota keluarga lain yang mencoba berbicara dengannya. Sesekali ia akan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya menjadi gerakan kecil menendang.
Saat ini ia sudah memasuki usia lima bulan. Sudah semakin kuat untuk bergerak aktif. Nampaknya ia juga sudah mulai belajar untuk duduk. Lintang senang sekali dengan perkembangan anaknya yang gembul.
"Hai anak ganteng bunda, semakin aktif saja kamu, Nak. " Lintang menjawil puncak hidung mancung putranya.
Miranti datang menghampiri Lintang dan cucunya, ia mengambil alih gendongan Alvaro pada tangan Lintang.
"Aduh, cucu Nenek semakin tampan saja." Miranti mengusap pipi gembul Alvaro.
"Ma, Kak Willy kayaknya pulang telat lagi ya?" Tanya Lintang sambil mendaratkan tubuhnya di kursi santai dekat kolam renang.
"Sepertinya, Lin. Akhir-akhir ini Papa sama Willy sibuk sama proyek baru lagi di Kota Semarang." Tukas Miranti.
"Mereka pekerja keras sekali, Ma." Sahut Lintang sambil menerawang.
"Semua anggota keluarga besar memang jiwa bisnisnya kuat sekali, Lin. Apalagi Willy, dia dari kecil sudah sering melihat aktivitas di perusahaan, Kakek selalu membawanya dulu ke sana."
Lintang mengangguk-ngangguk paham. Ia mengerti memang Franky telah begitu memberi banyak pengaruh dan arahan yang positif untuk semua anggota keluarganya agar bertanggung jawab pada kerajaan Dwianuarta Group. Terbukti hingga sekarang, Kerajaan yang dibangun susah payah itu masih berdiri kokoh dan semakin terkenal namanya dari hari ke hari.
"Lin, kamu pengen gak punya usaha kuliner?" Tanya Miranti masih sambil menggendong cucu kesayangannya.
"Tentu aja, Ma. Lintang suka memasak. Pengen banget punya usaha kuliner nantinya." Jawab Lintang antusias. Miranti tersenyum mendengarnya. Ia tahu bakat menantunya dari dulu dalam mengolah makanan.
__ADS_1
"Nanti kau pasti bisa mewujudkannya." Kata-kata itu penuh arti. Miranti mengedipkan matanya, meski tak mengerti, tapi Lintang tersenyum dan mengangguk saja.
"Eh, udah tidur Al." Lintang menghampiri Mama. Keduanya kemudian berjalan menuju kamar untuk meletakkan kembali Alvaro di dalam baby box.
Mama dan Lintang kemudian melanjutkan obrolan mereka tadi di balkon atas. Keduanya bercengkrama hangat sembari menanti kehadiran Willy dan Ayah Mertua.
...****************...
Willy tiba di rumah sudah cukup malam meski belum larut. Ia sampai pukul delapan malam lebih lama satu jam dari Ayahnya. Willy seperti biasa ketika pulang langsung masuk menghampiri istri dan anaknya. Alvaro sedang suka sekali diajak bicara. Ia akan membalas siapapun yang mengajaknya bicara tentu dengan bahasa bayinya.
Willy melihat Lintang kini sudah mulai mengecil lagi tubuhnya, pinggangnya sudah lebih ramping namun dada dan bagian belakangnya masih nampak sintal saja.
"Sayang, maaf aku pulang terlambat lagi ya." Willy meraih istrinya, mengecup bibirnya sekilas lalu menghampiri Alvaro.
"Iya Kak, Aku udah dengar dari Mama, perusahaan sekarang lagi sibuk-sibuknya." Sahut Lintang sambil membantu Willy membuka jas kerja.
"Ya, tapi nanti sepertinya aku akan sedikit bersantai, karena Setya sangat bisa diandalkan."
"Kak, kau tampak pucat. Aku siapkan air hangat, mandilah agar tubuhmu segar. "
"Kau pekerja keras sekali." Lintang mengecup pipi Willy. "Mandilah, nanti kau akan ku pijat." Ujar Lintang yang segera di balas anggukan oleh suaminya itu.
"Aku perkasa." Sahut Willy sambil mengedipkan sebelah matanya. Lintang mencubit pelan perut sixpack suaminya itu.
"Ya kau perkasa sekali, sayang." Balas Lintang.
"Kau ingin merasakannya sekarang?" Goda Willy sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang, mandilah secepatnya, kau akan kehilangan kesempatan merasakan pijatan ku jika Al terlanjur bangun." Lintang mengingatkan suaminya yang segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Willy juga langsung berganti pakaian. Rambutnya yang masih setengah basah ia biarkan mengering dengan sendirinya. Lintang sudah menunggunya di atas ranjang. Ia menepuk ranjang, meminta Willy untuk tengkurap lalu mulai memijatnya.
"Enak. Sepertinya kau harus memijatku setiap hari." Ujar Willy dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Kau mendapatkannya hampir setiap malam." Sahut Lintang dengan senyum jahilnya.
"Tapi, sekarang durasinya tidak bisa terlalu lama, Al suka terbangun." Sambung Willy. Lintang tertawa kecil mendengar keluhan suaminya itu.
Ia juga jadi ingat suara Al yang menangis melengking saat ia sudah di ujung dan akan mencapai klimaks namun berhenti begitu saja. Willy menggeleng geleng mengingat kenangan tidak enak sekaligus lucu itu.
"Ia jadi ceriwis sekali sekarang." Katanya lagi.
"Al sudah semakin tumbuh dan berkembang." Sahut Lintang, ia melihat baby box berisi putranya yang sedang pulas.
"Kau menjaganya dengan sangat baik, sayang." Willy berbalik perlahan, membuat Lintang menghentikan kegiatan memijatnya.
"Karena kau yang selalu membantu dan mendukungku." Willy meraih istrinya, mengecup bibirnya mesra.
"Aku belum selesai memijat mu." Lintang meminta Willy untuk tengkurap lagi.
"Aku yang akan memijat mu sekarang." Willy menatap istrinya penuh arti, ia berjalan turun dari ranjang, mengunci pintu, mematikan lampu lalu kembali merajut malam panjang bersama Lintang.
...****************...
Pagi datang menyapa, di meja makan dengan hidangan sarapan itu mereka berkumpul. Membicarakan hal yang menyenangkan, di iringi senda gurau ringan dan menghibur.
"Ma, Kayaknya aku sama Lintang udah bisa balik ke apartement." Ujar Willy pada Ibunya.
"Nanti aja Will, lagian Al masih kecil." Ujar Miranti tidak rela. Ia tidak ingin berpisah dengan cucunya.
Willy jadi garuk-garuk kepala. Ia benar sudah ingin kembali ke apartement. Tapi tidak enak juga pada Ibunya itu.
"Lintang akan sering ke sini, Ma. Sama Al." Lintang mencoba menjadi penengah.
"Duh Lin, suamimu itu loh, rumah udah segede ini masih aja mau tinggal di apartement." Keluh Mama lagi. "Lagian, rumah kamu di belakang itu sayang banget kan kalo gak ditinggali lagi." Lintang berpikir, ada benar juga apa yang dikatakan Ibu Mertuanya ini. Tapi keputusan tetap berada di tangan suaminya.
"Hmmm kita bicarakan nanti aja ya, Ma. Aku pikir-pikir dulu." Putus Willy akhirnya. Ia jadi kasihan juga pada Mamanya yang tidak bisa berpisah dengan cucunya itu.
__ADS_1
"Nah, gitu dong. Kan sama-sama enak." Sahut Mama sumringah. Ia pasti bisa membujuk Willy dan Lintang untuk tetap berada di rumah itu bersama mereka. Begitu pikirnya.
Mereka kembali berbincang hangat, setelah itu seperti biasa, Willy akan pergi berangkat menuju perusahaan hingga sore menjelang.