
Satu minggu berlalu, akhirnya Zacky benar-benar mantap meninggalkan kota Jakarta. Hari ini ia akan pergi ke Bandung, tempatnya yang baru. Audy tak hentinya memeluk Zacky yang akan masuk ke dalam mobil..
"Hey, bocah. Gue pergi gak jauh kok, lo bisa ke sana kalo lagi libur." Hibur Zacky sambil mengusap lembut rambut adiknya yang mulai memanjang.
"Aku pasti kangen Kakak." Audy menghapus airmatanya yang mengalir. Ia sangat dekat dengan Zacky, wajar jika ia akan sedikit sulit menerima kepergian Kakak satu-satunya itu.
"Gue juga pasti kangen sama lo."
"Kak Zacky sering-sering pulang ya." Pinta Audy penuh harap. Ia menatap Kakaknya. Zacky hanya mengangguk.
"Lo belajar yang bener. Bentar lagi ujian, jangan banyak main." Nasihat Zacky.
"Iya, Kak. Kakak juga ya jangan banyak galau. Nanti kerjanya gak konsen." Audy mengerlingkan matanya. Ia bukannya tak tahu bahwa Zacky mencintai Lintang. Namun, ia bangga Kakaknya mampu berlapang dada menerima semua kekalahannya dan dengan jantan melepaskan Lintang pada hati yang lain.
"Yee lo ngejek gue mulu." Zacky mengacak-acak puncak kepala adiknya itu dengan gemas.
"Aku serius, Kak. Kak Zacky harus bahagia. Nanti kalau bertemu calon Kakak ipar, jangan lupa bawa ke sini ya." Tulus Audy pada Kakaknya.
"Iya, lo udah pinter ya sekarang." Balas Zacky. Ia memeluk adiknya erat.
Monik, Ibunya keluar dari rumah, ia menghampiri Zacky dan memeluk anak pertamanya itu. Ia juga pasti akan rindu pada Zacky. Zacky sosok yang ramah, ia disenangi semua keluarga. Sosoknya yang ramai membuatnya jadi mudah bergaul dan memiliki banyak sekali teman.
"Zack, hati-hati ya. Mama selalu rindu padamu." Ibunya merangkul Zacky.
"Papa udah berangkat ya, Ma?" Tanya Zacky, ia tampak celingukan mencari sosok ayahnya.
__ADS_1
"Sudah. Pagi tadi berangkat karena ada pertemuan dengan perusahaan pusat."
"Aku titip salam ya, Ma. Mama jangan telat makan lagi, nanti maghnya kambuh." Ujar Zacky pada Ibunya yang segera mengangguk.
"Haduh, Mama itu sudah terbiasa lihat kamu sama Audy kalau di rumah. Rumah pasti sepi gak ada kamu, Zack." Keluh Ibunya. Zacky merangkul Monik dengan sayang.
"Gak papa, Ma. Nanti kita akan berkumpul lagi. Zacky janji nanti bawa menantu buat Mama." Zacky mengerling nakal, membuat Ibunya berbinar-binar.
"Benar ya, Mama gak sabar mau lihat kamu sama calon mantu." Sahut Mamanya penuh harap.
"Mana ada yang mau sama Kak Zacky, Ma. Kak Zacky bawel." Audy menjulurkan lidahnya membuat Zacky melotot.
"Ih Audy, Kakaknya punya niat baik kok gak didukung sih." Celetuk Monik membuat Audy terkekeh.
Akhirnya setelah puas bercengkrama, Zacky memasukkan koper yang berisi baju-bajunya. Ia akan pergi ke Bandung, memulai hidup yang baru di sana. Namun, Zacky tidak pernah berharap muluk-muluk akan menemukan perempuan yang bisa membuatnya kembali jatuh cinta. Zacky akan membiarkan hatinya mengalir apa adanya. Perkara jodoh, sudah ada yang mengatur. Bukankah begitu?
...****************...
Zacky melajukan mobil sportnya menuju Bandung. Mobil melenggang santai, membelah jalanan yang baru saja dibasahi air hujan. Perjalanan ke Bandung tidak terlalu lama dan memakan waktu, kurang lebih tiga jam Zacky akan tiba di rumahnya di Bandung. Ia juga sedang tidak teburu-buru. Ia melajukan mobilnya santai untuk menikmati perjalanan ditemani musik yang ia putar.
Zacky ingat percakapannya di kafe saat ia dan Willy pergi untuk minum kopi. Mereka berbincang hangat dan santai.
"Kenapa lo mesti pergi dari Jakarta, Zack?" Tanya Willy.
"Gue pengen cari suasana baru aja, Will."
__ADS_1
"Apa karena gue sama Lintang?" Willy menanyakan itu telak sekali, membuat Zacky terdiam sesaat tapi kemudian ia tersenyum kecil.
"Kurang lebih. Tapi, lo harus yakin gue emang pengen suasana baru, Will. Gue juga punya keyakinan bakal ketemu jodoh gue di sana." Ia terkekeh. Zacky dan Willy memang bicara sesuai kata hati mereka. Tidak ada yang perlu di tutupi dan itu membuat mereka jadi merasa lega karena tidak ada yang merasa dibohongi.
"Gue senang lo bisa dengan lapang menerima hubungan gue dan Lintang. Lo gak dendam kan sama gue?" Tanya Willy lagi.
"Will, sekuat apapun gue nahan Lintang, kalo hati dia cuma milik lo, gue akan sangat berdosa jika terus menahannya. Lagipula, cinta akan kembali pada pemiliknya. Dan gue gak pernah dendam sama lo bahkan dari kecil gue gak pernah menganggap lo musuh. Kalo gue dendam, gak akan ada acara minum kopi kayak gini sekarang." Zacky tertawa, membuat Willy juga ikut tertawa. Ia lega mendengar semuanya dari Zacky.
"Makasih ya Zack. Gue memang bodoh, selama ini salah menilai lo."
"Santai Will. Kita harus menjaga hubungan persaudaraan seperti keinginan Kakek." Timpal Zacky lagi.
Zacky kembali ke alam sadarnya. Ia masih mengemudikan mobil dengan santai. Rambutnya yang mulai memanjang ia ikat ke belakang juga bulu-bulu halus di sekitar wajahnya mulai tumbuh menghitam. Ia tampak maskulin sekali.
Zacky membuka kaca jendela mobilnya sedikit, membiarkan angin dan udara segar masuk. Ia merasakan semilir angin mulai membelai wajahnya. Sejuk terasa.
Zacky telah sepenuhnya meninggalkan kenangan di belakang. Ia juga telah rela dan lapang hati menerima kekalahan akan cintanya dan ia yakin suatu saat akan memenangkan hati yang lain. Setidaknya, kesalahpahaman antara ia dan Willy selama ini, sikap permusuhan mereka juga segala prasangka telah hilang tak berbekas.
Zacky tidak ingin larut dalam prasangka yang tidak baik mengenai sepupunya itu. Dengan ia melihat sendiri bagaimana Willy kini begitu menyayangi juga memperlakukan Lintang penuh cinta, ia sudah tahu bahwa mundur adalah pilihan yang tidak bisa dibantah oleh hatinya.
Zacky juga bahagia melihat kebahagiaan mereka yang telah lengkap dengan kehadiran buah hati hasil dari cinta keduanya yang begitu dahsyat. Ia berharap suatu saat, ia akan menemukan sosok yang lain, seorang perempuan yang mampu membuatnya bertekuk lutut dalam penyerahan paling sempurna yaitu jatuh cinta tanpa syarat pada perempuan itu.
Walau kini, Zacky sendiri menjadi lebih selektif, ia jadi lebih hati-hati untuk jatuh hati. Bukan berarti ia ingin menutup hatinya pada perempuan lain. Ia tidak ingin seperti itu. Ia hanya ingin memastikan, kelak perempuan yang bersamanya adalah ia yang tidak akan pernah meninggalkannya juga tidak pernah menyimpan perasaan pada orang lain.
Seseorang yang akan membuatnya merindu siang malam seperti yang Willy dan Lintang kini rasakan. Betapa indahnya jika ia pun diberi kesempatan untuk merasakan itu. Semoga dewi Fortuna berpihak padanya kelak ditempatnya yang baru. Bandung.
__ADS_1