Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
54. Kerikil


__ADS_3

Setelah beberapa hari dari acara jamuan makan malam yang sekaligus menjadi acara pengumuman tentang kehamilan Lintang, pasangan suami istri itu tidak kembali ke apartement. Hari ini sabtu dan Lintang ingin tetap berada di rumah mungil. Jadilah ia dan Willy menginap. Pagi ini Lintang pergi ke dapur bersama para pelayan sudah mulai semangat ia untuk bercengkrama sambil memasak. Ibu Mertua yang melihat itu langsung panik. Ia tidak ingin Menantunya kelelahan apalagi sekarang ada calon bayi di dalam perut Lintang.


"Lintang, jangan melakukan apapun ya. Kamu cukup bersantai saja. Biarkan pelayan yang bekerja." Ujar Miranti sembari mengambil spatula yang baru saja berada di tangan Lintang.


"Gak papa kok Ma, Lintang juga sedang tidak sibuk." Lintang memandang tidak rela spatula yang telah berpindah tangan itu. Namun Ibu Mertuanya tetap berkeras Lintang tidak boleh melakukan apa pun.


"Kamu ikut Mama aja yuk. Kita ke mall, ada yang pengen mama beli. Sambil kita menunggu suamimu pulang " Kata Miranti lagi, ia sudah merangkul Lintang dan berjalan meninggalkan dapur.


"Iya Ma, Lintang ganti baju dulu ya."


"Gak usah Lin, begitu juga udah cantik kok." Ujar Miranti lagi, ia kemudian meminta Lintang untuk menunggunya di mobil.


Lintang mengangguk patuh saja, ia segera bergerak menuju mobil. Nanti mereka akan diantar supir. Tidak berapa lama, terlihat Ibu Mertuanya datang dengan membawa tas nya. Ia kemudian masuk lalu memerintahkan Pak Ujang untuk segera mengantarkan ke mall terbesar dan termewah yang ada di Jakarta.


"Lin, nanti setiap bulan jangan lupa check up ya. Mama pengen kamu sama cucu mama sehat terus." Ujar Miranti saat mereka telah dalam perjalanan menuju mall.


"Iya Ma, Kak Willy juga bilang gitu." Sahut Lintang sambil tersenyum.


"Kalau Willy gak sempat, kamu telepon mama ya. Biar mama yang temani." Balas Ibu Mertuanya lagi.


"Iya Ma, Lintang ngerti." Iya meraih jari jemari Miranti lalu menggenggamnya.


"Oh iya Lin, Fiska masih sering gak gangguin kamu atau Willy?" Tanya Miranti dengan mimik serius.

__ADS_1


Lintang terdiam sesaat, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Ia juga tidak mungkin menceritakan apa yang telah di perbuat perempuan itu beberapa minggu yang lalu hingga membuat ia harus pergi meninggalkan Willy waktu itu.


"Gak kok, Ma. Kak Fiska udah gak pernah ganggu." Jawab Lintang akhirnya.


"Syukurlah, anak mama memang tampan. Dari dulu banyak yang suka. Untungnya cuma satu yang segila Fiska itu." Sahut Miranti, ia memang sedari dulu tidak suka pada Fiska.


Lintang menelan ludah mendengarnya.


Mama cuma tahu satu. Yang satu nya lagi masih bebas berkeliaran. Desah Lintang dalam hatinya. Namun, ia tetap tidak mau mengatakan hal yang sesungguhnya pada Ibu Mertuanya yang baik hati itu.


"Kalau ada yang gangguin lagi, kalau Willy nya lembek, kamu bilang mama ya Lin. Biar mama bereskan hingga ke akar-akarnya." Kata Ibu Mertuanya lagi. Lintang jujur saja merasa sangat tersanjung atas semua perlakuan Miranti padanya. Ia merasa menjadi menantu paling beruntung di dunia.


Mereka akhirnya tiba. Miranti dan Lintang turun dengan Pak Ujang yang setia menunggu mereka di besment. Miranti mengajak Lintang ke salah satu Spa yang ada di dalam mall. Mereka akan di pijit, sauna, juga berendam dengan aromateraphy.


Sepanjang kegiatan mereka saling berbincang. Terkadang keduanya tertawa jika terkenang hal lucu yang menjadi gurauan di sela mereka menikmati pijatan yang diberikan oleh para profesional di tempat itu. Miranti memesan ruangan dan juga service VIP. Lintang merasa tubuhnya lebih segar dan ringan setelah ia menerima berbagai macam pelayanan dari para teraphy tersebut. Tubuhnya jadi wangi dan ia jadi lebih cantik, rambutnya juga di buat menjadi ikal bergelombang di bagian bawah. Lintang jadi lebih berbeda, ia nampak cantik sekali.


Lintang telah berada di dalam kamar mungilnya setelah hampir seharian bersama Ibu Mertuanya. Ia juga telah mengganti baju dengan dress rumahan selutut berwarna merah. Willy belum nampak juga, Lintang jadi rindu.


Lintang kemudian pergi ke luar rumahnya. Ia melihat banyak bunga bermekaran di sekeliling rumah. Ia mulai mengambil peralatan untuk merapikan bunga-bunga itu, juga memisahkan yang sudah tua agar tidak menganggu bunga yang masih segar.


Ia kaget saat tubuhnya kembali terasa di peluk dari belakang. Lintang melihat Willy dengan kemeja kerjanya seperti biasa. Ia mencium leher Lintang, wanginya seketika membuat Willy mabuk kepayang.


"Kenapa istriku bertambah cantik dari hari ke hari?" Tanyanya masih dengan tangan yang melingkari perut Lintang.

__ADS_1


"Kakak kenapa baru pulang?" Tanya Lintang dengan tangan masih sibuk merapikan kembang.


"Ada hal yang harus di bahas lagi untuk pembangunan proyek pekan depan. Oh Lintang, kenapa aku suka sekali memelukmu dari belakang seperti ini." Ujar Willy lagi, Lintang bisa merasakan benda itu kembali mengeras di antara pantatnya yang sintal.


"Hmm.. jadi suamiku akan ke Bandung minggu depan ya?" Tanya Lintang.


"Iya sayang, hey kau membuat rambutmu menjadi ikal. Oh, kau cantik sekali." Puji Willy sambil memegang rambut panjang istrinya yang telah bergelombang.


"Kak, apa nanti akan ada perempuan dalam proyek itu?" Tanya Lintang lirih.


"Ada Lin, Emilie akan ikut karena dia perwakilan dari perusahaannya." Sahut Willy, ia merasa biasa saja mengatakan itu karena memang ia hanya melakukan perjalanan bisnis, bukan hal yang lain. Lintang seketika menghentikan kegiatannya. Ia memutar tubuh, menghadap Willy.


"Ayo masuk Kak." Ujarnya tiba-tiba, membuat Willy terpaksa melepas tangannya dari pinggang Lintang.


Willy menepuk jidatnya lagi. Tentu saja ia telah membuat Lintang berpikir yang tidak-tidak setelah menyebut nama Emilie. Di lihatnya Lintang sedang duduk di samping jendela. Tanda ia sedang ada yang di pikirkan. Willy menghampirinya.


"Lin, tidak ada yang akan terjadi. Percayalah." Katanya dengan lembut. Ia meraih dagu istrinya agar Lintang bisa melihat matanya.


"Perempuan yang sudah menggilai lelaki, akan melakukan apapun dengan cara apapun untuk mendapatkan lelaki itu. Bahkan oleh sesuatu yang tidak terpikirkan sekalipun." Sahut Lintang pelan. Ia tahu hatinya sekarang gundah.


"Percayalah sayang, tidak ada yang akan terjadi. Aku berjanji padamu." Kata Willy lagi, ia berusaha meyakinkan Lintang. Lintang berdiri, ia menghindari Willy. Willy bingung harus bagaimana meyakinkan istrinya yang sedang merajuk secara halus itu.


"Iya Kak, pergilah nanti. Aku percaya padamu." Akhirnya Lintang setuju namun tetap saja ia merasa tidak rela. Willy bisa merasakan keraguan dari istrinya itu.

__ADS_1


"Aku memesan ranjang yang besar di penginapan sana nanti. Rasanya sayang jika istriku tidak ikut." Ia mengeluarkan senjata pamungkas. Dan Lintang menarik bibirnya, ia tersenyum lalu menghambur memeluk Willy yang segera menyambutnya lega. Dari tadi ia memang sengaja membuat istrinya seperti itu, padahal tanpa diminta pun ia akan tetap membawa Lintang bersamanya.


"Ayo mandi bersamaku." Ujar Willy akhirnya sambil membuka baju istrinya lalu mulai memboyong tubuh Lintang masuk ke kamar mandi bersama dirinya. Lintang menghela nafas lega mendapati kenyataan Willy tidak melupakannya.


__ADS_2