Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
24. Menjemput Lintang


__ADS_3

Pukul dua siang Lintang akhirnya bisa pulang setelah menyelesaikan perkuliahan hari ini. Saat ini ia sedang bersama Sela, sahabat baiknya. Sela dan beberapa temannya yang lain tak henti menggoda Lintang yang di ketahui telah menikah dengan pria tampan pewaris utama kerajaan Dwianuarta Group. Sela ingat waktu ia menghadiri acara pernikahan termewah yang pernah ia datangi. Rasanya mustahil untuk mempercayai kenyataan bahwa pernikahan itu terlaksana dengan dua orang mempelai yang terpaksa melakukannya.


Sela merangkul Lintang. Mengajak gadis itu menyusuri lorong kampus yang masih dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang. Dari kejauhan, Lintang seperti melihat Willy yang berjalan menuju mereka dari arah yang berlawanan. Pria tampan dengan tubuh atletis itu seketika menyedot perhatian banyak orang di sana. Beberapa mahasiswi seperti melihatnya bak arjuna yang sedang turun dari langit. Mereka tentu saja mengenali pria itu, ialah cucu kesayangan Almarhum Franky. Sela menyikut Lintang yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Sela mengakui ketampanan Willy yang di atas rata-rata itu. Namun, karena ia tahu perlakuan kasarnya pada Lintang, itu jadi menimbulkan minus di matanya.


Willy telah sampai di depan kedua gadis itu. Ia juga masih menjadi perhatian banyak orang di sana.


"Ayo pulang." Ujar Willy singkat. Lintang menoleh pada Sela. Sela mengangguk.


Keduanya berjalan menyusuri lorong kampus diikuti tatapan-tatapan penuh arti dari penghuni di sana. Ada juga sirik melihat keberuntungan Lintang. Lintang berusaha tidak memperdulikan semua tatapan kagum itu yang tentu saja hanya ditujukan pada suaminya. Ia mengikuti Willy sampai mereka tiba di mobil.


Di dalam mobil, keduanya terdiam. Willy fokus menyetir seolah tidak menganggap kehadiran Lintang di sampingnya. Lintang juga sedari tadi hanya menunduk. Ia sama sekali tidak berani membuka suara, bahkan untuk memalingkan wajah dan melihat Willy ia seperti kehilangan nyali.


"Besok kita pindah ke Apartementku. Ingat, jangan berkata apapun pada Mama." Ujar Willy sambil dengan fokus menyetir.


"Iya Kak. Aku ngerti." Sahut Lintang lirih. Ia sebenarnya berat sekali meninggalkan rumah mungilnya. Apalagi ia akan jarang bertemu ibu mertua yang sudah ia anggap ibunya sendiri itu. Sebenarnya kalau boleh memilih, Lintang ingin tetap menjalani aktifitasnya seperti dulu, tetap membantu membereskan pekerjaan rumah dan juga tetap sering ke dapur untuk berkreasi dengan masakan bersama Mbok Nah dan pelayan yang lain. Namun, apa boleh buat. Willy telah menetapkan keputusannya untuk pindah.


"Aku tidak akan menyewa atau membayar pembantu. Kau harus membereskan dan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri." Ujar Willy lagi, masih dengan tatapan lurus ke depan.

__ADS_1


"Iya Kak, gak papa. Aku bisa mengerjakan semuanya sendiri." Sahut Lintang. Jujur, ia memang tidak ingin kehadiran orang lain dalam mengurus kegiatan rumah tangganya. Lagi pula, ia jadi punya kesibukan setelah pulang kuliah. Ia menyambut senang perintah ini.


"Ingat, aku gak suka tempat kotor. Jangan ada yang berserakan atau kotor ketika aku sudah di rumah."


"Baik Kak, aku mengerti." Sahut Lintang lagi. Setelah itu, mereka kembali terdiam. Hening kembali mengambil alih sampai mereka tiba di rumah induk.


...****************...


"Lintang, Jangan ngerjain apa-apa lagi. Kamu itu sekarang udah jadi istri putra mama, jadi kamu tidak boleh capek-capek lagi." Miranti berkata dari belakang saat ia melihat Lintang kembali menyibukkan diri membantu para pelayan yang sedang menjemur baju.


"Gak papa kok Ma, Lintang juga gak ada kesibukan. Lintang senang bisa bantu ngerjain pekerjaan rumah kayak dulu." Sahut Lintang sambil tersenyum.


"Lintang, Mama pengen kamu itu lebih santai dan fokuskan diri mengurus suami aja. Mama senang, kamu masih seperti dulu, sederhana dan tidak macam-macam. Tapi, Mama juga pengen kamu itu bahagia. Selama ini kamu udah terlalu banyak mengabdikan diri untuk keluarga besar ini." Kata Miranti sambil membelai lembut rambut Lintang yang hitam dan panjang.


"Lintang mengerti, Ma. Tapi Lintang juga masih sulit melepaskan kebiasaan Lintang sedari dulu. Apalagi Lintang suka sekali memasak." Sahut Lintang membalas senyuman ibu mertuanya.


"Nah kalau masak, Mama gak larang. Yang penting, kamu harus menjaga kesehatan juga memprioritaskan kehidupan rumah tangga kalian."

__ADS_1


"Iya Ma." Ujar Lintang lagi.


"Lin, Mama sama Papa udah gak sabar pengen banget punya cucu." Kata Miranti, Lintang menunduk berusaha membuat suasana menjadi tetap menyenangkan baginya dan wanita itu.


Lintang tidak berani menjawab dan mengiyakan atau memberikan janji apapun perihal masalah anak. Ia hanya berharap kehidupan rumah tangganya akan tetap baik-baik saja meski Willy masih saja memperlakukan ia sekehendak hati. Willy juga tidak akan setuju dengan rencana memberikan keluarga besar mereka seorang cucu.


Lintang menghela nafas berat, pikirannya kembali berlarian ke sana kemari memikirkan nasib kehidupan rumah tangganya yang entah akan bagaimana nanti ke depannya.


Miranti kembali mengajak menantunya beranjak. Mereka bergerak menuju dapur. Hari ini Lintang mempunyai resep baru yang akan ia tunjukkan pada ibu mertuanya itu. Di dapur dan memasak adalah kegiatan yang paling Lintang sukai. Ketika berada di sana ia akan sangat antusias melihat banyaknya bumbu juga bahan masakan yang bisa di olah.


Setidaknya ketika berada di dapur, ia tidak akan merasa kesepian dan sendirian. Ia bisa menyalurkan hobby berkreasi dengan berbagai jenis masakan yang akan dihidangkan untuk keluarga besar mereka. Lintang juga bisa bersenda gurau dengan para pelayan juga ibu mertuanya yang selalu ikut dalam kegiatan menyenangkan itu.


Seperti saat ini ia dan ibu mertuanya telah sibuk dengan tepung dan beberapa bahan untuk membuat brownis. Beberapa pelayan yang lain juga sedang sibuk memasak untuk hidangan makan malam nanti.


"Lin, nanti kita ke rumah Tante Monik ya, kita anterin brownis ini." Ujar Miranti sambil membantu Lintang.


"Iya Ma, Lintang bikin agak banyak ya biar yang lain juga kebagian." Sahut Lintang.

__ADS_1


Miranti tersenyum lalu kembali meneruskan kegiatan mereka di dapur. Sudah lama ia tidak mengunjungi rumah keluarga adik iparnya. Tante Monik adalah ibunda dari Zacky dan Audy. Keluarga Dwianuarta memang terkenal sangat harmonis, mereka tidak pernah terlihat tidak kompak. Mereka juga rajin mengunjungi satu sama lain. Kecuali hubungan antara Willy dan Zacky. Kedua pria cucu Franky itu di ketahui tidak memiliki hubungan yang baik. Mereka sering berselisih dan terkadang tertangkap beberapa kali saling memandang dengan tatapan permusuhan.


Miranti sendiri tidak mau ambil pusing dengan gosip itu. Selama ini yang ia lihat keduanya baik-baik saja meski memang mereka tidak dekat. Namun, Miranti tahu keduanya adalah anak baik yang tidak mungkin akan saling memusuhi satu sama lain.


__ADS_2