
Usia kehamilan Lintang kini telah memasuki bulan ke lima. Perutnya sudah nampak membesar. Lintang sering bercermin, memandang perutnya yang nampak seperti balon. Ia tak pernah lagi memakai celana, semuanya sudah tak muat karena bagian pinggang sudah melebar. Ia juga tak lagi mual dan muntah, hanya kadang ketika datang pusing ia akan merasa matanya berkunang-kunang.
Lintang juga tetap berkuliah. Di kelas ia sering digoda teman-temanya. Lintang terlihat cantik dengan perut buncitnya. Sela paling sering mengelus perut sahabatnya itu. Ia sering bertanya bagaimana rasanya akan menjadi ibu.
"Ini asli perut kan?" Tanyanya sambil memandang lama. Lintang tertawa dibuatnya.
"Emang kamu kira ini apa? balon?" Lintang bertanya balik sambil tertawa.
"Gue kirain helmnya bik Sumi, yang punya kantin." Sela terkekeh menggoda Lintang.
"Ih jahat deh, ini perut tau. Isinya manusia baru hasil karya suamiku." Sahut Lintang sambil memeluk perutnya .
"Iya deh yang punya suami. Gue yang jomblo ngalah aja. ngalah." Balas Sela sambil terkekeh geli. Lintang dibuat tertawa lebar oleh tingkahnya.
"Sel, aku dengar kemarin kamu jalan sama anak sastra itu kan?" Tanya Lintang pada sahabatnya yang nampak cantik pagi ini dengan rambut yang di cepol.
"Iya, itu anak males gue. Masa baru aja jalan udah ngajak bobo." Kata Sela, ia mengenang pertemuannya dengan pemuda yang mengajaknya berkencan semalam.
"Masa sih? Kok ada laki-laki begitu. Jangan dekat-dekat lagi Sel. Aku gak mau tar kamu di apa- apain dia." Ujar Lintang khawatir.
"Lo tenang aja Lin, gue gak sebego itu kok. Lagian gue juga males, ilfeel jd nya."
"Iya aku takut kamu nanti di jahatin sama dia." Lintang menggenggam jemari sahabatnya itu.
"Gak bakal. Pokoknya lo tenang aja ya. Oh iya, udah ketauan belum jenis kelamin dede nya Lin?"
"Belum, aku sama Kak Willy sengaja gak nyari tau biar nanti surprise gitu pas lahir."
__ADS_1
"Ih gue senang deh liat sekarang lo bahagia banget. Auranya jadi lebih beda Lin, kayak ada manis-manisnya." Ujar Sela dengan mimik dibuat lucu mengikuti kata-kata sebuah iklan di tivi.
"Aku pengen liat kamu bahagia juga." Lintang terlihat serius, Sela hanya tersenyum. Memang tak banyak yang tahu kisah hidup sahabatnya itu.
"Gue Ok kok, Lin. Lo tenang aja."
"Gimana kabar Tante Desi?" Lintang menanyakan kabar tentang ibu dari sahabatnya itu.
"Mama baik, Lin. Udah jauh lebih sehat." Sahut Sela dengan senyum yang terkembang.
"Aku selalu ada buat kamu, Sel. Kapan pun kamu butuh aku." Kata Lintang membuat Sela tanpa sadar menitikkan airmatanya.
"Apaan sih lo, Lin. Gue akan baik-baik aja. Selalu gitu kan dari dulu."
"Iya aku tau kamu Sel." Lintang menggenggam jemari Sela lembut, seolah memberi kebahagiaan.
"Coba kamu rasain. Kadang, dede suka ngasih gerakan kecil kalo lagi di ajak ngomong sama ayahnya." Lintang menekan sedikit tangan Sela dan gadis itu seketika takjub.
"Wah... dia beneran gerak, Lin. Aduh, gue bahagia banget." Sela bersorak gembira. Ia haru sekali rasanya.
"Iya, dia suka di sapa sama kamu."
"Lin, jaga baik-baik ya. Lo gak usah capek-capek, lo kan suka bandel. Apalagi kalau di dapur kan suka licin." kata Sela serius.
" Iya Sel, ini juga aku udah batesin kok ngerjain pekerjaan rumah."
Sela memeluk Lintang dan segera di balas oleh Lintang hangat. Sela sosok yang ceria, lucu, pemberani dan bicara apa adanya. Ia juga sangat menyayangi Lintang. Lintang tahu, saat ini Sela sedang di timpa masalah yang cukup serius dan tengah jadi perbincangan seisi kampus. Tapi, Sela cuek saja. Ia tetap melenggang dengan gayanya yang santai. Tidak peduli pada bisik-bisik yang sering ia lihat saat sedang berada di sana.
__ADS_1
Lintang memeluk Sela erat, seolah memberi kekuatan agar sahabatnya selalu tabah dan tetap seperti ini. Lintang bangga bisa punya sahabat seperti Sela yang selalu tulus padanya.
...****************...
Lintang sampai di apartement, ia dijemput Ibu Mertuanya. Hari ini mereka akan pergi check up rutin untuk memeriksa kandungan Lintang. Willy sedang ada rapat penting jadi dengan terpaksa ia tidak bisa menemani istrinya itu.
Tadi saat menunggu di kampus, ia di jemput Miranti. Tumbennya lagi, Ibu Mertuanya itu menyetir sendiri. Lintang sumringah bertemu Ibu Mertua begitu pun Miranti yang tidak hentinya melihat perut Lintang dengan tatapan bahagia.
"Lin, apa kamu gak kerepotan ngerjain tugas rumah sendiri seperti ini? Mama kirimkan satu pelayan dari rumah ya untukmu." Ibu Mertuanya menawarkan.
"Gak usah, Ma. Lintang bisa kok ngerjain sendiri. Mama tenang aja ya, Lintang pasti jaga dengan baik cucu mama ini." Kata Lintang berusaha menenangkan Ibu Mertuanya. Ia memang tidak ingin adanya pembantu di apartement mereka.
Miranti akhirnya mengalah, namun ia mengatakan akan sering berkunjung ke apartement untuk menemani Lintang. Lintang tentu saja senang mendengarnya.
Mereka tiba di rumah sakit pukul dua siang. Miranti tampak berbinar-binar melihat USG di monitor yang memperlihatkan bayi di dalam. Matanya tampak bahagia sekali, tak henti ia memeluk Lintang. Ia ingin secepatnya menggendong cucu.
"Semuanya normal, detak jantungnya bagus, ia lengkap. Tapi saya akan meresepkan vitamin juga zat besi untuk Nona Lintang." Kata dokter yang segera disahut Miranti penuh semangat.
"Lakukan apa saja, Dok. Asalkan menantu dan cucu saya sehat selalu." Kata Miranti senang.
"Kira-kira perkiraan hari lahirnya kapan dok?" Miranti kembali bertanya. Memang sedari tadi ia antusias sekali.
Dokter kemudian menjelaskan HPL Lintang, juga menganjurkan apa saja yang baik dilakukan saat ini. Lintang di anjurkan untuk tetap bergerak namun juga harus diimbangi istirahat yang cukup. Juga menghindari makanan pedas yang akan berakibat diare dan membuatnya kehilangan cairan tubuh.
Lintang menyimak dengan penuh perhatian begitupun Ibu Mertuanya. Mereka bahagia sekali. Tidak sabar rasanya ingin segera melihat jagoan kecil itu lahir. Willy juga sedari tadi telah menelepon ibunya. Ia menanyakan perkembangan anaknya dengan antusias.
Saat telah tiba di apartement sepulang bekerja, ia langsung mendekati istrinya. Lalu mengecup perut istrinya itu. Ia juga mengajak anaknya berbicara dengan mimik lucu membuat Lintang tidak kuasa menahan senyum.
__ADS_1
"Kau buncit." Ujar Willy menggoda istrinya. Lintang sudah mengerucutkan bibirnya. "Kau semakin cantik." Sambung Willy kemudian dan itu sukses membuat Lintang langsung mencium pipinya berulang-ulang. Willy suka sekali mengecup perut istrinya yang sudah semakin buncit itu.