
Tiga hari berlalu semenjak kepergian Lintang. Willy tidak menyerah ia ingin segera menemukan istrinya. Namun ia belum menemukan juga di mana istrinya itu. Kemarin, Willy telah menunggu di kampus tempat Lintang berkuliah, namun Lintang tidak kunjung datang juga. Ia mencoba mengingat lagi siapa yang kira-kira dekat dengan istrinya selain Sela. Lintang tersentak, ia teringat Zacky.
"Hubungi perusahaan di Kebayoran, cari informasi mengenai Zacky." Perintahnya pada Setya setelah ia teringat satu nama itu.
"Tuan Zacky sudah tiga hari tidak ke perusahaan, Tuan." Ujar Setya setelah ia menghubungi perusahaan mereka yang lain.
Willy merasa yakin Zacky lah yang telah menyembunyikan istrinya. Ia bergegas meraih kunci mobil. Ia ingin menyetir sendiri dan berharap segera menemukan sepupu sekaligus rivalnya itu. Namun saat ia tiba di rumah keluarga Zacky, ia tidak menemukannya.
Willy bingung, entah dimana ia harus mencarinya. Ia terus saja menyusuri jalanan, berharap agar Lintang segera ditemukan.
Willy membuka pintu mobil, ia keluar. Ada sebuah bangku di taman tempat ia berhenti, ia duduk di sana. Dikeluarkannya sebatang rokok, ia mulai menyesapnya dalam. Saat itu lah matanya menangkap sosok Zacky yang sedang berada di sebuah swalayan nampak sedang membeli sesuatu. Ia mulai membuntuti kemana lelaki itu pergi. Dengan jarak yang cukup aman tanpa bisa diketahui.
Mobil itu melaju meninggalkan pusat kota dan sampai di sebuah Villa. Willy menepikan mobilnya cukup jauh, ia berjalan menuju ke dalam villa dimana Zacky berhenti tadi. Perlahan ia mulai masuk dan membuka pagar. Di dengarnya samar-samar suara perempuan. Willy yakin itu suara Lintang. Ia menerobos masuk menemukan Zacky dan Lintang yang sedang membongkar barang belanjaan.
Willy menghampiri Zacky, meraih kerah baju lelaki itu kemudian memukul wajahnya. Mereka terlibat perkelahian, darah dari hidung Zacky mengucur. Lintang menjerit. Ia berusaha memisahkan, namun satu tamparan melayang mengenai pipinya. Willy menatap nanar istrinya itu. Lintang menangis, sesegukan mendapat perlakuan itu dari suaminya. Willy melangkah gontai berusaha menarik Lintang dalam pelukan. Lintang berlari, masuk ke dalam kamar.
Zacky menghampiri Willy, ia balas menarik baju lelaki itu kemudian menghajarnya. Cukup sudah ia menahan kesabaran selama ini. Atas semua yang di lakukan Willy pada Lintang. Zacky meluapkan semua kemarahan. Willy tidak membalas, ia membiarkan Zacky memukulnya hingga hampir kehabisan nafas.
"Kembalikan Lintang." Ujarnya sambil menahan darah yang terus keluar dari bibirnya.
"Ambil perusahaan itu, gue gak akan mengembalikan Lintang. Sudah gue bilang Will, selangkah lo berulah gue akan merebutnya." Ujar Zacky di sampingnya dengan terengah-engah.
"Lintang istriku! Kau tidak berhak merebutnya." Willy berang ia berteriak mengeluarkan semua kemarahannya.
"Lo ********. Lo sakitin perempuan sebaik dia." Balas Zacky tidak kalah berangnya.
"Zack... ambil lah perusahaan tapi tolong kembalikan Lintang." Willy mengatakannya lirih, ia tidak peduli pada apapun lagi selain istrinya.
"Lo tau dari dulu gue gak peduli sama perusahaan Kakek."
"Tolong kembalikan Lintang." Willy memohon, menurunkan harga diri di depan rivalnya.
__ADS_1
Zacky tidak menjawab untuk beberapa saat. Lama mereka terdiam. Dari kamar terdengar Lintang menangis sesegukan.
"Bujuk dia. Kalo dia mau ikut lo pulang, bawa lah." Ujar Zacky akhirnya. Ia menundukkan kepala, memilih mengalah.
Willy tidak bisa berkata apa pun lagi. Dengan sekujur tubuh yang terasa remuk, ia berjalan gontai menghampiri Lintang yang masih tertelungkup dalam tangis. Willy meraih Lintang dalam pelukannya. Ia rindu pada istrinya.
"Ayo pulang, aku sangat merindukanmu." Ujarnya pilu. Lintang berontak ia memukul dada Willy yang bidang hingga kelelahan dan pukulannya melemah.
"Pergi.." Sahut Lintang. Hati Willy perih mendengarnya.
"Aku lebih baik mati daripada harus meninggalkanmu disini." Balas Willy lirih.
"Kakak jahat. Kau kejam padaku." Lintang terisak. Willy meraih dagu istrinya, ia menatap mata Lintang yang sudah basah oleh airmata.
"Maafkan aku, semua memang kesalahanku. Tapi, itu tidak seperti yang kau bayangkan."
"Kakak mencintainya." Tuding Lintang pilu
"Kakak bohong."
"Percayalah Lin, aku benar-benar mencintaimu." Ujar Willy berusaha meyakinkan istrinya itu. Lintang menatap Willy berusaha mencari kebenaran di sana.
"Kenapa bohong tentang Emilie. Kakak tidak pulang malam itu. Kakak tidur dengannya." Lintang kembali terisak.
"Maafkan aku, seharusnya aku jujur padamu. Harusnya aku bisa menolak permintaannya malam itu. Aku hanya menemaninya Lin, aku tidak menidurinya. Percayalah padaku." Ujar Willy lagi, ia berusaha meyakinkan Lintang.
"Kakak bicara yang sebenarnya?"
Willy mengangguk. Lintang menatap Willy, berusaha mencari kebenaran lagi. Ia melihat ketulusan yang begitu nyata dari lelaki ini.
"Pulang ya. Aku rindu sekali padamu." Willy mengusap rambut istrinya lembut. Lintang menjulurkan jari mengusap darah yang mengalir dari bibir suaminya.
__ADS_1
"Kakak berdarah." Ujar Lintang
"Tidak apa-apa, aku bahagia bisa menemukanmu kembali malam ini." Sahut Willy.
"Kakak janji tidak mengulanginya lagi?" Tanya Lintang, ia masih takut mempercayai Willy.
" Aku janji, percayalah."
Lintang memeluk Willy lagi. Ia tidak bisa marah lagi pada suaminya ini. Lalu Lintang melepaskan pelukannya. Ia berjalan menuju Zacky yang duduk di sofa ruang tengah.
"Kak Zacky.." Panggilnya lirih. Zacky menoleh, tersenyum.
"Pulang ya Lin. Dia beneran sayang sama lo." Ujar Zacky sambil menahan nyeri di hati. Zacky rasanya sedih harus melepas Lintang, namun ia juga tidak bisa menahan gadis itu lebih lama karena ia tahu Lintang juga mencintai Willy.
"Makasih ya Kak Zacky. Maaf Lintang merepotkan." Ujar Lintang terbata-bata. Zacky tersenyum membalasnya.
Dan jika dugaannya benar, nampaknya Lintang kini tengah mengandung. Karena sudah dua hari ini gadis itu menderita nyeri di bagian perut bawah, lalu di pagi hari ia akan mual dan muntah. Zacky sadar ia tidak akan pernah mendapatkan tempat lagi dihati perempuan yang ia cintai.
"Lin, nanti periksa ke dokter ya. Lo sakit perut terus kan. Takut ada apa-apa. Ajak Willy ke sana nanti ya."
"Iya Kak." Sahut Lintang .
Lintang kemudian berbalik, menghampiri Willy yang masih menunggunya di kamar.
"Kita pulang ya." Ujar Willy lembut. Lintang mengangguk. Keduanya kemudian berjalan. Willy mendekat pada Zacky yang masih duduk menatap mereka berdua.
"Thanks Zack." Ujarnya pelan, Zacky mengangguk.
"Jaga dia baik-baik, Will. Sekali lagi lo berulah, gue pastiin gue gak akan lepasin Lintang lagi." Ujarnya sambil tersenyum.
"Pasti Zack. Pasti." Sahut Willy kemudian ia menjulurkan tangannya. Zacky menyambutnya keduanya berjabat tangan. Zacky menepuk pundak Willy.
__ADS_1
Willy beralih pada Lintang, keduanya kemudian keluar dari Villa menuju mobil. Zacky memandangnya dari kejauhan. Ia tahu, ia sedang terluka saat ini. Namun, Lintang mencintai Willy, ia tidak akan bisa menahannya lebih lama lagi. Lebih baik ia membiarkan Lintang bersama cintanya, daripada ia melihat Lintang nanti malah tersiksa jika bersamanya. Lintang bahagia, ia pun akan bahagia. Sesederhana itu.