
Sejak mendengar dan mendapatkan kabar tentang keberadaan bayi kembar dalam perutnya, Lintang semakin merasa hidupnya sangat bahagia. Willy juga, ia tidak menyangka akan dikaruniai dua anak sekaligus di kehamilan istrinya kali ini.
"Nanti di bulan-bulan ke depan perut ini akan semakin membesar sekali, Kak." Ujar Lintang sambil tertawa membayangkan dirinya yang akan menggembung bulat.
"Tidak apa, aku juga sudah terbiasa melihatmu buncit begini." Balas Willy dengan tawa juga.
"Tapi aku senang, setidaknya keinginan mama dan papa untuk punya banyak cucu jadi kesampaian, Kak."
"Iya Lin, semoga keluarga kita tetap bahagia seperti ini ke depannya. Aku akan pulang lebih cepat nanti."
Lintang mengantar Willy sampai ke depan, seperti biasa ia akan melepas kepergian suaminya dengan tenang. Willy juga menyempatkan diri untuk mengecup perut istrinya sebelum ia berangkat.
"Nih Al juga mau di cium ayahnya." Mama datang dari dalam membawa Al yang segera disambut Willy dengan riang.
Ia mencium pipi putranya berulang kali. Al jadi tertawa geli karena kelakuan ayahnya itu.
Saat sampai di perusahaan, Willy seperti biasa akan ditemani Setya.
"Setya, apa kau pernah merasakan jatuh cinta?" Tiba-tiba saja Willy menanyakan itu pada asistennya. Setya mengangkat alis kemudian ia menjawab.
"Pernah, Tuan, hanya satu kali saat saya masih sekolah dulu." Jawab Setya dengan sopan.
"Lalu, apa kau juga pernah membenci seorang perempuan dulunya?" Tanya Willy lagi.
"Tidak, Tuan."
"Aku dulu sangat membenci istriku, tapi sekarang aku malah sangat mencintainya." Kata Willy dengan senyum sedikit terkembang.
"Ya, beda benci dan cinta memang sangat tipis, Tuan." Timpal Setya lagi.
"Kau bisa saja. Bagaimana dengan kehidupan cintamu, Setya?" Tanya Willy hangat. Ia memang baru kali ini membahas tentang persoalan cinta dengan asistennya yang patuh ini.
"Saya sudah lama berpisah dengan istri saya, Tuan." Jawaban jujur itu membuat Willy sedikit terhenyak.
"Maaf jika aku membuatmu mengenang hal itu."
__ADS_1
"Tidak apa, Tuan. Saya juga tidak merasa terluka mengatakannya."
"Kau hebat, bisa dengan tenang mengatakan itu."
"Sebab, kami berpisah bukan karena orang lain, Tuan. Kami berpisah karena Tuhan yang memisahkan." Sahut Setya mengenang istrinya.
"Maksudmu?"
"Ya, istri saya telah meninggal." Willy terhenyak lagi. Ia jadi tidak enak hati, niatnya ingin berbagi cerita bahagia malah mendengar hal seperti ini.
"Sekali lagi maafkan aku. Semoga kau lekas mendapatkan kebahagiaanmu lagi." Ujar Willy akhirnya. Setya tersenyum lalu mengangguk.
Willy kemudian mengajak Setya untuk berkeliling perusahaan yang luas itu. Memantau setiap aktivitas di perusahaan agar tetap berjalan lancar tanpa pelanggaran dan kendala sedikit pun.
Ia akan pulang cepat hari ini. Entah mengapa, selama masa kehamilan Lintang ini ia ingin selalu dekat dengan anak dan juga istrinya. Lagi pula, malam ini akan ada acara di rumah mereka. Ia tidak ingin terlambat pulang ke rumah.
...****************...
Pukul tujuh malam, semua anggota keluarga besar sudah berkumpul. Lintang menatap Sela yang duduk di samping Zacky berseberangan dengannya dan Willy. Al sedang makan juga disuapi oleh Mbok Nah.
"Iya Dik, selamat juga ya buat kamu, sudah punya menantu juga sekarang." Mama menunjuk Sela yang membalasnya dengan senyum.
"Punya menantu itu ternyata menyenangkan sekali ya Mbak, Jadi tambah rame." Sahut Tante Monik yang segera di balas anggukan Mama.
"Sela dan Lintang katanya sudah berteman lama ya?" Tanya Mama pada Lintang.
"Iya Tante, dulu saya dan Lintang satu kampus dan kami memang akrab sekali." Jawab Sela yang langsung disetujui Lintang.
"Makanya Tante itu kayak pernah lihat kamu beberapa kali, dan terakhir waktu acara ulang tahun Lintang kan?"
"Betul Tante, aku senang Tante masih ingat."
"Zacky, dijaga baik-baik loh istrinya. Apalagi kalau lagi hamil begini, biasanya bakal ngidam yang aneh-aneh ini." Mama tertawa mengingat Lintang dulu.
"Masa sih Tante?" Tanya Zacky penasaran.
__ADS_1
"Iya, coba kamu tanya Willy. Gimana rasanya manjat pohon jambu dan Lintang cuma ingin mencium bau buahnya saja." Kata Mama lagi membuat Willy jadi malu.
"Ah mama, buka kartu aja." Celetuknya yang langsung saja disambut gelak tawa dari mereka semua.
"Tidak apa-apa ya Will, namanya juga sayang istri, apapun dilakukan termasuj manjat pohon." Timpal papa ikut-ikutan meledek. Lengkap lah sudah gelak tawa malam itu.
Saat acara makan malam sudah selesai, Sela dan Lintang duduk dipinggir kolam renang.
"Sel, aku hamil anak kembar." Ujar Lintang sambil tersenyum, Sela membelalakkan mata menatap Lintang.
"Serius Lin?"
"Iya Sel, kemarin aku periksa. Di awal periksa dulu belum ketahuan, karena aku emang gak terlalu maksa juga pengen tau cepet kan, waktu itu aku mikirnya yang penting anaknya sehat aja. Eh rupanya, anakku kembar." Seru Lintang penuh binar bahagia.
"Pantesan perut lo gede gini Lin." Sahut Sela sambil tertawa lepas.
"Kamu juga ya Sel, harus jaga baik-baik kandungan kamu, jangan stress gak boleh banyak pikir."
Mereka berbincang hangat hingga waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Tak jauh dari mereka, Willy dan Zacky juga nampak sedang berbincang seru. Ada juga Audy diantara mereka. Al sudah tertidur di pangkuan Zacky yang sedari tadi mengajaknya bermain.
Tiba saatnya untuk pulang, Tante Monik dan Oom Jendi menghampiri Sela dan Zacky, mengajak mereka untuk kembali, anggota keluarga besar yang lain sudah lebih dulu pulang.
"Gue pulang ya Lin, jaga kesehatan ya." Sela dan Lintang saling memberi pelukan perpisahan.
Zacky juga menyerahkan kembali Al yang sudah tidur pulas. Audy mencium bocah gembul itu sebelum Zacky menyerahkannya kepada Willy.
Willy dan Lintang juga ikut mengantarkan kepulangan mereka sampai di depan pintu. Al yang sudah tertidur pulas membuat Lintang dan Willy juga ingin segera merebahkan diri di tempat tidur.
"Al pasti senang sekali ya Kak kalau adik-adiknya lahir nanti." Ujar Lintang saat mereka sedang menapaki tangga.
"Ya, kita harus sering membisikkan kata-kata positif tentang kehadiran adik-adiknya kelak. Agar Al tetap merasa kita juga tetap menyayangi dia." Balas Willy sambil meletakkan Al di box tidurnya.
Willy pernah mendengar pembahasan tentang anak yang merasa di kesampingkan saat ia memiliki adik baru. Itu akan membuat anak menjadi pribadi yang tempramen dan kurang percaya diri, Willy tidak ingin hal itu terjadi pada Al. Meski Al masih kecil, usianya juga belum genap dua tahun, namun, ia pasti sudah bisa merasakan tentang kasih sayang kedua orang tuanya.
Bagaimana pun sebagai orang tua, kita harus bijak dalam membagi kasih sayang kepada semua anak-anak kita agar tidak ada yang merasa iri hati dan juga sebagai upaya untuk menghindari perang dingin antar saudara sendiri. Karena itu penting sekali menerapkan teknik Sounding saat anak sudah dalam fase akan tertidur. Hal itu dipercaya akan memberi dampak positif untuk pembentukan pola tingkah laku bagi anak. Willy dan Lintang rutin menerapkan itu.
__ADS_1