Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
26. Teringat Lintang


__ADS_3

Zacky melihat langit yang terbentang luas malam ini. Matanya menerawang jauh, menjelajahi bintang-bintang yang berkelip indah dan menawan. Kepada bintang, Zacky mengutarakan rindunya kepada mata yang beberapa jam lalu menatapnya dengan sayu dan sendu. Zacky tidak pernah merasakan getaran yang begitu dahsyat selama ia mengenal perempuan. Tetapi kepada Lintang, hatinya tiba-tiba berdebar tak karuan. Ingin rasanya ia tetap merengkuh Lintang dalam pelukan. Memberikan kehangatan bagi hatinya yang telah dibuat patah berkepanjangan. Siapa yang telah mematahkannya? Ah, bintang kau tentu siapa pelakunya. Cucu kesayangan kakekku yang ingin ku pukul itu. Desah Zacky dalam hatinya.


Zacky masih menatap langit, matanya masih setia bercerita pada bintang-bintang. Lalu di saat ia sedang asik menatap maha karya Tuhan itu, tiba-tiba saja ia seperti melihat bayangan Kakek Franky. Zacky memandang memelas. Mencoba mempertanyakan ketidakadilan itu pada bayangan Kakek.


Kakek, kenapa harus Willy? kenapa bukan aku yang menikahi Lintang? Kakek, tidakkah kau lihat Lintang menderita? ia menderita bersama cucu kesayanganmu itu.


Zacky membatin. Mencoba protes pada bayangan Kakek yang perlahan menghilang dikegelapan malam. Zacky teringat saat ia memeluk Lintang beberapa saat yang lalu. Ia seolah merasakan penderitaan yang berusaha dipendam. Zacky ingin melindungi Lintang dari apapun yang akan menyakitinya. Namun apalah daya, Lintang kini lebih mempasrahkan diri tersiksa bersama lelaki yang tidak mencintainya bahkan cenderung berbuat kasar pada dirinya. Zacky masih tenggelam dalam pergulatan batinnya.


Sementara di tempat lain. Di atas ranjang yang tidak seberapa besar, Willy terus memacu tubuhnya dan Lintang dalam penyatuan yang menyakitkan. Willy selalu memperoleh kepuasan ketika melihat dan mendengar Lintang merintih di bawah kekuasaannya. Ia juga tidak menampik, tubuh Lintang kini bagai candu yang harus dinikmati setiap malam.


Lintang tidak lagi menangis, namun nyeri di sekujur tubuh dan hatinya menjadi penanda bahwa ia begitu tersiksa dengan semua yang telah dilakukan Willy selama ini. Willy tidak pernah menidurinya dengan cinta. Lelaki itu berlaku semaunya. Ketika ia telah mencapai kepuasan, ia akan meninggalkan Lintang tanpa perasaan.


Seperti saat ini, setelah hampir dua jam bergulat dengan tubuh dan hati yang telah remuk redam itu, Willy memilih meninggalkan Lintang sendirian. Ia pergi melangkah di saat waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam.

__ADS_1


Lintang meraih selimut, menyelimuti tubuhnya yang sakit dan juga membenahi rambut yang sudah acak-acakan. Lintang mencoba tertidur dalam kesakitan yang kini seperti teman baiknya. Ia tidak lagi protes. Ia pasrah pada keadaan juga nasib yang semakin memporak porandakan hidupnya. Tidak ada yang perlu disesali bukan, toh sejauh apapun melangkah, Lintang tetaplah seorang budak yang bisa diperlakukan seenaknya.


...****************...


Bau alkohol menyengat hebat. Lintang terbangun dari tidurnya. Selimutnya entah telah kemana. Tubuhnya terasa berat, dadanya seperti ada yang meremas. Lintang mencoba menghadirkan kesadarannya secepat mungkin. Saat tersadar, ia melihat Willy telah mencumbu setiap inci tubuhnya. Cumbuan itu kini berhenti, Willy melihat Lintang yang telah tersadar lalu ia menyeringai. Ia ******* bibir Lintang rakus, membuat gadis itu mau tidak mau akhirnya membuka mulut dan memaksa untuk membalas. Tangan lelaki itu aktif menjelajahi setiap lekuk tubuh. Willy kembali melepas ciumannya, ia kembali pada dua buah gundukan padat dan sintal itu, menatapnya lapar lalu membenamkan kepalanya sendiri ke sana. Lintang menggelinjang, tidak mampu menahan semua gejolak yang mati-matian berusaha ia tekan.


Willy tidak mampu menyembunyikan seringai liciknya. Gadis itu kemudian mulai kembali dipacu untuk kembali menyatu bersama dirinya. Lintang pasrah pada semua yang akan dilakukan Willy. Lelaki yang kini tengah berada di bawah pengaruh alkohol itu sedang melanjutkan penyatuan mereka lagi malam ini.


Lintang mengerang, ia menahan agar airmatanya tidak tumpah. Lintang malu pada hatinya, karena tubuhnya berkhianat. Ia mulai menikmati permainan suami yang tidak mencintainya itu meski dengan kasar sekalipun. Hati Lintang menjerit, berusaha menyadarkan tubuh Lintang yang mulai terbuai dengan permainan memabukkan. Hati Lintang tercabik, Luka di sana telah menganga menjadikan sebuah rongga besar dan penuh nestapa.


...****************...


Di tempat tidurnya, Zacky masih terjaga. Ia belum mampu terpejam. Ia masih teringat Lintang. Entah apa yang sedang di lakukan Lintang saat ini. Lintang, ya, gadis sederhana itu telah menyita hampir seluruh pikirannya malam ini. Zacky mencoba memejamkan mata, mencoba membawa Lintang dalam mimpi indahnya.

__ADS_1


Detik berikutnya mata Zacky kembali terbuka. Ia mengerang karena tidak bisa tertidur juga. Akhirnya karena kesal ia kembali bangkit dari posisinya semula lalu berjalan hendak turun menuju dapur. Namun langkah terhenti ketika ia mendengar suara cekikikan dari kamar Audy. Zacky membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci itu. Di lihatnya adiknya belum juga tidur masih dengan handphone yang ia kotak katik.


"Eh, anak kecil belum tidur juga." Ujar Zacky sambil melemparkan bantal guling kepada adiknya itu. Audy berbalik, menatap sebal kakak satu-satunya itu sambil mencebik.


"Ih, Kakak jangan ganggu dong! Aku lagi asik tau chattingan sama teman-teman di grup." Protes Audy sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ini udah mau pagi lo belum tidur juga. Ntar di sekolah lo ketiduran. Anak ABG jaman sekarang emang gak tau aturan."


"Biarin. Lagian, Kak Zacky juga kenapa gak tidur. Besok bukannya ada meeting." Audy mencoba menyerang Kakaknya itu.


"Yee, elo gue bilangin malah nasehatin gue balik. Gue beda ama lo, lo masih kecil." Ujar Zacky sambil menjentikkan jarinya. Audy mengerucutkan bibirnya seperti biasa jika ia tidak setuju dengan kata-kata kakaknya.


"Ih, bilang aja Kak Zacky lagi putus cinta. Makanya gak bisa tidur semaleman. Aneh, punya pacar juga enggak. Tapi kayak orang lagi galau aja." Gerutu Audy lagi. Zacky meraih bantal guling lalu melemparkannya ke muka adiknya itu kemudian ia pergi meninggalkan adiknya yang masih saja mencak-mencak.

__ADS_1


Apa ia gue kayak orang lagi putus cinta? sumpah, baru sekali ini gue jadi aneh begini. Mau ke sini salah, ke situ juga salah. Kemana-mana cuma ada bayangan Lintang. Gue jadi serba salah. Kayaknya otak gue lagi error beneran. Atau gue minta diobatin aja ya. Tapi mana ada obat buat orang yang lagi galau gak jelas kayak gue? Kayaknya gue beneran udah eror. Masa gue naksir sama istri orang. Mana itu istri sepupu gue sendiri lagi.


Zacky menepuk kepalanya sendiri. Mencoba menyadarkan diri bahwa apa yang sedang dipikirkannya itu salah. Ia mengerang sepanjang perjalanan menuju dapur yang masih sepi lalu mulai menyeduh teh hangat untuk menenangkan hatinya yang kacau. Loh kok nenangin hati pake teh hangat? dasar Zacky memang gak jelas.


__ADS_2