Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
42. Wanita itu


__ADS_3

Willy masih memandang Lintang yang sedang mencicipi dessert yang disediakan oleh pelayan barusan. Ia betah, melihat Lintang berlama-lama. Seharian di perusahaan tadi ia juga uring-uringan, teringat istrinya di rumah. Bahkan makanan yang di sediakan asistennya hanya tersentuh sedikit saja. Willy seperti orang yang sedang jatuh cinta. Sepertinya ia memang sudah jatuh cinta pada Lintang.


"Kau suka memasak Lin?" Tanya Willy pada istrinya itu. Lintang mengambil tisu, lalu mengelap bibirnya perlahan.


"Suka sekali Kak. Lintang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk di dapur." Ujar Lintang sambil tersenyum lagi. Ah, Willy tidak tahan melihatnya.


"Kau suka restoran ini?" Tanya Willy lagi.


"Iya Kak, ini restoran terindah yang pernah Lintang datangi. Makanannya juga enak." Sahut Lintang dengan mata berbinar-binar.


"Makananmu lebih enak." Kata Willy. Lintang menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.


"Terima kasih Kak."


"Angkat kepalamu, Lin." Ujar Willy lagi ketika melihat Lintang yang sedang berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Lintang mengangkatnya pelan. "Lin, kau cantik sekali." Sambung Willy lagi. Ia ingin secepatnya pulang, membawa Lintang dalam kemesraan panjang.


Lintang tidak mampu lagi menahan malunya, ia membiarkan Willy menikmati pemandangan pipinya yang bersemu merah. Sampai tiba-tiba dari belakang Willy ia bisa melihat seorang perempuan nampak berjalan anggun mendekati meja mereka. Ia berjalan dari arah belakang Willy, jadilah Lintang yang pertama melihat kehadirannya. Perempuan yang waktu itu Lintang lihat saat suaminya sedang di toko perhiasan .


"Selamat malam Will." Ujar perempuan itu lembut mengejutkan Willy yang sedang fokus menatap Lintang tadinya.


Willy cukup terkejut melihat kedatangan Emilie yang tanpa disengaja di tempat ini. Namun, ia bisa dengan tenang mengendalikan keadaan.


"Oh kau. Senang bisa bertemu denganmu. Lintang, ini Emilie. Em, ini Lintang istriku." Ujar Willy seraya mengenalkan keduanya. Lintang tersenyum pada Emilie yang juga segera membalasnya.

__ADS_1


Lintang mengulurkan tangannya, Emilie menyambut. Emilie menilik menatap Lintang intens. Ia tersenyum manis, gadis ini masih muda, cantik juga menarik. Ya pantas saja Willy menggilainya. Begitu pikir perempuan itu.


"Senang bertemu denganmu, aku teman Willy dari perusahaan lain yang kebetulan menjalin kerjasama." Emilie mengatakannya masih dengan senyum yang sama. " Dan Will, terima kasih ya malam itu." Ujarnya kemudian. Lalu ia berpamitan dengan Willy dan Lintang yang masih terpaku mendengar kata-kata terakhir gadis itu barusan.


Lintang sudah menunduk lagi, hampir menangis tepatnya. Benar dugaannya, Willy memang tidak ke perusahaan malam itu. Ia bersama perempuan bernama Emilie tadi. Lintang menekan lagi perasaan yang tadi bermekaran, ia tidak mau dipermainkan.


"Kita pulang ya." Ujar Willy yang dibalas anggukan pelan dari Lintang. Namun, ia tetap memaksakan senyuman terbaik untuk suaminya itu.


Sepanjang perjalanan pulang, Lintang diam. Matanya yang sendu nampak memerah seperti menahan tangis. Willy jadi cemas, Emilie telah mengacaukan malam indah ini. Ia terus melajukan deru mobilnya hingga mereka tiba di besment parkir apartement.


Saat tiba di dalam apartement Lintang langsung membersihkan diri. Ia menggosok gigi, membersihkan wajahnya lalu mengganti baju tidurnya dengan piyama dress. Setelah itu ia segera pergi ke ranjang. Ia ingin tidur. Hatinya pedih, tapi tak bisa mengungkapkan.


Willy melihat Lintang sudah meringkuk ditempat tidur mereka saat ia juga telah selesai membersihkan diri. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus bagaimana. Ia tahu Lintang sedang marah padanya karena Emilie. Ia mendekati Lintang yang sudah memejamkan mata namun ia tahu istrinya itu sama sekali belum tidur.


"Tidak Kak." Akhirnya Lintang bersuara, lirih sekali hampir tak terdengar. Willy membalikkan tubuh Lintang hingga ia jadi telentang. Willy berada di atasnya. Ia membelai puncak kepala Lintang lalu melihat mata istrinya yang memerah.


"Kau marah padaku." Ujarnya lagi lebih pada diri sendiri.


"Tidak Kak."


"Bohong, kau marah pada Emilie dan aku."


"Tidak Kak."

__ADS_1


"Kau bohong lagi."


"Tidak."


"Kau mencintaiku?"


"Ti..." Lintang menghentikan kata-katanya.


"Aku jatuh cinta padamu." Sahut Willy. Ia begitu serius mengatakannya. Lintang memalingkan wajah, airmata mengalir. Willy menghadapkan lagi wajah istrinya yang sudah berlinang, lalu menghapusnya dengan jari.


"Kakak bohong." Ujar Lintang akhirnya. Entah keberanian dari mana ia bisa mengatakan hal itu. Willy tidak membalas perkataan itu, ia hanya terus menatap Lintang. Lalu di kecup nya bibir yang sudah basah milik Lintang. Lintang awalnya tidak merespon, tapi mendapat perlakuan lembut itu akhirnya ia mulai membalas.


Keduanya mulai terbuai. Lintang telah melingkarkan tangannya pada leher Willy yang masih merengkuhnya. Lelaki itu melepaskan bibir Lintang lalu turun, ia mengendus leher jenjang istrinya, merasakan sesuatu yang padat itu mulai mengencang saat sentuhan kembali ia berikan.


Willy membuka piyamanya lagi, Lintang hanya menatapnya sendu. Lalu mereka memulainya lagi dan lagi. Seolah tidak ada lelah, keduanya tetap berpaut mesra, berusaha mengutarakan perasaan yang memang sudah ada. Lintang mendesah, menikmati setiap yang dilakukan suaminya.


"Lin, aku mencintaimu." Ujar Willy dengan nafas yang mulai terengah-engah di tengah penyatuan mereka.


"Aku selalu merindukanmu setiap waktu." Ujarnya lagi sambil terus memacu.


Lintang tidak kuasa menahan perasaannya. Ia membalas, melenguh panjang, mendesah berkali-kali membuat Willy terbakar gairah lagi dan lagi. Keduanya kembali menyatu, Lintang telah menggelinjang beberapa kali. Sentuhan suaminya penuh cinta juga emosi. Hangat menjalar di seluruh tubuhnya, membelai semua titik indera.


Malam panjang bagi mereka saat ini, dengan penyatuan yang terjadi berulang kali. Tidak ada lagi kata benci. Willy telah meneguhkan hati, ia benar telah jatuh hati. Ia tidak peduli lagi pada semua kebenciannya, tidak lagi berniat untuk mencari. Willy telah mencandu pada semua yang ada pada diri Lintang. Ia merindunya setiap waktu, memaksa mata ingin bersitatap dan terus bertemu.

__ADS_1


Lintang, meski ia masih terlalu takut untuk mempercayai semua pernyataan suaminya apalagi dengan bertemunya ia dan Emilie beberapa jam yang lalu, tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Bahkan sebelum Willy mencintainya, ia telah lebih dulu jatuh cinta. Memang rumit yang ia rasakan saat ini, namun, mencintai Willy bukan pilihan, tetapi memang murni ia rasakan. Lintang terbuai semakin dalam, berusaha mengenyahkan semua pikiran buruk dan juga bayangan-bayangan perempuan yang menggilai suaminya. Bolehkah ia sedikit berjuang, agar tidak ada yang bisa mengusik hubungan manis yang baru saja tercipta. Bolehkah ia berusaha menghalau semua yang berpotensi akan merusak kehidupan rumah tangganya. Lintang tidak tahu, ia hanya tahu saat ini ia merasa diperlakukan seperti perempuan dan istri yang sesungguhnya. Hanya itu.


__ADS_2