
Willy memakai setelan santai dengan kaus hitam yang membentuk tubuh atletisnya. Malam ini, sebenarnya ia sedang malas untuk keluar. Namun, Fiska memaksa untuk bertemu. Tadinya mereka akan bertemu di sebuah restoran cepat saji. Tapi, gadis itu tiba-tiba mengabarkan tubuhnya sedang tidak enak badan. Ia juga merengek untuk ditemani Willy walau hanya beberapa jam saja. Willy akhirnya mengiyakan saja keinginan gadis itu.
Willy mengemudikan mobilnya dengan santai. Ia memutar sebuah music klasik untuk menemani perjalanannya menuju apartemen Fiska. Saat tiba di basemen apartement, lelaki itu segera memarkirkan mobilnya. Kini ia telah tiba di dalam lift yang sebentar lagi akan mengantarkannya menuju apartement Fiska berada.
Fiska segera membuka pintu apartement saat Willy telah datang. Willy mengernyitkan dahinya, melihat Fiska yang nampak baik-baik saja. Tidak seperti seseorang yang sedang sakit. Ia juga tidak melihat adanya obat di meja dekat ranjang gadis itu.
"Katanya sakit. Kamu sehat aja gitu." ujar Willy sambil mendaratkan tubuhnya di sofa. Ia duduk memandang Fiska yang hanya mengenakan rok pendek dan atasan super tipis.
"Iya, sakit banget." sahut Fiska cepat.
"Sakit apa? Gak ada tanda-tanda kayak lagi sakit." balas Willy. Fiska mendekatkan dirinya kepada Willy. Kemudian di dekatkan bibirnya ke telinga lelaki itu.
"Aku sakit hati. Ada yang mau nikah tapi gak bilang apa-apa sama aku." bisik gadis itu. Willy cukup terkejut saat mengetahui bahwa rencana pernikahannya telah sampai ke telinga gadis ini. Namun, Willy mengembalikan dirinya seperti semula. Tenang dan acuh tak acuh.
"Masalah?" tanyanya singkat. Fiska mendelik, seolah lelaki di sampingnya ini sedang memberikan pertanyaan terbodoh yang pernah ia dengar.
__ADS_1
"Jelas! kamu masih bisa bersikap seolah semuanya baik-baik aja." dengus Fiska dengan semua kemarahannya. Willy memalingkan muka, menatap Fiska tajam. Tatapan mematikan sekaligus menantang baginya.
"Apa hubungannya sama kamu? kita gak punya hubungan apapun." balas Willy sarkas. Fiska merasa dijatuhkan ke perut bumi saat mendengarnya.
"Jadi kamu sama sekali gak punya perasaan apapun padaku lagi? setelah beberapa kali kita bertemu belakangan ini?" ujar Fiska putus asa.
"Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengulang masa lalu. Mengertilah. Sekarang, aku pulang ya." sahut Willy sembari berdiri dari duduknya. Namun langkahnya tertahan lagi. Fiska kini telah memeluk dirinya dari belakang. Membuat Willy tidak bisa meneruskan langkah kakinya.
"Jangan ... Jangan dulu pulang Will. Temani aku sebentar lagi. Tolong." pintanya penuh harap. Willy menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nya keras.
Fiska tetap meneruskan aksinya, berharap Willy membalas. Namun lagi-lagi Willy bergeming. Kemudian dengan satu gerakan, disentaknya gadis itu. Fiska menghentikan kegiatannya, Willy membenahi bajunya yang mulai berantakan. Lalu melemparkan baju milik Fiska yang telah berceceran di lantai tepat ke pangkuan gadis itu.
"Jangan terlalu murah, Fis." gumam Willy kemudian berlalu dari hadapan gadis itu. Entah mengapa, Fiska dengan segala pesonanya sama sekali tidak membuat Willy tertarik lagi. Baginya masa lalu tidak perlu terulang kembali dan lagi, jika harus memadu kasih Willy jelas tidak mau kembali pada gadis itu.
Willy terus berjalan meninggalkan apartemen. Sementara Fiska berteriak kesal karena perlakuan Willy barusan. Ia bersumpah akan membuat Willy bertekuk lutut kepadanya kelak. Fiska tidak peduli walaupun kelak Willy telah menikah, ia akan tetap memperjuangkan keinginannya dengan segala daya upaya .
__ADS_1
Fiska duduk di sofa merahnya yang empuk selepas kepergian Willy. Ia meraih sebatang rokok kemudian menyesapnya lalu menghembuskan asapnya. Apartement nya seketika dipenuhi kepulan asap. Fiska beranjak, menuju cermin di seberang ranjangnya yang luas. Ia melihat pantulan dirinya di cermin. Cantik. Modis. Seksi. Padat. Sintal. Apalagi yang kurang? Hanya lelaki bodoh yang menolak tubuhnya.
Ia mengepalkan jari. Fiska bersumpah akan membuat Willy kembali ke dalam genggamannya. Ia benar-benar tidak terima ditolak mentah-mentah oleh mantan kekasihnya itu. Namun, ia tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk merayu lelaki itu. Ia tidak boleh lupa, bahwa Willy adalah orang yang cukup berpengaruh saat ini. Kedudukannya setelah kematian kakek Franky bukan lagi pada Level main-main. Willy tidak segan membuat perhitungan pada siapa pun yang telah mengganggunya.
Namun, seperti yang telah ia rencanakan sejak lama, ia tidak akan menyerah begitu saja. Fiska Bramantio tidak pernah mengalami penolakan. Namun kali ini ia harus mengakui kekalahannya. Tapi, ia masih memiliki keyakinan suatu saat Willy akan merubah keputusannya kelak.
Fiska jadi penasaran pada sosok yang akan menikah dengan lelaki pujaannya itu. Apakah secantik dirinya? seindah dirinya? se sintal dirinya? sekaya dirinya juga? Fiska mengerang. Frustasi mendapati kenyataan Willy tidak seperti dulu lagi. Lelaki itu bahkan sempat menyebutnya murah.
Murah? sejak kapan kau mulai mengenal kata-kata itu. Bukankah dulu, kau sering melakukannya kepadaku. Hahaha, bahkan dulu kita melakukannya hampir setiap hari. Tapi sekarang, bahkan untuk mencium ku pun kau tak mau.
Apa karna kau telah menemukan penggantiku? Apa karena perempuan yang akan segera menjadi istrimu itu? Hey, William Dwianuarta, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali lagi padaku. Kau harus menjadi milikku lagi. Aku tidak peduli pada siapa pun. Aku akan merebutmu lagi, akan ku buat perhitungan kepada perempuan itu nanti.
Kau lihat saja, aku akan menyingkirkannya. Kau tidak boleh dimiliki oleh orang lain selain aku. Aku. Aku lah yang berhak untuk mendampingimu. Brengsek! siapa sebenarnya perempuan yang akan segera menikah denganmu itu?
Fiska berperang dengan batinnya sendiri. Ini adalah rokok kedua yang ia hisap. Fiska berbaring di ranjangnya. Tubuhnya terlentang, matanya terpejam. Ia jadi membayangkan saat-saat dulu masih memadu kasih bersama Willy. Willy yang dulu begitu mencintainya. Perpisahan mereka terjadi karena kesalahannya. Fiska pernah membagi cinta Willy pada waktu itu dengan pemuda lain. Kini ia harus membayar mahal semua itu. Penolakan yang diberikan Willy terasa sangat menikam hatinya.
__ADS_1
Fiska menggeleng kuat. Ia tidak ingin kesempatan untuk kembali memiliki kandas lagi. Ia tetap ke rencana awalnya. Ia akan memaksa masuk ke dalam kehidupan Willy meski ia tahu hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Fiska melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul sebelas malam. Kantuknya tiba-tiba datang membuat ia ingin segera terbuai dalam alam mimpi. Fiska benar-benar terlelap kemudian. Berteriak memanggil Willy barusan ternyata membuat ia jadi letih. Ia lelah untuk sesaat, ia butuh tidur untuk menenangkan hatinya yang kacau.