Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Adik-adik Berantem!


__ADS_3

Lintang menggendong Shakira ketika Willy baru saja sampai di rumah. Ia sedang berada di balkon, menikmati udara sore bersama Kira yang matanya masih terbuka. Shakila masih tidur.


"Kila, ayah pulang nih." Willy mencium Lintang lalu mencium bayi mereka juga.


"Ini Kira Yah, ayah masih suka ketuker." Lintang terkekeh. Willy menunduk mencermati wajah Shakira yang sedang tersenyum lucu.


"Ah iya bun, ayah lupa kalo Kila, ada tahi lalat ya di pipi kirinya. Ini Kira, gak ada tahi lalat nya." Willy terkekeh juga.


"Di inget-inget loh Yah, ntar sampe mereka gede sering ketuker juga lagi."


"Iya bun, ayah mandi dulu ya, Al mana ya Bun?" Tanya Willy sebelum ia beranjak menuju kamar.


"Ikut Papa sama Mama tadi."


Willy mengangguk lalu bergegas pergi ke kamar mandi.


Saat Kira sudah tidur, Lintang segera memasukkan lagi anaknya itu ke dalam box bayi. Ia menunggu Willy selesai mandi, membantu menyiapkan baju santai untuk suaminya itu.


"Ini baju nya Yah." Ujar Lintang sambil menyerahkan baju dan celana yang masih terlipat rapi. Willy mencium kening Lintang sesaat sambil tersenyum.


"Duuuhh... perhatian banget istriku ini." Puji Willy dengan senyum menggodanya.


Lintang hanya tersenyum menanggapi suaminya itu.


"Kita ke belakang yuk." Ajak Lintang, Willy tentu saja langsung mengiyakan.


Mereka menyusuri pinggir kolam renang lalu berhenti di taman belakang. Saat mereka sedang bersantai dengan teh hangat juga kue ringan, Mama dan papa yang sedang menuntun Al datang. Di belakang mereka ada beberapa orang mengekor.


Willy dan Lintang saling berpandangan.


"Nah, ini lahannya pak, bisa gak di pasang perosotan, ayunan, rumah pohon, sama rumah menggambar?" Papa bertanya pada beberapa orang yang sedang serius melihat lokasi itu.


"Bisa sekali Tuan, ini luas dan rumputnya juga bagus. Tebal. Sangat baik untuk menghindari cidera." Sahut salah satu dari mereka.


"Besok bisa langsung di pasang kalau begitu ya." Ujar Mama sumringah. Mereka mengangguk senang.

__ADS_1


"Kalau begitu, kami mohon pamit dulu Tuan, Nyonya. Besok para pekerja kami akan datang dengan semua perlengkapan arena bermainnya." Mereka membungkuk. Mama dan papa tersenyum senang.


"Mau dipasang apa sih Ma?" Tanya Willy ketika kedua orang tuanya sudah bergabung bersama ia dan Lintang. Al segera menuju Willy yang langsung menyambutnya.


"Arena bermain buat Al, kan bisa buat kembar juga nanti." Jawab Mama dengan senyum terkembang.


Lintang dan Willy kompak mengangguk bersamaan.


"Kembar masih tidur?" Tanya papa sambil menyeruput teh hangat.


"Iya pa, tadi Kira bangun sih. Tapi udah tidur lagi. Kalo Kila, anteng banget tidurnya." Lintang terkekeh.


"Papa tuh suka ketuker deh mana Kira, mana Kila."


"Aku juga pa." Mereka tertawa.


"Nih, inget baik-baik ya Ayah sama Kakeknya Kembar, kalo Kila itu gak ada tahi lalat di pipi, kalo Kira ada di pipi kiri." Jelas Mama dengan bangga. Lintang sudah senyum-senyum sendiri.


"Kebalik Mama, Kila ada tahi lalat di pipi kiri, kalo Kira gak ada tahi lalat di pipi." Lintang membetulkan penjelasan Mama yang juga salah.


"Ketuker juga ya berarti?" Tanya Mama malu.


...****************...


Lintang sedang berada di ruang tengah saat Al berteriak dari dalam kamar.


"Ndaa.. cini Nda cini." Bocah gembul itu berteriak histeris memanggil Lintang.


Lintang setengah berlari naik ke atas tangga. Jantungnya sudah berdebar keras takut terjadi apa-apa. Al sudah terlihat panik, Lintang tidak menemukan Willy. Tadinya ada suaminya itu bersama ketiga anaknya di dalam kamar.


"Kenapa Al?" Lintang sudah khawatir apalagi sekarang Al sudah menangis.


"Itu Nda.." Al menunjuk baby box kembar.


"Kenapa nak?" Lintang berlutut mensejajarkan tinggi dengan Al.

__ADS_1


"Kila Kira berantem." Ia menangis lagi saat menceritakan kembar. "Kila cakar Kira, Kira tendang Kila. Al takut Kira Kila nanti luka." Ia sudah tersedu-sedu.


Lintang buru-buru masuk ke dalam kamar. Lalu berlari ke arah baby box. Di lihatnya Kila dan Kira saling bergesekan, berpegangan satu sama lain. Kila menangis lalu tertawa lagi. Begitu pun Kira. Kembar sedang bermain. Itu hal biasa.


Lintang mengelus dadanya. Al sudah membuat ia khawatir setengah mati. Ia berlutut lagi, ingin tertawa tapi masih di tahannya. Takut Al bertambah menangis. Lintang mengelus rambut Al lembut, lalu mengusap air mata anaknya itu.


"Al.. Kila sama Kira gak berantem kok. Mereka lagi main, kalo mereka nangis sebentar gak papa. Tuh liat mereka udah ketawa lagi." Lintang mengangkat anaknya itu agak Al bisa melihat Kila dan Kira yang sedang tertawa lucu.


Tadi Al naik dengan menggeser kursi meja rias Lintang. Al menatap bunda lagi. Lalu nyengir, memamerkan gigi putihnya.


"Kira Kila udah baikan, Nda..." Ujarnya sambil tertawa.


"Iya, kembar gak berantem. Oh iya, Ayah mana nak?" Tanya Lintang sambil celingukan. Al tidak menjawab.


"Ada apa sih Bun? rame banget perasaan?" Terdengar suara Willy keluar dari kamar mandi.


"Ayah ngapain di dalem?" Lintang malah balik tanya.


"Sakit perut, bun. Mules." Sahut Willy mendekati istri dan anak-anaknya.


Lalu Lintang menceritakan kejadian barusan. Dimana Al menangis ketakutan karena ia mengira kembar sedang bertengkar. Pantas saja ia mendengar Al tadi gaduh sekali saat sedang berada di kamar mandi.


"Udah, Kila Kira angan berantem, nanti luka. Udah Nda nanti marah."


seperti itu tadi yang ia dengar. Willy tergelak mendengar cerita Lintang. Ia menggeleng kepala melihat putranya.


Mereka kemudian turun ke bawah, berkumpul di ruang keluarga dimana Mama dan Papa sudah menunggu. Masing-masing mereka menggendong satu bayi kembar.


"Al ada ada aja." Mama juga sudah tertawa mendengar cerita Lintang ketika mereka sudah berkumpul.


"Al sayang banget sama kembar, makanya tadi dia khawatir banget." Timpal Lintang masih dengan tawa yang belum sepenuhnya hilang.


"Pinter cucu nenek." Mama mencium puncak kepala Al gemas.


"Jangan lagi ya Al, nanti mama jantungan loh." Ujar Lintang lagi. Al hanya tertawa. Ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang dewasa itu. Yang penting tertawa saja lah.

__ADS_1


Lintang dan Willy saling menatap satu sama lain di tengah indahnya kebersamaan yang sedang mereka rasakan. Anak-anak sudah semakin besar, mereka bertumbuh dengan baik. Semoga kerukunan ini tetap tercipta hingga nanti mereka Tua, semoga anak-anak mereka nanti juga akan memperlakukan mereka sama, yaitu penuh cinta dan kasih sayang.


Keluarga adalah harta yang paling berharga. Maka hargai selagi ada. Hormati selagi masih lengkap berada di sisi. Sebab ketika perpisahan itu akan terjadi kelak, hanya kenangan yang bisa disimpan dan di gali ketika hati sedang merindu. Simpanlah senyuman orang-orang terdekat kita agar suatu saat ketika harus berpisah, kita telah memiliki semuanya, Cinta juga kenangan indah tentang mereka.


__ADS_2