Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
13. Memberi Tahu Fiska.


__ADS_3

Zacky menyusuri Mall dengan adik perempuan satu-satunya. Zacky memang sangat dekat dengan Audy, keduanya sering terlihat keluar bersama. Zacky juga sering mengantarkan Audy untuk berlatih basket di sekolahnya. Audy masih duduk di bangku SMA saat ini.


Setiap ada waktu luang, atau sepulang dari perusahaan, Zacky akan mengajak atau menemani adiknya kemana pun. Saat ini keduanya sedang berjalan-jalan di sekitar mall dan mencari food court untuk mengisi perut mereka yang sudah lapar.


Mereka melihat sebuah food court yang menyajikan makanan khas Indonesia. Zacky memilih sebuah tempat yang masih kosong karena hari ini tempat itu cukup ramai. Kemudian ia duduk dan menunggu Audy untuk memesan makanan. Saat itulah seseorang menepuk pundaknya pelan. Zacky menoleh lalu melihat seorang gadis cantik dan seksi berdiri di sampingnya. Dengan senyum ia mempersilahkan gadis itu duduk.


"Gak nyangka bakal ketemu di sini." ujar gadis itu. Zacky menanggapinya dengan senyum ramah.


"Sendiri Fis?" tanya Zacky. Fiska mengangguk.


"Aku tadi pengen beli sesuatu. Tapi gak sengaja liat kamu jadi mampir dulu. Kan udah lama ya kita gak ketemu." sahut Fiska.


"Pengen beli apa? Gue sama adek gue tuh." Zacky menunjuk Audy yang sedang sibuk memesan makanan.


"Pengen beli sesuatu buat Mamanya Willy. Aku udah lama banget gak ngobrol sama Tante. Menurut kamu aku beliin apa ya?" tanya Fiska. Zacky hampir terkejut mendengarnya. Jadi benar dugaannya selama ini, Willy benar-benar belum memberi tahu Fiska tentang rencana pernikahannya dengan Lintang yang akan segera terjadi itu.


"Mendingan lo beli kado buat Willy. Itu lebih tepat kayaknya." ujar Zacky santai. Fiska menatap lelaki itu tidak mengerti. Lagi pula setahunya Willy belum ulangtahun dalam waktu dekat ini.

__ADS_1


"Willy kan ulangtahunnya masih lama. Ngaco deh kamu Zack." sahut Fiska sambil tertawa.


"Emang bukan buat ulangtahun. Buat hadiah pernikahan dia satu minggu lagi." balas Zacky lagi. Fiska terlihat terkejut seketika. Ia sampai terlihat mengepalkan tangannya beberapa kali seperti merasa dibohongi.


"Makin ngaco deh kamu. Mana mungkin Willy bakal nikah. Lagian, aku sama dia bakal balikan." ujar Fiska setenang mungkin. Dia menyelipkan tawa yang dibuat-buat untuk menenangkan hatinya yang mulai tidak karuan.


"Ngapain gue bohong Fis? kalo lo gak percaya, tanya aja Willy. Oh iya, lo mau pesen makan gak? biar sekalian gue pesan." tawar Zacky masih dengan gayanya yang santai meski ia telah melihat gelagat kemarahan dari mata gadis di depannya itu.


"Gak usah, aku buru-buru. Aku balik ya." Fiska pergi meninggalkan Zacky yang tersenyum menanggapi perubahan gadis itu. Ia tahu akan ada perang antara Willy dan Fiska nanti. Namun, itu lebih baik daripada membiarkan Willy berlaku seenaknya pada perempuan.


Lagipula, sampai kapan Willy akan menyembunyikan statusnya yang akan segera menikah. Mengingat itu, Zacky jadi teringat pada Lintang. Gadis itu kenapa harus dinikahkan pada Willy. Ia juga sering menyesalkan keputusan Kakek. Entah karena apa, ia merasa Lintang tidak akan baik-baik saja ketika bersama Willy.


Keduanya kemudian makan dengan lahap. Sesekali mereka saling melempar candaan satu sama lain. Zacky selalu merasa senang setiap kali bersama adiknya. Ia memang sangat menyayangi Audy. Adiknya itu juga terkenal sangat dekat dengannya.


"Tadi siapa kak?" tanya Audy sambil memasukkan suapan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Oh itu, Fiska. Mantan pacarnya Willy dulu." sahut Zacky sambil menyesap jus jeruk.

__ADS_1


"Tapi kok tadi dia kayak marah gitu kak sebelum dia pergi dari sini?" tanya Audy lagi, kali ini ia mencomot kentang goreng.


"Biasa, gak bisa menerima kenyataan. Udah ah, ini urusan orang gede. Lo belum boleh tau." sahut Zacky lagi, masih dengan sikapnya yang santai. Audy memberengut mengerucutkan bibirnya. Zacky tertawa melihat itu.


Keduanya kembali meneruskan makan mereka dengan riang. Selalu seperti itu, Zacky tetap menjadi orang yang paling bisa diandalkan bagi Audy. Kakaknya yang penuh humor itu bahkan menjadi idola di sekolah Audy setiap kali ia pergi mengantar jemput adiknya itu.


...****************...


Di dalam mobil, Fiska tampak menggenggam kesal setir mobilnya. ia benar-benar merasa dibohongi oleh Willy. Ia sama sekali tidak tahu dan buta dengan kabar pernikahan lelaki itu. Fiska menghidupkan mobilnya kemudian melaju cepat meninggalkan pelataran parkir Mall. Sambil mengemudi ia juga mengetik sesuatu di ponselnya.


Fiska benar-benar dilanda kekesalan saat ini. Suasana hatinya sama sekali tidak baik. Ia jadi mengutuki setiap kendaraan yang menyalip mobilnya, juga memaki pedagang kaki lima yang tidak sengaja menyebrang tiba-tiba. Fiska membutuhkan jawaban langsung dari bibir lelaki itu. Harapannya untuk kembali lagi bersama Willy rasanya kandas seketika.


"Brengsek!" umpatnya sambil memukul kemudi.


Kalau pun benar berita yang baru saja ia dengar. Fiska tidak akan menyerah untuk kembali meraih Willy ke dalam genggamannya. Ia benar-benar menginginkan Willy lebih dari apapun. Hatinya tertantang untuk tetap pada rencana awal meski ia kini telah mendengar dan mendapat berita tidak menyenangkan ini. Fiska yakin Willy akan bertekuk lutut padanya. Ia juga jadi penasaran seperti apa bentuk dan rupa dari wanita yang jika benar akan menjadi istri Willy. Apakah secantik dirinya? Apakah dari keluarga terpandang juga seperti dirinya?


Fiska kembali mengepalkan jari jemarinya. Ia tidak sabar untuk segera bertemu dengan Willy. Sempat terlintas di benaknya tadi untuk melajukan mobil ke rumah mewah lelaki itu. Tetapi, ia memutar balik, secepat mungkin menyadari bahwa ia tidak boleh gegabah. Ia tahu Willy tidak akan menyukai kedatangannya yang mendadak itu nanti. Maka, diurungkan niatnya untuk berkunjung ke rumah lelaki itu. Tetapi sebagai gantinya, ia mengirim pesan untuk bertemu malam ini dengan Willy. Lelaki itu juga telah membalas pesannya dan mengiyakan keinginannya untuk bertemu malam nanti.

__ADS_1


Fiska tidak sabar untuk segera bertemu. Tapi, ia mengubah rencana tempat pertemuannya dengan lelaki itu. Fiska sudah menyusun rencana licik di otaknya untuk mendapatkan apa yang ia mau. Namun, ia melupakan satu hal, bahwa Willy adalah sosok yang tidak bisa dengan mudah untuk ditaklukkan oleh siapapun. Jadi sepertinya ia harus berusaha cukup keras malam nanti untuk mewujudkan keinginannya itu.


Sikap Willy yang masih dingin juga menjadi hambatan baginya. Willy memang tidak akan mudah ia taklukkan. Namun, ia tahu bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika ia telah mengupayakan segalanya demi lelaki itu. Termasuk menjatuhkan harga dirinya sendiri. Oh iya, ia lupa bahwa memang sedari dulu ia tidak lagi memiliki harga diri.


__ADS_2