
Perkuliahan saat ini sedang berlangsung. Lintang pagi ini datang ke kampus di antar suaminya. Willy bahkan turun, ia ikut mengantar istrinya sampai ke depan kelas. Tatapan iri dan terpesona seketika Lintang dapatkan dari segala penjuru. Sela juga melihatnya, Lintang tampak berbeda pagi ini. Ia terlihat lebih bahagia dan itu memberi aura yang semakin mempercantik dirinya.
"Bahagianya." Begitu goda Sela pada Lintang. Lintang hanya membalasnya dengan senyuman.
"Hmm... Sel ini apa?" Sahut Lintang, ia menunjukkan sebuah kartu nampak seperti ATM pada gadis itu. Sela sontak terbelalak kaget. Ia memegang pundak Lintang lalu histeris.
"Gilaaaaa. Ini Black Card. Siapa yang ngasih Lin? Suami lo ya? ya? ya?" Tanya Sela setengah berteriak. Ia benar-benar merasa matanya kini telah berubah jadi simbol dolar.
"Iya, tadi sebelum aku masuk kelas, Kak Willy ngasih ini. Aku gak tau ini apa, beda aja sama ATM lama ku." Sahut Lintang bingung.
"Ya Tuhan, ampunilah sahabat hamba yang polos ini. Lin, sumpah lo bisa beli apapun dengan ini. Gila, lo beruntung banget." Sela berkata sambil mengguncang pundak sahabatnya itu. Ia tidak habis pikir dan ia juga sangat bahagia mendapati Lintang dengan apa yang dimilikinya saat ini.
"Aku bisa beli baju yang kita lihat waktu itu Sel?" Tanya Lintang lagi, ia sudah membayangkan dress cantik berwarna hitam elegan dengan bahan selembut sutra itu melekat di tubuhnya. Harganya fantastis sekali saat ia melihatnya hampir lima juta dan itu membuat Lintang hampir pingsan.
"Lo bisa beli itu seratus lusin dengan ini. Lo bahkan bisa beli mobil. Lo bisa beli apapun." Jawab Sela berbinar-binar. Lintang lemas seketika mendengar penjelasan sahabatnya itu. Mengapa Willy memberinya ini. Ia benar-benar jadi tidak enak hati.
Lintang terkenang tadi sebelum ia masuk kelas, Willy mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Ia menarik salah satu kartu yang baru sekali itu Lintang lihat seumur hidupnya. Lintang tidak tahu bahwa itulah black card. Kartu yang hanya dimiliki kalangan konglomerat. American Express Centurion Card atau lebih dikenal dengan Black Card adalah kartu kredit paling diminati oleh para miliarder. Dan benda itu kini ada di tangannya. Willy menyerahkan pada Lintang.
"Pakailah saat kau ingin membeli apapun." Ujar Willy lalu ia mencium kening istrinya sebelum berbalik dan pergi menuju mobilnya. Saat itu mereka menjadi perhatian seisi kampus. Para pria yang dulu pernah menaruh hati pada Lintang tiba-tiba beringsut, menyadari mereka memang tidak ada apa-apa nya di banding suami gadis itu.
Lintang kembali menatap benda itu. Ia terdiam cukup lama sampai akhirnya tersentak saat Sela bersuara.
"Udah Lin, simpan tuh kartu. Ntar hilang."
__ADS_1
Lintang mengangguk lalu menyimpan baik-baik benda itu. Tidak lama kemudian dosen mereka datang. Perkuliahan akan segera dimulai. Lintang serius mengikuti mata perkuliahan hari ini. Ia tidak ingin mengecewakan keluarga besar yang telah menyekolahkannya hingga ke perguruan tinggi. Nilainya selama ini selalu bagus, ia mahasiswi pintar dan cerdas.
Saat sedang asyik tenggelam dalam penjelasan materi yang sedang diberikan dosen, Lintang kembali mendapatkan nyeri di perutnya. Ia merintih lirih berusaha tidak mengacaukan kelas yang sedang hening. Ia melihat Sela, memanggil sahabatnya itu pelan.
"Sel, perutku sakit lagi. Aduh.. " Lintang meringis, matanya terpejam menahan sakit. Sela menoleh ia juga ikut meringis seolah merasakan apa yang Lintang rasakan.
"Lo sih Lin, gue ajakin ke rumah sakit kemarin gak mau." Ujar Sela lirih.
"Sakitnya hilang timbul Sel." Sahut Lintang lagi.
"Ya udah yuk pulang aja, kita izin aja, gue anterin deh ke rumah sakit." Ujar Sela lagi. Lintang menggeleng.
"Udah nanggung Sel, tar lagi kan selesai kuliahnya." Sahut Lintang lagi setengah berbisik sambil menekan perutnya.
Jadilah mereka hanya bersahut-sahutan sepanjang jam pelajaran. Lintang sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini ia sering merasa nyeri di bagian bawah perutnya sebelah kiri. Mungkin ia akan segera mendapat tamu bulanan, karena ia memang sering merasa nyeri jika akan atau sedang mengalami pendarahan bulanannya.
...****************...
Lintang menunggu Willy di bangku taman kampus, ia telah mengirim pesan sudah menyelesaikan mata perkuliahannya dan meminta izin untuk naik angkutan umum saja tapi Willy tidak mengizinkan. Ia meminta istrinya tetap menunggu hingga ia datang. Setelah hampir lima belas menit menunggu, mobil suaminya tiba. Ia segera masuk setelah membuka pintu mobil.
"Kenapa kau pucat akhir-akhir ini?" Tanya Willy begitu ia telah mendaratkan tubuhnya di kursi mobil.
"Hanya sedikit sakit di sini Kak." Lintang menunjuk perutnya. Willy mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Kau pasti makan sembarangan di kantin tadi." Sahut Willy.
"Tidak Kak, Lintang belum makan apapun kok." Jawab Lintang.
"Kita makan ya. Kau ikut aku saja hari ini." Ujar Willy lagi. Lintang tidak menjawab, ia menurut patuh. Lagipula, ia bosan juga jika harus seharian berada di apartement.
Lintang takjub saat Willy memasuki kawasan perusahaannya yang besar dan luas. Selama ini, Lintang hanya melihatnya di koran atau majalah atau televisi saja ia belum pernah sekali pun menjejakkan kaki di perusahaan yang sangat luas itu.
Mereka keluar dari mobil, Willy menggandeng tangan Lintang membawanya masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka ke ruangannya. Sepanjang koridor perusahaan, mereka menjadi pusat perhatian. Baru kali ini selama hampir dua bulan pernikahan mereka, Willy membawa Lintang ke sana. Tak heran, bisik-bisik mulai terdengar. Mereka tak menyangka, istri dari atasan mereka ternyata masih sangat muda. Namun, mereka nampak serasi, yang satu tampan dan satu lagi cantik.
Lintang masuk ke ruangan kerja suaminya yang luas. Ada sofa empuk di sisi lain ruangan.
"Kau mau makan apa? biar kita pesan dan makan disini." Ujar Willy lalu mengajak istrinya duduk di sofa itu.
"Apa saja Kak. Lintang tidak pilih-pilih makanan kok." Sahut Lintang lagi. Willy mengangguk lalu menelpon asistennya untuk memesan makanan. Ia juga berpesan agar jangan ada yang masuk atau mengganggunya selama istrinya berada di dalam ruangan.
Willy memencet remot yang seketika secara otomatis langsung menutup tirai didepan sofa. Lintang tahu, suaminya menginginkan dirinya saat ini. Ia membiarkan Willy mulai menciuminya, lelaki itu juga mulai membuka kancing kemejanya dan mulai membenamkan wajahnya ke sana. Lintang terbuai lagi, ia membalas, menekan lembut kepala suaminya.
Saat mereka sudah di tengah pergulatan, Lintang tiba-tiba mengerang. Ia memegang perutnya, menekannya membuat Willy panik.
"Kenapa?" Tanya Willy
"Sakit Kak." Lintang menunjuk perutnya. Willy mendekatkan bibirnya ke sana, ia menciuminya lembut. Lintang mengusap rambut suaminya.
__ADS_1
"Masih sakit?" Tanya lelaki itu. Lintang menggeleng pelan, meski sakitnya masih sedikit terasa. Ia kasihan pada suaminya yang sudah hampir mencapai puncak, jadi ia kembali menarik Willy untuk melanjutkan. Ia menahan sakitnya yang perlahan mereda namun masih terasa, Willy juga melakukannya dengan lembut sampai ia mencapai puncak kenikmatan.
Ia meraih kening Lintang, mengecupnya lama lalu mulai membenahi pakaian istrinya seperti semula. Ia sendiri mulai memakai lagi pakaiannya, dan mereka kemudian saling berpelukan sampai asistennya datang membawakan pesanan makanan mereka.