
Willy dan Lintang membuka kantung-kantung belanjaan yang berisi perlengkapan bayi-bayi itu dengan sumringah. Ada banyak sekali benda-benda lucu dalam ukuran mungil. Semuanya serba ganda.
"Lucu-lucu banget ya Yah." Lintang tertawa kecil melihat benda-benda itu.
"Iya Bun. Yang ini nih apa lagi." Willy mengangkat dua jumpsuit bayi berwarna biru dan hijau dengan motif serupa.
Willy memasukkan benda-benda menggemaskan itu ke dalam koper. Ia senang sekali tiap kali melihat benda-benda lucu itu. Tak sabar rasanya ingin segera melihat si kembar memakainya kelak.
"Oh iya Bun, besok kalau jadi, Ayah mau ke Bandung. Ada yang harus dibicarakan dengan Zacky di sana mengenai perusahaan." Kata Willy dengan tangan yang terus memasukkan perlengkapan itu ke dalam koper.
"Nginep ya Yah?" Tanya Lintang menatap suaminya.
"Enggak Bun, pulang hari kok." Sahut Willy membuat Lintang tersenyum lagi.
"Ya udah, sama asisten Setya Yah?" Tanya Lintang lagi. Willy mengangguk.
"Aku titip salam buat Kak Zacky sama Sela juga ya Yah."
"Iya sayang. Nanti aku sampein ya."
Willy telah selesai memasukkan semua perlengkapan bayi itu ke koper. Ia meletakkan kembali koper dengan rapi tak jauh dari ranjang mereka.
Lintang memilih turun, Willy menemaninya, membantu menapaki anak tangga dengan pelan dan hati-hati.
Sampai di ruang tengah Al tengah bermain bersama Mama dan papa. Ada Mbok Nah juga di sana. Mainan sudah berhamburan, Papa terlihat sedang bermain kejar-kejaran dengan Al yang sudah tertawa-tawa. Willy dan Lintang bergabung. Suasana jadi ramai seketika.
Al memeluk Lintang. Ia juga mencium perut bundanya yang tampak besar.
"Adik nda." Ia menunjuk perut Lintang dengan tawa renyah. Lintang ikut tertawa juga.
"Nanti kalau adik-adik sudah lahir, harus sayang ya Nak." Ujar Lintang sambil mengusap kepala Al dengan lembut.
Al tampak mengangguk angguk lucu kemudian kembali lagi menuju mainannya. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Al sudah nampak mengantuk dan terlihat menguap beberapa kali.
"Tidur yuk." Willy mengangkat tubuh anaknya. Ia menggendongnya membawa ke atas. Mama dan Lintang juga ikut menyusul. Willy meletakkan Al kembali di ranjangnya sendiri. Anaknya itu sudah tertidur. "Bunda tidur juga ya." Sambungnya kemudian pada Lintang.
__ADS_1
"Iya, Ayah juga ya, kan besok mau berangkat ke Bandung."
Willy naik ke ranjang dengan Lintang yang sudah berbaring miring kiri. Willy menarik selimut untuk menutupi mereka berdua, melindungi dari dinginnya pendingin ruangan itu.
"Aku jadi gak tenang ninggalin kamu besok." Kata Willy diantara ceruk leher Lintang. Tangannya memeluk perut Lintang dari belakang.
"Gak papa kok Yah. Kan ada mama yang bakal bantuin aku. Lagian, ayah kan gak nginep." Hibur Lintang sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan suaminya itu.
"Iya Bun, besok pokoknya kalo urusan selesai, aku cepet langsung pulang. Gak mau kepikiran ntar."
"Iya sayang. Eehmmmm, sayang ah." Lintang merasakan Willy mengelus kedua dadanya. Tanpa sadar suaminya itu memilin putingnya, membuat Lintang melenguh sesaat.
"Aku kangen Bun." Willy nyengir. Ia tahu saat ini Lintang sangat sulit bergerak. Ia tidak boleh egois.
Willy kembali meletakkan kembali tangannya ke atas perut Lintang. Ia ikut memejamkan mata. Willy mencium kening Lintang sebelum mereka berdua terlelap ke alam mimpi.
...****************...
Keesokan harinya, Lintang mengantar Willy ke depan pintu, melepas kepergian suaminya hari itu. Perjalanannya memang tak terlalu jauh namun tetap saja, dengan meninggalkan Lintang yang sedang hamil tua dan bisa melahirkan kapan saja itu membuat Willy jadi gugup dan khawatir juga.
"Bun, kalo ada apa-apa langsung telepon ya." Kata Willy sambil mencium pipi dan kening istrinya.
Willy menggendong Al lalu mengecup pipinya.
"Ayah pergi dulu ya. Jangan nakal ya sayang, jangan ajak bunda kejar-kejaran, bunda lagi gak kuat lari." Celotehnya pada sang putra. Lintang tertawa mendengar mereka.
Willy melepaskan gendongannya, menurunkan Al. Ia kemudian kembali memeluk Lintang sesaat lalu masuk ke dalam mobil dimana Setya telah menunggu dengan patuh.
"Dadah yah dadah." Al melambai lucu ke arah mobil yang sudah mulai menjauh.
"Ayo masuk sayang. Bunda temenin main robot ya." Al menggenggam jemari Bunda, menuju ruang tengah untuk kembali bermain.
Lintang menemaninya, bergantian dengan mama mertua Yang selalu sigap membantunya.
"Lin, kamu istirahat aja ya. Jangan terlalu banyak gerak nanti capek. Hamil kembar beda loh sama hamil tunggal." Kata mama mengingatkan Lintang.
__ADS_1
"Iya ma, Lintang istirahat disini aja Ma."
Mama mengangguk, ia juga telah memberi Lintang vitamin pagi ini. Lintang berbaring di sofa. Memperhatikan mama dan juga Al yang sedang sibuk bermain.
Disaat-saat seperti ini, Lintang sangat bersyukur di anugrahi mama yang selalu ada untuknya. Setia membantunya ketika sedang kerepotan mengasuh Al.
"Kamu makan sekarang sedikit sekali Lin." Ujar Mama yang masih bermain dengan Al.
"Iya ma, nafsu makan Lintang berkurang banget sekarang."
"Gak papa, yang penting tetap harus makan ya. Kamu perlu tenaga, gak boleh lemas."
Lintang mengangguk paham. Ia mulai berusaha memejamkan mata untuk sedikit mengistirahatkan tubuhnya. Perutnya terasa nyeri. Ia hanya diam, berusaha tenang karena biasanya memang saat seperti ini ia kerap kali merasakan kontraksi palsu.
Saat itulah perut Lintang terasa pegal. Ia jadi susah beranjak. Tiba-tiba terasa sesuatu merembes dari sela pahanya. Lintang mencoba menggapai paha, ia merasakan ada sesuatu mengalir, baunya khas sekali.
"Ma..." Lintang memanggil mama.
"Iya Lin." Mama menyahut tanpa menoleh.
"Ma, ketubanku kayaknya pecah ma."
"Ohh... " Mama terdiam sesaat, berusaha mencerna kata-kata menantunya barusan. " Apa?!" Ia segera beralih, di hampirinya Lintang yang sedang menahan laju air ketuban. Mama terperangah. Sungguh tidak terbayang, Lintang akan melahirkan secepat ini.
"Mbok, ambil pembalut mbok." Mama berteriak, sementara ia sendiri membantu Lintang membetulkan posisi.
Mbok Nah datang tergopoh-gopoh.
"Lintang mau melahirkan Mbok, ambil pembalut cepat mbok. Ketubannya pecah." Mbok Nah segera mengambil pembalut. Setengah berlari kemudian menghampiri Mama menyerahkan benda itu kemudian ikut membantu Lintang mengenakannya.
"Panggil mang Ujang, siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang. Telepon Willy juga suruh pulang sekarang."
Mbok Nah segera melaksanakan semua perintah mama. Mama dan Lintang sudah masuk ke dalam mobil. Ia meminta Mbok Nah ikut serta.
"Bertahan ya Lin, apa sudah terasa sakit?" Tanya mama di dalam mobil.
__ADS_1
"Sedikit ma, mulai terasa nyeri." Lintang berusaha tenang.
Mobil melaju, membelah jalanan yang tidak terlalu macet. Mang Ujang dengan kelihaiannya mengendarai mobil dengan hati-hati sampai mereka tiba di rumah sakit.