Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
33. Love At First Sight


__ADS_3

Siang itu terik mentari menyinari bumi, panasnya membuat sebagian orang enggan untuk keluar. Namun tidak dengan Willy, karena adanya janji dengan Emilie mau tidak mau ia harus melangkah keluar dari perusahaan juga. Mereka akan bertemu di salah satu restoran bintang lima di dalam ruang VIP yang telah di pesan gadis itu. Willy melangkah keluar tapi tidak di damping asistennya, Setya. Ia ingin mengendarai mobil sendiri seperti kebiasaannya selama ini. Setya diperintahkan untuk menghandle semua situasi di perusahaan selama ia keluar. Saat keluar dari ruangan, semua mata tertuju padanya. Para pegawai perempuan melihat atasan mereka yang begitu mempesona. Sebagian menelan ludah, yang lain sudah terbang ke hayalan paling tinggi membayangkan mereka lah kekasih dari lelaki gagah dan tampan itu.


Aroma parfum mahal yang wangi itu masih meninggalkan baunya yang semerbak meski Willy telah menghilang dari pandangan. Willy tidak mau ambil pusing dengan semua kegaduhan di perusahaan yang sebagian besar memang berasal dari pegawai perempuan. Willy sendiri tidak mau satu ruangan dengan sekretarisnya di kantor. Ia lebih nyaman dengan asisten dari perusahaan, laki-laki yang lebih tua dari nya itu, Setya.


Willy masuk ke dalam mobil kemudian bergegas menyalakan mesin lalu meninggalkan perusahaan menuju restoran yang menawarkan menu jepang di mana Emilie telah menunggu dengan anggun dan cantik hari itu.


...****************...


Emilie sedang memesan makanan dengan seorang pelayan yang sigap mencatat pesanannya di dalam ruang VIP di dalam restoran saat Willy datang dan masuk. Emilie tersenyum hangat, seraya menyapa lelaki yang telah membuatnya bergulat dengan pikiran akhir-akhir ini. Willy mengambil posisi tepat di depan gadis itu, ia duduk dengan santai masih dengan sikapnya yang dingin namun tetap dengan senyuman. Emilie terpesona lagi dan lagi. Ingin rasanya ia membungkus senyum Willy yang sangat minim itu.


"Kau sudah lama menungguku?" Tanya Willy. Emilie tersenyum lalu menggeleng.


"Tidak, baru saja. Aku tiba lima menit sebelum kau sampai."

__ADS_1


Willy terdiam, merasa tidak memiliki pembahasan lagi pada gadis ini. Lagipula, pembahasan mengenai pembangunan proyek di Bandung Utara pekan depan sudah mendapatkan kesepakatan dan telah di tanda tangani berkasnya pagi tadi saat meeting antar perusahaan. Namun demi menghormati koleganya ini ia tetap menerima ajakan makan siang bersama hari ini dari gadis itu.


"Aku dengar, kau baru kembali dari Perancis?" Emilie membuka percakapan mereka setelah cukup lama saling terdiam dan mencari topik apa yang bisa menghangatkan suasana.


"Ya, sebulanan yang lalu. Saat Kakekku dirawat waktu itu." Sahut Willy.


"Ah ya, Tuan Franky. Beliau sangat ramah dan bersahabat kepada siapa saja. Aku pernah menjumpainya beberapa kali dahulu saat ikut Ayahku dalam beberapa pertemuan antar pengusaha." Balas Emilie. Ia memang mengenal Tuan besar Franky Dwianuarta.


"Kau sendiri? sudah lama berada di Indonesia?" Tanya Willy kemudian, nampaknya ia mulai nyaman dengan situasi.


Kemudian pesanan mereka datang, mereka mulai nampak akrab satu sama lain. Sesekali Emilie akan melemparkan candaan pada Willy, membuat lelaki itu tertawa. Emilie senang sekali melihatnya. Dari bibirnya, mengalir cerita bahwa Emilie adalah anak tunggal ia memang berdarah campuran, karena itu wajahnya tidak seperti pribumi asli.


Willy juga mulai asik bercerita tentang siapa dirinya, namun Willy melewatkan satu hal penting yang nampaknya sengaja ia tutupi yaitu tentang statusnya yang telah menikah. Willy juga menyadari memang tidak akan bisa ia menutupi terlalu lama hal itu. Ia adalah seorang yang besar. Orang-orang banyak yang telah mengenal dirinya, apalagi media memberitakan tentang pernikahannya dengan Lintang beberapa waktu yang lalu. Namun ia tidak ambil pusing, kalau Emilie tahu nanti juga tidak masalah.

__ADS_1


Tidak terasa pertemuan mereka hampir berjalan satu jam lebih. Willy dan Emilie sudah mulai mengenal satu sama lain. Willy merasa nyaman ketika berbicara dengan gadis blasteran itu. Maka ia tidak menolak ketika Emilie mengutarakan akan mengajaknya keluar lagi nanti. Emilie juga semakin gencar mendekati lelaki pujaannya itu. Ia benar-benar merasa sedang jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama pada lelaki ini.


Mereka akhirnya berpisah karena waktu sudah beranjak menuju sore. Willy memilih tidak kembali ke perusahaan. Ia mengirim pesan singkat kepada asistennya di sana untuk menghandle semua hal tentang perusahaan hari ini. Willy pulang, melajukan deru mobilnya menuju rumah induk.


Saat telah sampai, ia tidak menemukan Ibunya, juga tidak melihat Lintang. Willy teringat, pasti gadis itu sedang berada di rumah mungil di belakang. Benar saja dugaannya, pintu tidak dikunci. Willy masuk, ia melihat suasana sunyi. Willy mengitari ruangan demi ruangan yang minimalis itu namun lagi-lagi tidak menemukan Lintang. Ketika membuka gagang pintu kamar, barulah ia melihat gadis itu. Lintang sedang tertidur. Tenang sekali, Masih menggunakan dress nya pagi tadi.


Willy duduk di sisi ranjang yang tidak seberapa besar itu. Tanpa sadar tangannya terulur, menyibak anak rambut yang menutupi salah satu mata yang sedang terpejam itu. Willy menelusuri setiap inci wajah yang halus dan putih itu dengan jarinya. Ia menghentikan gerakan tepat di bibir ranum istri cantik yang tidak dicintainya. Willy menatap bibir itu lama, bibir yang telah berapa kali ia kecup paksa.


Perlahan, Lintang membuka matanya. Willy menarik cepat jarinya, namun ia tidak berhenti menatap Lintang. Keduanya seolah terbius oleh suasana. Siang yang tadinya terik kini telah mendung dengan hujan yang mulai turun membasahi bumi. Dingin mulai terasa kini. Bau tanah basah akan tercium ketika kaki menjejak disana.


Willy meraih Lintang, mencium bibirnya lagi, awalnya pelan kemudian menjadi lebih menuntut. Ia mulai membuka kemeja kerjanya yang telah digulung lengan bajunya hingga ke siku. Bibirnya memagut bibir milik Lintang. Lintang tidak kuasa menolak, ada perasaan aneh yang tiba-tiba bergejolak. Lintang merasa sedih dan terpancing gairah disaat bersamaan.


Willy menuntaskan hasratnya sore ini, di tengah hujan yang turun dengan deras. Suara mereka beradu dengan suara gemercik air yang dihasilkan hujan di luar sana. Mereka kembali melakukannya. Entah karena suasana dingin yang menuntut kehangatan atau memang karena keduanya sama-sama menginginkan satu sama lain. Entah lah, yang jelas keegoisan dan kebencian itu kini perlahan luntur seiring berjalannya waktu. Meski Willy belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran Lintang, namun ia mulai menggilai semua yang ada pada istrinya itu.

__ADS_1


Willy mulai merindukan Aroma tubuh Lintang, juga suaranya yang merdu. Serta tawanya yang sesekali ia lihat saat sedang mencuri pandang. Lintang? bagaimana dengan gadis itu? Lintang masih terlalu takut untuk membayangkan hal-hal indah bersama suaminya. Ia hanya tahu, Willy menganggapnya budak berlabel istri yang bisa ia nikmati kapan saja sesuka hati dan Lintang hanya tahu itu saja. Meski ia sangat sakit ketika menyadari kenyataan pahit itu.


__ADS_2