Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
41. Nyeri Perut


__ADS_3

Sela datang tepat pukul sepuluh pagi saat Lintang juga telah selesai berkutat di dapur dan telah selesai pula membersihkan diri. Sela mengitari seluruh ruangan apartement dengan tatapan kagum.


"Wah Gila, keren banget apartement kalian." Ujar gadis itu dengan mata berbinar-binar, ia kemudian melirik sekilas, melihat kamar Lintang dan Willy yang terbuka. Tampak Ranjang yang besar juga ruangan yang luas di dalamnya.


"Iya, Kak Willy sendiri yang meminta di desain seperti ini, Sel." Sahut Lintang.


"Gila gila gila. Gue baru kali ini liat apartement semewah ini. Dan ini satu-satunya apartement yang terpisah sama apartement lain." Sela masih terkagum-kagum, ia berdecak berkali-kali.


"Kamu suka, Sel?" Tanya Lintang pada sahabatnya itu.


"Harusnya gue yang nanya, Lin. Betah gak lo disini? kerasan gak? kamar kalian gede banget, pasti enak tu kalo lagi berantem di ranjang sama suami." Ujar Sela menggoda Lintang. Lintang merasa malu, ia menyikut sahabat nya itu.


"Duduk yuk," Ajaknya pada Sela yang masih terkagum-kagum.


"Suami lo marah gak gue ke sini? Gue kan gak enak Lin." Ujar Sela.


"Kamu tenang aja, aku udah izin kok lagian Kak Willy yang minta kamu datang." Jawab Lintang berusaha menenangkan sahabatnya itu. " Oh iya, aku bikin masakan baru ni." Lintang beranjak, menuju dapur lalu menyerahkan makanan yang ia buat tadi.


"Enak baunya, kebetulan gue lagi laper ni." Sahut Sela lalu mulai mencoba masakan buatan Lintang.


"Enak gak?" Tanya Lintang. Sela mengangguk cepat ia hampir menghabiskan makanan itu. Lintang tersenyum puas.


Lintang kemudian hendak beranjak untuk mengambil dessert namun langkahnya terhenti, perutnya terasa begitu nyeri. Lintang merintih, mencari pegangan untuk menyangga tubuhnya yang tiba-tiba lemas. Sela segera meletakkan piring dan menghentikan kegiatan makannya. Ia segera memapah Lintang untuk duduk kembali di sofa.


"Lo kenapa Lin? Apa yang sakit?" Tanya Sela khawatir.


"Gak tau, tiba-tiba ngilu di sebelah sini." Lintang menunjuk bagian bawah kiri perutnya.

__ADS_1


"Sakit banget ya Lin? Kita ke rumah sakit ya." Ajaknya pada Lintang. Ia bertambah khawatir melihat Lintang yang sudah pucat dan lemas.


"Gak usah Sel, sebentar lagi sembuh kayaknya." Ujar Lintang menolak. Namun, Kram perutnya malah semakin terasa.


"Lin, gue khawatir banget. Ayo kita ke rumah sakit ya." Ajak Sela lagi berusaha membujuk Lintang yang masih saja ngotot tidak mau.


Akhirnya ia mengalah, Ia mengambilkan air putih hangat kuku untuk meredakan sakit perut yang masih dirasakan Lintang. Sela memberikannya segera dan Lintang juga segera meminumnya. Ia beristirahat beberapa saat. Perlahan, ia mulai bisa duduk. Lintang kembali duduk lagi.


"Kecapean lo Lin. Banyakin istirahat ya." Ujar Sela pada Lintang, ia menggenggam jemari sahabatnya itu.


"makasih ya Sel. Untung ada kamu." Sahut Lintang, Sela tersenyum kepada sahabatnya itu. Ia menemani Lintang untuk beberapa jam kemudian, lalu satu jam sebelum Willy sampai ia berpamitan pada Lintang untuk pulang.


...****************...


Lintang sudah selesai mandi saat Willy masuk ke dalam apartement mereka. Ia masih merasa sedikit nyeri di bagian perut bawah. Sesekali Lintang meringis, menahan ngilu. Willy menghampiri Lintang yang berdiri dengan satu tangan menyentuh dinding menahan tubuhnya sebagai penyangga.


"Kau pucat sekali. Apa yang terjadi?" Willy meraih dagu Lintang melihat istrinya penuh selidik.


"Tidak apa-apa Kak, hanya sedikit pusing tadi." Sahut Lintang memberi jawaban.


"Kau sudah makan?" Tanya Willy lagi. Lintang tiba-tiba tersentak, benar ia belum makan juga belum memasak makanan untuk suaminya. Lintang menatap Willy takut-takut.


"Maaf Kak, Lintang belum masak." Ujarnya lirih. Lintang benar-benar lupa ia belum memasak apapun untuk makan malam suaminya. Karena perutnya yang sakit seharian membuat aktifitasnya jadi terbatas dan akhirnya ia lupa bahwa ia belum membuatkan apa-apa untuk Willy.


"Ganti bajumu, kita pergi ke restoran." Willy akhirnya meninggalkan Lintang yang masih merasa bersalah. Lintang menurut saja akhirnya. Ia membuka lemari lalu mulai menarik satu dress selutut yang kemudian langsung dikenakan. Ia menunggu Willy yang masih berada di dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Willy telah selesai mandi dan lalu ia juga sudah rapi dengan pakaian yang ia kenakan. Willy akan mengajak Lintang pergi ke restoran mewah. Mereka kini berada di dalam lift.

__ADS_1


"Kau sampai melupakan makan mu. Jangan seperti itu lagi." Ujar Willy sambil meraih jemari Lintang lalu menggenggamnya.


"Maaf Kak. Tadi perutku sakit sekali, jadi aku lupa untuk memasak dan makan." Sahut Lintang. Willy terkejut mendengarnya.


"Kau tidak menghubungiku? sekarang bagaimana rasanya, masih sakit?" Tanya Willy lagi. Lintang menggeleng.


"Sudah tidak lagi, Kak." Sahut Lintang.


Willy terus menggenggam jemari Lintang hingga mereka tiba di besment parkir. Lintang merasa nyaman, ia merasa seperti ada yang melindungi. Perlahan hatinya yang terluka karena lelaki itu kini mulai sembuh sedikit demi sedikit. Namun, Lintang tetap tidak mau terlalu berbesar hati. Ia tetap harus tau diri.


Suasana restoran mewah itu cukup ramai malam ini. Pengunjungnya tentu semua dari kalangan elite. Ada yang bersama keluarga ada juga yang terlihat mesra dengan pasangan mereka. Lintang dan Willy duduk di sebuah tempat yang strategis, dimana setiap orang bisa melihat mereka dari segala arah. Kedatangan Presdir Dwianuarta Group itu tentu saja membuat orang-orang cukup terkesima. Manager tempat itu sampai turun tangan untuk melayani.


"Kau suka tempat ini?" Tanya Willy saat mereka sedang menunggu makanan pesanan mereka.


"Iya Kak, terima kasih ya." Sahut Lintang sambil tersenyum. Willy memalingkan sesaat wajahnya, ia tidak tahan melihat bibir istrinya yang tersenyum. Membuat bibirnya sendiri ingin segera mencium mesra.


"Perutmu masih sakit?" Tanya Willy sekali lagi perihal rasa sakit yang seharian diderita Lintang.


"Tidak Kak. Sudah hilang, semenjak Kakak pulang, nyerinya sudah mereda." Jawab Lintang.


"Baiklah, berarti kalau sakit lagi nanti, kau harus cepat menghubungiku ya."


"Iya Kak." Sahut Lintang. Wajahnya jadi bersemu merah melihat semua perhatian Willy kini. Lelaki itu jauh berubah, ia menjadi lebih perhatian dan kini lebih lembut padanya. Bolehkah ia sedikit menaruh harapan?


Makanan mereka datang. Lintang dan Willy mulai menikmati hidangan yang tersaji. Willy berkali-kali mencuri pandang, kini ia melihat Lintang dengan tatapan lain. Hatinya bermekaran semakin banyak. Willy tidak lagi menemukan kebencian yang dulu ia tanam, perasaan itu telah mengerucut, mengecil dan benar-benar telah tersesat entah dimana.


Willy juga merasa haus sentuhan Lintang. Ia tidak bisa menahan gejolak hasratnya untuk mengajak istrinya larut dalam penyatuan panjang. Willy tidak ingin lagi mengulang semua kejahatan yang pernah ia lakukan dulu pada Lintang. Ia benar telah jatuh hati, pada perempuan di depannya ini. Benar kata orang, Benci dan cinta itu bedanya tipis sekali. Jadi berhati-hati lah saat kalian menetapkan hati untuk membenci orang lain, bisa jadi dia lah nanti yang akan kalian cintai.

__ADS_1


__ADS_2