
Willy membuka pintu apartement. Wajahnya nampak kesal. Ia melenggang masuk, matanya terlihat mencari-cari. Willy membuka pintu kamar, ia melihat Lintang sedang tertidur tertelungkup. Baju kemeja dan juga rok jeans nya belum ia buka. Willy melihat bantal di sebelah Lintang tertidur tampak lembab. Seperti baru saja basah oleh air. Willy membuka bajunya, ia pergi ke kamar mandi dan membiarkan Lintang tetap tertidur.
Tadi Willy kesal sekali, mendapati Lintang telah pulang lebih dulu padahal ia berusaha secepat mungkin pulang untuk menjemput istrinya itu. Ia juga semakin kesal saat baru melihat ponselnya ketika sudah tiba di depan kampus. Ada pesan masuk dari Lintang yang belum sempat terbaca sebelumnya.
Setelah selesai, Willy keluar dari kamar mandi. Ia melihat Lintang telah bangun. Gadis itu terlihat sudah membentuk rambutnya membentuk cepol yang tidak sempurna namun malah membuatnya jadi semakin manis. Gadis itu terlihat sedang berkutat di dapur. Ia sedang membuat dan memasak hidangan untuk makan malam nanti.
"Siapa yang mengantarmu pulang tadi?" Tanya Willy, ia berjalan mendekati istrinya masih dengan bertelanjang dada.
"Teman Kak." Sahut Lintang singkat tanpa menoleh pada lelaki itu. Willy semakin mendekati Lintang. Ia membalikkan tubuh Lintang yang berhiaskan celemek untuk memasak.
"Laki-laki atau perempuan?" Tanyanya tajam seolah tidak puas dengan jawaban Lintang barusan.
"Perempuan Kak. Lintang di antar Sela pulang tadi." Jawab Lintang gemetaran. Ia merasa Willy yang sebenarnya mulai kembali. Laki-laki itu jadi dingin lagi.
"Kau tidak bohong?" Tanya Willy lagi.
Lintang menggeleng, Willy melepaskannya. Setelah itu ia bungkam dan melanjutkan lagi kegiatannya di dapur. Lintang sedang mengiris wortel, tanpa sadar ia jadi melamun. Teringat kejadian siang tadi. Dan tanpa ia sadari tangannya teriris, darah segar mengucur. Lintang meringis kesakitan.
Willy segera kembali ke dapur, dilihatnya Lintang sedang memegang jarinya yang kini telah berdarah. Willy bergegas mengambil kotak P3K lalu segera mencari alat pembalut luka namun ia membersihkan dahulu luka dari jari Lintang sebelum membubuhkan obat dan membalutnya. Lintang duduk di salah satu kursi yang ada di dapur. Willy sendiri sedikit berlutut untuk mengobati.
"Lukanya cukup dalam. Kenapa ceroboh begini." Ujar Willy sambil meneteskan obat di luka itu, membuat Lintang kembali meringis.
"Maaf Kak, Lintang merepotkan." Sahut Lintang tertunduk. Ia menahan airmata yang tiba-tiba menyeruak. Tanpa bisa ia cegah, airmatanya jatuh setetes mengenai jari Willy. Lelaki itu melihat Lintang yang sudah memalingkan wajah dan menghapus secepat mungkin airmatanya.
__ADS_1
"Hei kenapa menangis? Kau hanya terluka sedikit. Apa begitu sakit?" Tanya Willy sambil meraih dagu Lintang agar segera menghadap dirinya.
"Tidak Kak. Tidak sakit." Sahut Lintang akhirnya.
"Lalu kenapa menangis?" Tanya Willy lagi.
Karna dirimu, bodoh! Lihat Lin ia bahkan tidak menjelaskan siapa yang ia temui siang tadi. Dia jahat.
Hati Lintang kembali menghasut dan menghujat suaminya itu. Lintang memilih tidak menggubris pikiran-pikiran buruknya. Ia kemudian memaksakan seulas senyum pada Willy.
"Tidak Kak, maafkan Lintang cengeng sekali. Lintang hanya terkenang ibu." Sahutnya, ia berharap Willy segera kembali ke ruang tengah, Lintang benar-benar tidak kuasa menatap suaminya saat ini. Ia juga tidak berniat menyinggung tentang apa yang terjadi siang tadi. Willy tidak mencintainya, lelaki itu bebas mau melakukan apa saja di luar sana, bukankah begitu?
Willy kemudian kembali, ia menghidupkan saluran televisi mencari acara yang menarik untuk disimak.
Lintang memakan makan malamnya perlahan. Ia telah selesai mandi setelah menyudahi acara memasaknya. Kini ia telah memakai dress santai dengan rambut yang ia kuncir kuda. Willy melihat istrinya itu, tampak cantik dari hari ke hari. Tubuhnya juga jadi lebih padat dan berisi di beberapa tempat. Membuat ia jadi nampak seksi.
Saat mereka sedang makan malam, dering teleponnya berbunyi. Willy segera mengangkatnya.
"Kenapa Em? Kau sedang dimana? Oh baiklah aku akan segera ke sana." Willy menutup sambungan telepon.
Lintang masih menikmati makan malamnya. Samar-samar tadi terdengar suara perempuan yang sedang berbicara di telepon dengan suaminya. Lintang tertunduk lesu. Pasti perempuan siang tadi. Begitu pikirnya.
"Tidurlah lebih dulu nanti, aku pulang agak malam." Ujar Willy kemudian. Lintang tidak menjawab, ia hanya merasa nyeri di hatinya.
__ADS_1
"Kak, besok Lintang pergi dengan angkutan umum saja." Kata Lintang lirih. Ia sedang tidak ingin berlama-lama dengan suaminya. Lintang tahu ada yang telah tumbuh di hati kecilnya. Ia mulai merasakan sesuatu terhadap Willy. Dan kini rasanya ia seperti sedang menahan cemburu. Sesuatu yang rasanya tidak boleh ia rasakan pada lelaki itu.
"Baiklah, hati-hati. Aku akan menjemputmu." Sahut Willy akhirnya, kemudian ia menyudahi makan malam duluan lalu membersihkan mulutnya di wastafel kamar mandi.
Lintang juga sudah membereskan meja makan. Ia melihat Willy telah rapi dengan setelan kasual yang santai. Dengan kaus hitam yang membentuk tubuh atletisnya juga celana jeans mahalnya.
Sesaat sebelum melangkah keluar apartement, Lintang memanggilnya, membuat lelaki itu berbalik.
"Kak, pakailah ini." Lintang menyerahkan jaket Willy kepada lelaki itu. "Di luar dingin sekali, nanti Kakak sakit." Sambung Lintang.
Willy menerima kemudian ia segera memakainya. Lelaki itu kemudian melanjutkan langkah, meninggalkan Lintang sendirian dengan suasana hati yang tidak karuan. Willy sendiri telah sampai di besment, ia segera masuk ke dalam mobil lalu menjalankan mesin mobilnya.
Emilie menghubunginya, di dalam percakapan mereka, gadis itu mengatakan ban mobilnya tiba-tiba pecah, ia juga telah menghubungi orang yang telah membawa mobilnya pergi untuk diperbaiki. Willy sendiri sebenarnya bingung mengapa Emilie tidak menelepon atau memberhentikan taksi dan malah memilih menunggu dirinya.
Beberapa menit kemudian, Willy sampai di tempat yang dimaksud oleh Emilie. Gadis itu sedang menunggunya di luar swalayan kecil yang kebetulan ada di sana. Dari kejauhan ia bisa melihat Emilie tersenyum senang menyambut kedatangannya. Emilie masuk ke dalam mobil Willy yang akan segera mengantarkannya pulang ke apartement.
"Maaf merepotkan mu Will. Kau tidak keberatan kan?" Tanya Emilie saat ia sudah berada di dalam mobil.
"Tidak. Tapi aku hanya heran, mengapa kau tidak menyetop taksi saja." Willy menjawab sambil tertawa kecil. Ia memang begitu, berbicara apa adanya sesuai kehendak hatinya.
"Aku lebih nyaman dan aman jika kau yang mengantarku pulang." Kata Emilie memberikan jawaban yang segera di sambut tawa dari Willy. Sikap Willy yang blak-blakkan juga apa adanya itulah yang membuat Emilie semakin menggilai lelaki itu, ia jadi merasa tertantang. Mesin mobil pun kembali berjalan, mereka meninggalkan tempat itu segera.
Willy tidak menyadari bahwa dari kejauhan, tidak jauh dari swalayan yang ternyata bersebrangan dengan club malam, seseorang mengambil poto mereka diam-diam. Senyum licik menghiasi bibirnya. Ia merasa mempunyai senjata ampuh untuk mengalahkan perempuan yang sudah menjadi istri Willy sekarang. Setelah puas melihat hasil jepretannya, Perempuan dengan pakaian seksi itu masuk ke dalam club malam tersebut, tempat biasa ia akan menghabis malam hingga subuh menjelang.
__ADS_1