Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Tujuh Tahun Kemudian


__ADS_3

"Bund, dasi sekolah Al mana ya?" Al menghampiri bunda yang sedang memakaikan baju kepada kembar.


"Ampun, Bunda lupa Kak." Lintang menepuk jidat pelan.


"Gak papa bund, Al ambil sendiri aja." Lintang tersenyum lalu membiarkan anaknya itu mengambil dasi sekolah.


hari ini Al kembali harus bersekolah, setelah sudah libur selama tiga hari karena sakit. Al sekarang sudah kelak satu sekolah dasar, kembar baru saja berusia lima tahun.


"Al berangkat ya Bund, kembar jangan nakal ya." Al mencium pipi Lintang lalu mencium pula kedua adik kembarnya itu.


Dari balik kamar mandi, Willy keluar. Ia baru saja selesai mandi. Wajahnya tampak segar.


"Bund, Al udah berangkat ya?" Tanya Willy celingukan.


"Iya Yah, nungguin ayah mandinya gak kelar-kelar. Al jadi berangkat sama Mang Ujang.


"Ayah sakit perut tadi bun, makanya lama."


"Ya udah gak papa Yah, pake baju nya yuk, bunda tungguin di bawah ya." Lintang hendak berbalik, namun Willy meraih pergelangan tangannya.


"Barengan aja, sayang." Bisik Willy mesra tepat di telinga istrinya. "Kira sama Killa udah turun kan?" Tanya Willy lagi sambil merapikan anak rambut istrinya itu.


Lintang kini telah berusia 28 tahun. Ia masih nampak muda dan terawat. Lintang rajin olahraga dan merawat tubuhnya. Willy sendiri kini usianya sudah semakin matang. Ia telah menjelma menjadi papa tampan yang di puja banyak wanita.


"Duh, banyak banget sih yang godain suami aku ini." Ujar Lintang kala mereka sedang mengajak ketiga anak mereka ke mall. Lintang melihat banyak gadis muda yang tersenyum penuh arti pada suaminya itu.


"Ayah gak respon kok bun, bunda aja yang cuma bisa mengalihkan duniaku." Gombal Willy pada istrinya itu.


"Awas aja ntar kalo genit." Ujar Lintang cemberut.


"Suer deh bun, gak ada niat mau gitu."


Lintang berjinjit mencium suaminya itu.


Kini Lintang dan Willy saling berhadapan. Mereka telah mengarungi kehidupan rumah tangga hampir sepuluh tahun. Cinta semakin bersemi indah seiring anak mereka yang beranjak semakin besar.


"Bun, kamu makin kesini makin segar kayak masih abege." Willy mengecup kening Lintang hangat.

__ADS_1


"Ayah juga, makin jadi hot daddy. Kayak yang aku lihat di majalah bisnis kemarin. Foto ayah di halaman paling depan." Ujar Lintang sambil merapikan kerah baju suaminya.


"Aku sayang banget sama kamu, Lin."


Lintang bergetar, mendengar Willy menyebut namanya. Ia jadi teringat lagi awal-awal ia masuk ke dalam hidup pria tampan itu.


"Kok nangis sih?" Willy sigap menghapus airmata istri tercintanya itu.


"Terharu aja, sayang. Gak nyangka banget bisa seindah ini."


Willy meraih Lintang ke dalam pelukannya. Berarti sekali istrinya itu bagi dirinya.


"Nanti, kalau kita udah tua, rambut kita udah memutih, semoga ketika saat itu tiba, cinta kita juga masih bersemi seperti ini." Ujar Willy sambil menggenggam tangan istrinya.


Lintang mengangguk.


"Yuk, kita ke bawah, mama, papa sama kembar pasti udah nungguin." Ajak Lintang menggandeng suaminya.


Keduanya melangkah menuju lantai bawah. Tampak mama dan papa yang semakin menua. Kembar sedang asik berebut boneka.


"Ini punya Kila, Kira ambil sendiri dong ."


"Ini kenapa kok pada berantem?" Lintang menghampiri keduanya.


"Kila gak kasih pinjam boneka." Kira menangis.


"Ini kan punya Kila bun, Kira kan udah punya juga." Kila membela diri.


"Kila .. Kira, dengerin bunda ya. Sesama saudara gak boleh berantem, harus saling berbagi. Kila, coba lihat boneka kira, matanya copot. Nah, Kila sekarang main bareng ya sama Kira pake boneka ini. Kan asyik main bareng." Ujar Lintang lembut sambil membelai rambut panjang kedua anaknya itu.


"Iya deh, yuk Kira kita main bareng ya."


Lintang dan Willy tersenyum senang melihat keduanya yang sudah bergandengan tangan.


"Lucu banget sih mereka. Jadi gemes." Ujar Willy sambil mendekati Lintang.


"Gak terasa ya, anak kita semuanya udah pada gede."

__ADS_1


Willy merengkuh pinggang istrinya itu.


"Sehat-sehat ya sayang, aku masih ingin merasakan kebersamaan ini selama mungkin." Ujar Willy penuh binar bahagia.


"Kamu juga ya."


Lintang mengulas senyum manis untuk suaminya itu.


"Hati-hati ya berangkatnya sayang. Nanti aku ke perusahaan bawain makan siang."


"Iya bun, kamu juga tar ati-ati nyetirnya ya."


Willy mencium kening Lintang sekali lagi sebelum ia masuk ke dalam mobil. Papa sekarang tidak lagi ke perusahaan, Willy telah memegang penuh perusahaan besar itu.


Papa kini lebih banyak menghabiskan masa tuanya bersama mama dan cucu. Lintang memperhatikan papa dan mama yang sedang mengajak kembar bermain.


"Nenek, bukan gitu, nih Killa ajarin." Killa mengajak neneknya membuat mainan dari lilin mainan.


Lintang tersenyum senang melihat mereka. Ia segera pergi ke rumah mungil, Willy dan Lintang sekarang sering menghabiskan waktu di sana. Berbeda dengan kembar dan Al yang lebih suka berada di rumah induk.


Lintang melihat foto-foto yang terbingkai di atas meja hias. Foto yang diambil dari masa ke masa. Ia menarik satu bingkai foto saat Ia dan Willy bersama ketiga anak mereka berada di Perancis saat musim dingin.


Mereka nampak bahagia sekali. Lintang menyeka airmatanya. Hidupnya sungguh indah sekali. Ia bersyukur atas semua nikmat ini.


"Semoga abadi selamanya." Gumam Lintang lirih sambil mengelus foto itu satu persatu.


Di ruang kerjanya, Willy juga menatap penuh haru pada foto keluarga yang ia letakkan di atas meja. Mempunyai keluarga itu sangat menyenangkan. Willy jadi tak sabar ingin bertemu Lintang siang ini lagi.


Mengulangi kemesraan setiap hari tanpa bosan. Mungkin karena cinta yang begiti kuat, yang membuat ikatan batin mereka kian mengikat.


"Setya, Besok Al akan berulang tahun. menurutmu, hadiah apa yang harus aku berikan pada Al ya?" Tanya Willy pada asisten setianya.


"Berikan saja keharmonisan diantara Tuan dan Nyonya Lintang, Tuan Muda rasanya hanya butuh itu, kalau kado bukankah ia sudah memiliki semuanya?" Jawab Setya bijak.


Willy tersenyum, mengangguk tanda setuju pada asistennya itu. Benar apa yang dikatakan Setya, keluarga harmonis yang tidak pernah bertengkar adalah kado terindah bagi seorang anak. Orangtua adalah panutan. Setiap tindak tanduknya, akan menjadi contoh bagi anak-anaknya.


Maka berikanlah pemandangan yang baik pula setiap harinya. Agar ia terbiasa pula menyaksikan hal yang baik. Itu akan membentuk kepribadiannya menjadi lebih baik setiap waktu.

__ADS_1


"Jadi anak baik ya Al, sayang ayah, sayang bunda, sayang kakek dan nenek ,sayang adik-adik dan sayang ke sesama." Bisik Willy saat ia telah selesai membacakan dongeng sebelum tidur untuk putranya itu. Al mengangguk paham, ia selalu menutup malam dengan hal yang positif setiap hari.


__ADS_2