Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
32. Kembali Ke Rumah Mungil


__ADS_3

"Tidak usah naik angkutan umum. Aku tunggu di mobil." Ujar Willy saat Lintang sedang memasukkan beberapa peralatan ke dalam tas nya. Lintang sempat terkejut untuk beberapa saat tapi kemudian ia mengangguk saja.


"Baik Kak." Sahut Lintang, rambutnya masih setengah basah dan belum ia sisir.


Willy telah melangkah lebih dulu turun ke parkiran basment. Lintang sendiri sedang membenahi pakaian yang ia pakai dan juga menyisir rambut panjangnya. Lintang mengenakan dress bermotif cerah yang kontras dengan kulit putihnya. Ia tidak memakai make up, hanya memberi sedikit bedak tabur di pipi juga memoleskan sedikit lipstik di bibir agar tidak terlihat pucat.


Lintang mulai memasuki lift dan kemudian menyusuri jalanan sepanjang besment. Ia membalas lambaian tangan para penjaga apartement juga beberapa penghuni apartement yang juga kebetulan sedang berada di besment. Willy melihat itu dari kejauhan. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil melihat kelakuan Lintang itu. Gadis itu kenapa bisa begitu manis. Gumam hati kecilnya. Lalu Willy menggeleng lagi. Berusaha mengenyahkan pikiran baik tentang Lintang. Ia tidak boleh kecolongan apalagi sampai main perasaan.


Lintang masuk ke dalam mobil. Willy memandangnya cukup lama lalu mulai menjalankan mesin mobilnya.


"Ingat, jangan bicara yang buruk-buruk pada Mama." Ujar Willy ketika mereka sudah setengah perjalanan.


"Baik Kak. Lintang mengerti." Sahut Lintang patuh. Lagipula apa yang akan dikatakannya pada Ibu Mertua?


"Jangan pergi keluar tanpa seizinku." Ujar Willy lagi.


"Iya Kak." Sahut Lintang juga.

__ADS_1


Lalu kembali hening. Selalu seperti itu. Lintang menghela nafas berat. Willy tidak pernah menanyakan tentang kesehariannya pada Lintang. Ia hanya bicara yang penting-penting saja. Lintang menunduk. Ya pantas saja, kan memang lelaki itu tidak mencintainya. Menganggapnya pun hanya sekilas. Lintang sadar diri juga sadar posisi. Tapi kemudian, Lintang jadi ingat, semalam Willy tidur dengan memeluk tubuhnya dari belakang. Lelaki itu bahkan sempat terbangun untuk minum lalu kembali dan memeluknya lagi sampai pagi. Willy bahkan tidak menidurinya seperti biasa. Lintang jadi bingung dengan lelaki itu.


Akhirnya setelah perjalanan yang cukup jauh, mereka sampai di depan gerbang utama. Pak Mamat segera membuka pintu gerbang, Ia menyapa hormat pada Tuan Muda dan juga istrinya itu. Lintang seperti biasa membalas sapaan pria itu dengan hangat. Willy hanya mengangguk dingin.


Lintang kemudian turun sedangkan Willy langsung pergi ke perusahaan. Hari ini akan ada meeting juga ia ada janji bertemu Emilie. Willy memang terbiasa mengendarai mobil sendiri, ia tidak ingin supir pribadi. Kebiasaan ini bahkan telah ia lakoni semenjak memegang perusahaan di Perancis kemarin. Willy meneruskan perjalanan dan beberapa menit kemudian ia telah sampai di besment parkir perusahaan.


...****************...


Lintang disambut Ibu Mertuanya. Perempuan itu riang sekali menyambut kedatangan menantu satu-satunya itu. Ia memeluk Lintang seolah lama sudah tidak bertemu. Wanita itu mengajak Lintang masuk dan bersantai di taman belakang rumah. Lintang juga sebelumnya pergi ke dapur dan menyapa para pelayan yang juga menyambutnya hangat.


" Padahal baru seminggu, tapi mama udah kangen kamu sama Willy." Ujar Miranti lalu ia menyesap teh hangat yang tadi diantarkan Mbok Nah.


"Iya Mama ngerti kok Lin. Kamu juga mesti sibuk kuliah dan mengurus suamimu. Tapi kalian menginap kan?" Tanya Miranti memastikan.


" Iya Ma, Minggu sore baru kembali ke apartement. Nanti Kak Willy menyusul." Jawab Lintang. Namun ia seperti tidak yakin dengan jawabannya sendiri.


"Syukurlah, Mama senang mendengarnya Lin. Oh iya, Lin, kamu belum ada tanda-tanda?" Tanya Ibu Mertuanya lagi. Lintang mengernyitkan dahi mencoba mencerna pertanyaan Ibu Mertuanya ini.

__ADS_1


"Hmmm ... tanda-tanda apa ya Ma?" Lintang balik tanya.


"Apa lagi Lin. Tanda-tanda kehamilan. Mual-mual begitu misalnya." Jelas Ibunya sambil mengusap perut Lintang yang masih datar. Lintang mencoba mencerna perkataan ibu mertuanya. Ia hampir tersedak teh yang sedang ia seduh.


"Belum lah Ma, Kan Lintang menikah belum ada satu bulan. Masa udah jadi aja. Sabar ya Ma, Lintang dan Kak Willy sedang berusaha kok." Sahut Lintang berusaha menyenangkan hati Ibu Mertuanya. Wanita itu mengangguk tanda setuju. Lintang sendiri merasa sangat bodoh dengan jawaban yang ia beri. Tentu saja tidak akan ada kehamilan. Willy tidak akan menyetujui adanya anak diantara mereka. Lintang menunduk terkenang itu.


"Oh iya, Mama nanti siang ada acara arisan sama teman-teman. Kamu mau ikut?" Tanya Miranti lagi. Lintang menggeleng pelan.


"Lintang dirumah aja ya Ma, Lintang kangen rumah belakang." Sahut Lintang sambil tersenyum. Miranti akhirnya mengangguk setuju.


Keduanya kemudian berjalan santai saling beriringan. Miranti menggandeng tangan menantu kesayangannya itu. Mereka bercerita dan bersenda gurau di sepanjang perjalanan mengitari taman yang luas itu. Lintang merasa sangat menyayangi Ibu Mertuanya ini. Begitu pun wanita paruh baya itu. Ia sudah menganggap Lintang sebagai putrinya sendiri bahkan sejak Lintang dibawa oleh Franky beberapa tahun yang lalu.


Miranti menyukai kepribadian Lintang yang penurut, rajin dan juga sederhana. Sosok ideal seorang istri juga menantu. Mengingatkan Miranti pada sosoknya dahulu. Lagipula, sejak dulu Miranti memang menginginkan kehadiran anak perempuan setelah ia melahirkan Willy. Namun, dokter memvonisnya tidak bisa melahirkan lagi setelah rahimnya di angkat karena ada gejala ia akan menderita kanker rahim dahulu. Jadilah ketika Lintang hadir, Gadis remaja yang baru beranjak tiga belas tahun waktu itu memberi angin sejuk untuknya.


Hampir setiap hari Lintang akan diajak kemana pun Miranti pergi dulunya. Miranti juga membelikannya barang-barang mewah juga sering menjemputnya ke sekolah. Ibu Kandung Lintang saat itu sangat bersyukur kehadiran mereka diterima sangat baik oleh keluarga besar ini. Dan sampai sekarang, perlakuan itu tetap sama tidak berubah. Bahkan ketika Ibu Lintang juga Kakek Franky telah meninggal, mereka tetap menyayangi Lintang sama seperti dulu.


"Lin, nanti harus punya anak banyak ya. Jangan satu, kasihan nanti anakmu gak punya teman kalau di rumah. Dulu, Willy juga begitu, hanya Kakek teman bermainnya." Ujar Miranti lagi. Lintang mendesah. Pembahasan ini begitu menikam ulu hatinya.

__ADS_1


" Iya Ma, Lintang akan berusaha memberikan yang terbaik." Lintang menjawab sambil menggenggam jemari tangan Ibu Mertuanya. Ia benar-benar tidak nyaman dengan pembahasan mengenai anak ini. Jangan kan lebih dari satu, untuk memberi satu saja rasanya mustahil. Willy tidak menginginkan kehadiran anak di rahimnya. Willy tidak pernah menganggapnya istri. Meski kini ia telah berkali-kali ditiduri, tetapi tetap saja itu tidak mengubah perasaan dan rencana lelaki itu.


Lintang menarik nafas panjang, entah akan seperti apa kehidupan rumah tangga mereka kedepannya. Lintang pasrah saja, ia juga bingung harus bagaimana.


__ADS_2