
Saat keesokan hari ketika Willy sedang berada di perusahaan, Ia terlihat sedang bersandar di kursinya. Posisi Willy menghadap pemandangan luar gedungnya yang terbuat dari kaca. Ia membelakangi meja. Seseorang terdengar mengetuk pintu lalu terdengar langkah kaki. Willy sudah bisa menebak siapa pemilik langkah kaki itu yang tak lain adalah asistennya.
"Tuan, pertemuan dengan para staff di ruang meeting akan segera berlangsung."
"Setya, kau saja yang memimpin meeting dengan para staff hari ini. Aku sedang ingin bersantai." Sahut Willy tanpa memutar kursinya.
"Baik, Tuan. Saya permisi." Setya sudah berjalan lagi keluar, suara ketukan sepatunya terdengar tertatur. Namun, tidak berapa lama, ia terdengar masuk lagi.
"Maaf, Tuan. Ada tamu yang sedang mencari anda."
"Siapa? Tanya Willy sambil mengerutkan kening.
"Tuan Devan Andriano, Tuan."
Willy memutar kursinya lantas berbalik.
"Suruh saja dia masuk." Katanya lagi. Setya dengan patuh, mengangguk.
Devan masuk ke ruangan itu dengan senyum ramah. Willy membalasnya. Ia mempersilahkan pria itu duduk.
"Apa kabar?" Devan mengulurkan tangannya.
"Lebih baik dari terakhir kita bertemu kemarin." Ia tertawa sambil menjabat tangan Devan yang juga ikut tertawa.
"Gue minta maaf ya Will, atas semua kesalahpahaman kemarin. Gue terlalu frontal banget malam itu." Devan menunjukkan penyesalannya.
"Nyantai aja lagi, gue udah biasa kok. Gue juga minta maaf kemarin terlalu ambil hati."
"Gue juga sempat datang ke restoran kalian dan ngobrol sama Lintang, sekali lagi sorry banget ya Will."
"Gue udah tau kok. Nyantai aja." Willy tertawa kecil.
"Jadi sekarang, gue bisa ngajuin kerja sama dengan perusahaan lo kan?" Devan mengulurkan tangan lagi.
"Dengan senang hati." Willy menjabatnya mantap.
Keduanya tertawa dan mulai terlibat perbincangan hangat. Devan mulai mengenalkan profil perusahaannya. Willy juga banyak bercerita tentang perusahaan besarnya itu.
Semua berjalan aman dan lancar, Setya kembali ke ruangan Willy saat telah selesai mengambil alih meeting dengan para staff.
Cukup lama mereka berbincang sampai akhirnya Devan pamit untuk kembali ke perusahaannya sendiri ketika waktu telah menunjukkan pukul satu siang.
...****************...
__ADS_1
Di rumah sekembalinya Willy dari bekerja, ia tidak mendapati Lintang di kamar. Istrinya itu tidak ada dimana pun. Willy jadi panik.
"Lintang sama Al mana ma?" Tanya Willy gusar. Mama tertawa melihatnya.
"Kamu tuh Will. Ada tuh Lintang sama Al lagi di rumah belakang sana." Sahut Mama sambil tertawa. Willy terlihat nampak lega.
Ia segera pergi ke rumah mungil. Dilihatnya Lintang dan Al sedang menyusun bunga-bunga yang sedang bermekaran. Al terlihat serius menyentuh bunga-bunga itu. Lintang terlihat sedang bercerita kepada Al.
"Dicariin rupanya disini dua kesayangan ayah." Willy menghampiri Lintang, memberi kecupan di bibir dan kening nya. Ia juga mencium pipi Al.
"Sayang, malam ini aku pengen tidur disini." Pinta Lintang, Willy paham, ia setuju saja.
"Iya, nanti kita tidur disini ya."
Lintang memeluk Willy riang. Al jadi tertawa melihat ayah dan bundanya itu.
"Kamu mandi ya, aku siapin makan." Lintang mengajak Willy masuk. Al juga telah lebih dulu masuk ke dalam rumah itu.
Selagi Willy mandi, Lintang menyiapkan makanan untuk mereka. Saat sedang berada di dapur. Mama datang. Ia menghampiri Lintang.
"Al mana Lin?" Tanya mama celingukan.
"Nenek." Suara itu menjawab pertanyaannya. Terlihat Al sudah berdiri di belakangnya, rupanya Al tadi sibuk bermain di kamar.
"Dadah nda dah." Celoteh bocah itu riang sambil melambai ke arah Lintang dengan lucu. Lintang membalas lambaian itu sambil tertawa.
Willy keluar dari kamar mandi. Sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih setengah basah. Lintang tersenyum melihat suami tampannya itu. Ia mendekat, mencium Willy lembut.
Keduanya menuju meja makan. Lintang melayani suaminya dengan baik. Willy memandang Lintang yang semakin berisi itu kini.
"Sayang, makan yang banyak ya." Kata Willy setelah mengunyah makanan dan menelannya. Lintang mengangguk.
"Iya sayang, apa perusahaan baik?" Tanya Lintang sambil memandang suaminya. Willy mengangguk.
"Tadi Devan datang ke perusahaan."
Lintang menghentikan makannya, ia menatap Willy. Takut nanti terjadi kesalahpahaman lagi.
"Apa dia mengatakan yang tidak-tidak?" Tanya Lintang dengan mimik wajah khawatir. Willy menggeleng.
"Tidak, dia datang untuk meminta maaf."
Lintang menghela nafas lega.
__ADS_1
"Al mana sayang?" Tanya Willy setelah ia menyadari tidak terlihat putra gembul nya itu. Tidak pula terdengar suara nya.
"Ikut Mama, sayang."
"Mama, sehari aja gak deket Al pasti seliweran sendiri." Willy tertawa mengenang ibunya itu.
"Iya, apalagi kalau nanti si kembar ini lahir Kak, pasti mama heboh banget." Sambung Lintang dengan tawa kecil.
"Kamu bisa bayangin gak, nanti Al pengen beli ini, si kembar pengen itu. Pasti mama jadi bingung sendiri." Timpal Willy lagi. Keduanya tertawa renyah.
"Mama pasti bahagia banget ya Kak bisa punya banyak cucu, seperti harapannya selama ini."
"Pasti Lin. Dia mungkin kalo bisa cucunya itu lebih banyak lagi, biar bisa di jejerin kayak pemain sepak bola." Sahut Willy membuat Lintang tidak kuasa menahan tawanya.
Lintang dan Willy menyelesaikan makan mereka. Setelah itu mereka bersantai di samping rumah mungil, duduk di ayunan yang terbuat dari kayu klasik. Menghabiskan sisa sore di sana. Willy merengkuh pundak istrinya, melihat perut Lintang yang besar itu dengan gemas.
"Gede banget ya Bun." Ia tertawa menunjuk perut besar itu.
"Iya yah, aku kayak bawa balon gede kemana-mana." Lintang menyambutnya dengan tawa renyah.
"Tapi, kamu cantik deh kalo lagi begini." Puji Willy.
"Aku gendut." Timpal Lintang sambil mengerucutkan bibirnya.
"Gak papa bun, tambah enak aku peluknya." Bisik Willy jahil.
"Iya, kamu gak perlu lagi bantal guling. Aku udah jadi guling beneran ini." Lintang manyun lagi. Willy tertawa melihatnya.
"Kamu guling ku yang cantik." Bisik Willy lagi. Lintang mengembangkan senyum manisnya. Ia mengecup pipi suaminya itu sekilas.
"Ke dalem yuk." Ajak Lintang.
"Ngapain bun?"
"Mau guling-guling gak?" Tanya Lintang. Willy membuka matanya lebar-lebar.
"Ayo!" Ujar Willy semangat.
Lintang tertawa melihat tingkah suaminya itu. Lebih tertawa saat melihat suaminya tergopoh-gopoh mengunci pintu.
Baginya Lintang dengan kondisi apapun tetap membuatnya candu. Istri kesayangannya itu tetap cantik meski dalam kondisi tubuh berisi seperti ini sekali pun.
Lagi pula, Lintang jadi berisi begitu juga karena ia sedang mengandung anak mereka. Terlebih kini ada dua nyawa yang sedang bersemayam di dalam perutnya. Wajar saja lah tubuhnya jadi lebih berisi.
__ADS_1
Sebenarnya ia tidak terlalu menuntut untuk sering berhubungan apalagi di kondisi Lintang yang seperti ini. Cukup dengan saling berada disisi, saling bercanda, menghabiskan waktu dengan memeluk Lintang saja Willy sudah bahagia, seperti saat ini. Ia bahagia sekali.