
Setelah dua bulan dari acara pesta ulang tahun Willy, Lintang mendapati dirinya pusing dan mual saat terbangun pagi. Ia segera menuju wastaffel, menumpahkan isi perutnya. Willy yang baru selesai mengenakan kemeja kerjanya, segera menghampiri Lintang, membantu menggosok tengkuknya.
"Kenapa, sayang? sudah tiga hari begini." Ujar Willy sambil memapah istrinya ke tempat tidur.
"Gak tau, Kak. Mungkin kecapean." Sahut Lintang lemah.
Willy tampak berpikir, kemudian matanya membulat.
"Sayang, apa kau hamil?" Tanyanya penuh binar harapan. Lintang tampak mengerutkan dahi. Ia mengenang kapan terakhir ia mendapatkan menstruasi. Sebulan yang lalu, dan untuk bulan ini tanggal ia menstruasi telah lewat satu minggu. Ia jadi berbinar juga.
"Kak, apa aku beli testpack saja dulu?"
"Tidak, tidak. Langsung ke rumah sakit saja. Aku akan mengantarmu." Sahut Willy antusias.
"Tapi, Kak Willy kan ada meeting penting dengan orang dari perusahaan yang di Semarang." Lintang mengingatkan suaminya itu..
"Ah iya, aku hampir lupa. Baiklah kalau begitu, aku minta mama yang menemanimu ya."
"Biar aku sendiri saja, sayang."
"Tidak, biarkan mama menemanimu." Willy segera keluar kamar mencari keberadaan ibunya. Ia menghampiri Mama yang tengah menuntun Al di rumput depan rumah mereka.
"Ma, tolong temani Lintang ke rumah sakit ya hari ini." Ujarnya penuh semangat.
"Lintang sakit?" Mama panik. Ia salah tanggap. Willy menggeleng.
"Sepertinya istriku sudah mengandung lagi, Ma." Seru Willy senang. Mama membulatkan matanya, menatap putra semata wayangnya itu berbinar-binar. Ia segera memeluk Willy bahagia.
"Pergilah bekerja, biar mama yang temani Lintang." Ujar Mama dengan semangat yang sudah membara karena bahagia.
Willy kembali lagi menuju Lintang yang masih menunggunya di kamar. Ia meraih Lintang ke dalam pelukan hangatnya. Membisikkan kata-kata indah penuh harapan.
"Nanti jangan menyetir, biar Mang Ujang yang mengantar." Ujarnya lembut sembari merapikan rambut istrinya, menyibakkan anak rambut ke belakang telinga.
__ADS_1
"Kak Willy juga berangkatnya hati-hati ya."
"Iya sayang. Nanti kabari aku setelah tau hasilnya." Sahut Willy.
"Iya sayang." Lintang mengangguk dengan senyum yang sudah terulas.
Willy berangkat menuju perusahaan dengan hati riang. Ia yakin istrinya memang sedang mengandung. Semoga saja harapannya menjadi kenyataan.
...****************...
Lintang dan Miranti kini sudah berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit. Al dititipkan pada pelayan mereka di rumah. Sepanjang perjalanan, Mama menggenggam tangan Lintang. Ia bahagia sekali, sedangkan Lintang, ia juga bahagia tetapi ia masih ragu. Bagaimana kalau nanti hasilnya tak sesuai harapan mereka?
"Kamu pasti memang sedang mengandung, Lin." Ujar Mama berbinar-binar.
"Iya, semoga ya Ma. Lintang udah telah mens satu minggu." Sahut Lintang sama senangnya.
"Positif pasti Lin." Seru Mama heboh. Mang Ujang jadi tersenyum melihat majikannya itu.
Mobil sampai di pelataran parkir rumah sakit. Lintang dan Mama segera menuju lantai atas menggunakan Lift. Jantung Lintang berdebar-debar berharap semoga saja ia benar memang mengandung.
"Apa kabar Nona Lintang? Senang bisa berjumpa Anda lagi." Dokter menyapanya riang. Lintang juga melakukan hal yang sama.
Lintang mulai bercerita tentang keluhan mual dan muntahnya juga keterlambatan haidnya. Dokter tersenyum, ia sudah bisa menebak, nampaknya pasiennya ini memang sudah mengandung lagi.
Lintang mulai berbaring, perawat membantu ia membuka kaus yang ia kenakan sedikit hingga terlihatlah perutnya yang sedikit besar di bagian bawah, tak serata biasanya. Miranti sudah berbinar. Ia yakin Lintang memang sedang hamil lagi.
Selama dokter melakukan pemeriksaan, ia tersenyum. Dokter kembali mempersilahkan Lintang untuk duduk kembali.
"Selamat ya, anda hamil."
Lintang dan Miranti tertegun sesaat kemudian mereka tersadar dan langsung berpelukan. Lintang senang sekali, Miranti lebih senang lagi.
"Menantuku, kau benar hamil. Aku bangga padamu." Ia mencium pipi Lintang bertubi-tubi. Dokter dan perawat tak urung ikut tersenyum juga.
__ADS_1
"Iya Ma. Aku senang sekali. Gak sabar mau kasih kabar bahagia ini ke Kak Willy."
"Kamu Mama antar ke perusahaan saja ya. Biar mama pulang duluan, Mama udah kangen Al soalnya."
Lintang mengangguk, ia setuju ide mama untuk mengantarkan ia menemui Willy langsung di perusahaan.
Miranti mengarahkan mobil, memerintahkan Mang Ujang untuk mengantar Lintang dulu. Dan saat sampai di depan perusahaan, Lintang segera melambai melepas kepulangan Mama. Para security menyapanya hangat sepanjang koridor.
Saat tiba di ruangan, Ia tidak menemukan Willy. Oh, ia ingat suaminya itu sedang meeting jadi ia akan menunggu Willy di sofa seperti biasa.
Setelah hampir satu jam menunggu, pintu ruangan terbuka. Tampak Willy dan Setya masuk. Ia segera menyambut suaminya itu.
"Sayang." Ujar Willy menghampiri istrinya.
"Sayang maaf, hasilnya negatif." Lintang berpura-pura sedih. Willy nampak sedih juga jadinya.
"Negatif gak hamil." Lanjut Lintang lagi. Willy nampak berkerut kening. Lalu detik berikutnya ...
"Positif? benarkah?" Tanyanya dengan mata yang sudah membulat senang. Lintang mengangguk. Willy senang sekali. Ia mengangkat tubuh istrinya, tak peduli pada Setya yang sudah tersenyum melihat mereka berdua.
"Hey, Setya. Lihat aku superdady kan?" Serunya sambil memutar tubuhnya dan Lintang yang sudah tertawa karena tingkah suaminya itu.
Setya mengacungkan jempolnya kepada atasannya itu. Ia juga ikut senang mendengar berita bahagia ini.
"Handle urusan perusahaan ya, aku akan pulang bersama istriku." Ujar nya lagi. Setya mengangguk patuh. Apa yang tidak untun Tuannya itu?
Willy dan Lintang melangkah keluar perusahaan dengan perasaan bahagia. Para karyawan menatap mereka senang. Banyak yang berharap akan seperti mereka. Kehidupan atasan mereka dengan istrinya itu begitu romantis. Willy tak segan-segan menunjukkan kemesraannya di depan semua orang. Seolah ingin memberi tahu betapa bahagianya ia bisa memiliki Lintang.
Mereka tahu kini Willy dan Lintang adalah couple goal namun mereka tak pernah tau cerita dibaliknya dahulu. Bagaimana perjuangan Lintang untuk meraih hati Willy dengan susah payah dan juga diiringi airmata.
Pantas dan wajar kini ia mendapatkan semua kebahagiaan itu. Hasil tak akan mengkhianati usaha. Begitulah. Lintang telah berhasil melewati semua ujian dalam menghadapi Willy yang keras kepala dulunya hingga lelaki itu bertekuk lutut mencintainya dengan sempurna tanpa celah.
"Sehat-sehat ya anakku." Willy mengecup perut Lintang sebelum ia melajukan deru mobilnya. Mereka akan segera pergi ke Mall. Willy ingin membelikan Lintang barang-barang mewah lagi sebagai hadiah untuk istrinya itu.
__ADS_1
Saat tiba di Mall, Willy benar membelikan banyak sekali barang mewah untuk istrinya itu. Beberapa perhiasan juga tak luput. Ia membuat Lintang bahagia sekali. Willy tersenyum, membayangkan betapa akan bahagianya ia beberapa bulan lagi akan lahir lagi anak mereka, buah cinta mereka berdua.