
Usia Alvaro kini telah genap tiga bulan. Lintang juga sudah lepas dari masa nifasnya. Ia sudah bisa melakukan kegiatan seperti biasa. Gerakannya sudah luwes dan cekatan untuk merawat anaknya.
"Uluh-uluh anak bunda ganteng banget sih." Lintang mengajak bayinya berbicara sambil mengganti pempers. Terlihat bayinya menggerak-gerakkan mulutnya dengan lucu.
Miranti datang membawakan Lintang buah-buahan. Ia mengupas jeruk manis lalu memberikannya pada Lintang yang telah membersihkan tangan dengan tisu basah khusus anti bakteri.
Bayi Alvaro digendong oleh Ibu mertua. Lintang menikmati buah yang tadi diantarkan Ibu mertuanya. Ia melihat Miranti sedang menggendong cucunya, sesekali terlihat wanita itu mencium pipi gembul Alvaro dengan gemas.
"Ma, Lintang tadi nyobain celana, udah agak sesak." Keluh Lintang pada Ibu mertuanya.
"Masa sih Lin? tapi mama lihat kamu gak terlalu berisi kok." Ujar Mama sambil menilik tubuh menantunya.
"Tapi banyak baju yang udah agak sempit, Ma." Keluh Lintang lagi. Mertuanya meletakkan Alvaro ke dalam baby box. Bayi gembul itu mulai mengantuk.
"Kenapa gusar? penambahan berat badan itu wajar selama masa hamil dan menyusui." Ujar Mama menenangkan Lintang.
"Tapi, Lintang takut Kak Willy nanti jadi hilang selera."
"Hush, kamu tuh." Miranti merangkul menantunya lagi, ia tersenyum. "Fokuslah dulu pada anakmu, berikan ia yang terbaik selama menyusui, kalau sudah tidak menyusui lagi, kamu bisa mengembalikan bentuk tubuhmu seperti dulu." Kata Mama lagi. Lintang akhirnya tersenyum juga mendengarnya.
Saat Willy telah pulang dari bekerja, suaminya itu langsung menghampirinya lalu mencium kening Lintang. Tidak lupa ia juga pergi melihat anaknya yang sedang tertidur pulas.
"Ayo, mandi bersamaku." Willy membisikkan kata-kata hangat penuh arti itu pada istrinya. Lintang mengangguk, ia tidak mungkin bisa menolak keinginan suaminya.
Di kamar mandi, Lintang telaten sekali membersihkan tubuh suaminya. Sesekali ia menerima kecupan dari bibir Willy. Namun saat Willy hendak merengkuh pinggangnya, Lintang refleks menghindar. Willy menatapnya sambil mengerutkan dahi. Terlebih saat Willy turun hendak mengecup perut istrinya itu, Lintang kembali menghindar. Ia lebih terkejut saat Lintang memutuskan untuk menyudahi acara mandi nya tanpa menunggu Willy.
Willy jadi heran. Ia mencoba mengingat-ingat kalau-kalau sempat melakukan kesalahan tanpa ia sadari terhadap istrinya itu. Saat keluar dari kamar mandi, Willy melihat Lintang sudah berganti pakaian. Ia memakai dress rumahan berwarna cokelat kontras dengan kulit putih mulusnya.
Willy yang masih bertelanjang dada dan memakai handuk di pinggangnya mendekati Lintang. Nampak istrinya itu tersenyum padanya, membuat Willy jadi semakin bingung saja. Willy kembali mendekat, membantu Lintang menyisir rambut harumnya yang panjang. Lintang diam saja, membiarkan suaminya.
__ADS_1
"Sayang, apa ada yang mengganjal di hatimu?"
"Tidak, Kak."
"Sayang, apa aku membuat kesalahan tanpa ku sadari?"
"Tidak." Lirih Lintang.
"Tapi, kau berbeda hari ini. Kau menghindari ku." Ujar Willy lagi. Lintang menunduk dalam. Willy semakin bingung dengan istrinya itu.
"Kak, aku akan turun membantu menyiapkan makan malam. Kakak istirahat la dulu." Lintang mengelak lalu turun dari kamar menuju dapur.
Willy semakin tidak paham. Apa yang telah terjadi pada istrinya itu. Mengapa ia jadi berubah, seperti kehilangan rasa percaya dirinya. Willy harus mencari tahu, ia tidak ingin Lintang terus-terusan menghindarinya seperti ini. Meski halus sekali bahkan nyaris tanpa ia sadari, ia tahu Lintang sedang menyimpan kegelisahannya sendiri.
Saat turun dan bergabung di meja makan, Willy melihat Lintang sedang menunggunya. Di sana juga telah menunggu kedua orangtuanya. Lintang menatap Willy sesaat kemudian menyendokkan makanan untuk suaminya itu. Willy mulai makan dengan perlahan, namun ia tetap memperhatikan istrinya.
"Will, nanti ajaklah istrimu keluar, Al biar mama yang menjaga. Al juga sudah tidak mau menyusui langsung sekarang dia lebih suka minum dari botol. Kalian bisa leluasa meninggalkannya bersama Mama." Ujar Mama memecah keheningan.
"Ia Ma, Memang rencananya Aku mau ajak Lintang ke apartement sebentar nanti. Ada barang yang tertinggal di sana." Sahut Willy pada Mamanya. Miranti mengangguk.
Lintang hanya menunduk saja, ia jadi kehilangan selera makannya. Willy memperhatikan istrinya itu dengan seksama. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Ia butuh penjelasan.
...****************...
Willy masih menatap Lintang penuh tanda tanya. Di dalam mobil, Lintang jadi sedikit sekali bicara. Istrinya tampak cantik dengan dress selutut bermotif bunga-bunga. Willy jadi rindu. Namun, Istrinya entah mengapa jadi begitu. Diam membisu.
Saat sampai di apartement, Willy tidak langsung mencari barang yang akan ia bawa pulang, melainkan ia mengajak istrinya bicara. Lintang tidak bisa menolak saat Willy memintanya duduk di pangkuannya.
"Lin, ada apa denganmu?"
__ADS_1
"Tidak ada apa pun, Kak." Lintang tersenyum kaku..
"Sayang, aku berbuat salahkah?" Tanya Willy lagi. Ia mulai mengendus leher istrinya.
"Tidak, Kak."
"Kenapa jawabanmu hanya tidak? padahal aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu."
"Aku.. eeh aku.." Lintang menghentikan kalimatnya.
"Katakan Lin, aku tidak mau ada yang kau tutup-tutupi."
"Kak Willy, apa ada banyak perempuan yang menggoda mu diluar sana?" Tanya Lintang sambil menunduk.
"Tidak sayang, kalaupun ada aku tidak akan tergoda." Sahut Willy sambil menatap mata sendu istrinya.
"Aku takut sekali. Aku sekarang jadi lebih berisi. Aku takut kau bosan." Lintang menunduk semakin dalam.
Willy menarik nafas panjang. Akhirnya ia tahu apa yang membuat istrinya berbeda. Istrinya sedang krisis percaya diri karena terjadi sedikit perubahan pada bentuk tubuhnya.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Kau mengorbankan segalanya. Demi anak kita kau hampir kehilangan nyawamu. Kini kau pun mengalami perubahan bentuk fisikmu demi anak kita pula, jadi apakah mungkin aku tega bermain api di belakangmu?" Keluh Willy, membuat Lintang jadi merasa bersalah padanya.
"Maafkan aku, Kak. Aku hanya takut kau berpaling karena aku tidak seperti dulu lagi. Coba rasakan ini." Lintang meraih jemari Willy lalu meletakkannya di pinggangnya yang memang terasa lebih padat dari sebelumnya. "Ia tidak seramping dulu." Lintang hampir menangis.
"Sayang, aku tidak peduli. Aku mencintai semua yang ada padamu. Dulu atau sekarang tidak ada yang akan merubah perasaanku. Lagi pula kau tampak lebih cantik dan seksi jika berisi begini." Willy mengecup bibir istrinya.
Lintang menatap Willy sesaat lalu memeluk erat suaminya itu. Ia mencium kening Willy lembut dan mengucapkan terima kasih berulang kali atas kesetiaan suaminya dalam segala kondisi dirinya.
"Jangan seperti ini lagi ya. Aku khawatir aku takut kau jauh dariku." Ujar Willy sedih. Lintang mengangguk, ia yakin Willy memang benar-benar mencintainya meski ia sedang tidak cantik sekalipun.
__ADS_1
"Ayo ke sana. Aku rindu mendengar suaramu diatas ranjang kita." Willy mengangkat tubuh istrinya menuju ranjang yang telah lama tak mereka tiduri.