
Malam sudah sangat larut saat itu, suasana gelap di luar sana menandakan hujan akan segera turun. Suara guntur juga kilat menggelegar, sinarnya menyambar memberikan siluet mengerikan dari kaca jendela yang lupa ditutup dengan tirai. Dingin menusuk, terasa membuat bulu kuduk merinding. Di ranjang yang tidak seberapa besar itu Lintang dan Willy telah tertidur.
Samar-samar terdengar suara merintih juga sesegukan. Willy terbangun dari tidurnya. Ia menoleh, melihat Lintang yang sedang menangis namun matanya terpejam. Gadis itu sedang bermimpi juga mengigau.
"Ibu.. " Begitu igauannya terdengar. Willy melihatnya, ia ragu ingin membangunkan atau membiarkan saja Lintang yang masih mengigau sesegukan. Dilihat nya Lintang mulai tersengal, ia kelihatan susah bernafas. Willy mendekat, Ia meraih gadis itu ke dalam pelukannya.
Sesaat masih terdengar igauan dari bibir Lintang yang meracau, namun, setelah itu Lintang kembali bernafas dengan teratur, sesegukannya juga mulai mereda. Willy memeluk gadis yang sedang gemetar itu cukup lama. Sampai akhirnya mata Lintang perlahan terbuka. Ia mendongak, menatap Willy yang masih memeluknya. Willy pun melihatnya, keduanya sama-sama terdiam, terbius cukup lama. Sampai akhirnya, Willy melepaskan pelukan itu perlahan.
"Tidurlah, kau mengigau tadi." Ujar Willy, kemudian ia kembali berbaring dan memejamkan mata mencoba mencari lagi kantuk matanya.
Lintang meraba kancing bajunya, aman. Willy tidak melakukan apapun padanya tadi selain hanya memeluknya yang sedang mengigau dan meracau. Lintang ingat sedikit dari mimpinya barusan, bahwa di dalam mimpi Lintang bertemu Ibu. Mungkin karena rindunya, jadilah ia bermimpi tentang ibu malam ini. Ya benar, Lintang memang merindukan ibunya yang telah pergi jauh meninggalkannya. Lintang akhirnya kembali berbaring, Ia mulai memejamkan mata. Namun, matanya kembali terbuka saat ia merasakan sesuatu berada di atas perutnya, melingkar merengkuh pinggang rampingnya. Willy kembali memeluk Lintang lagi, sama seperti malam sebelumnya. Lelaki itu memeluknya dari belakang.
Lintang akhirnya kembali memejamkan mata setelah mendapatkan kantuknya. Malam ini terakhir mereka berada di rumah mungil, di dalam kamarnya yang tidak seberapa luas. Besok sore mereka akan kembali ke apartemen. Lintang tertidur juga akhirnya, setelah menekan dalam perasaan yang bercampur menjadi satu dalam hatinya.
...****************...
"Kak, mau makan di sini atau di rumah Mama?" Tanya Lintang ketika ia dan Willy telah bangun pagi itu.
__ADS_1
"Di sini saja, masak saja nasi goreng." Jawab Willy. Ia bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Hari ini minggu, ia tidak ke perusahaan karena libur. Mungkin ia akan banyak menghabiskan waktu di rumah sampai sore nanti menjelang.
Lintang mulai berkutat dengan peralatan dapurnya. Ia mulai mengiris sosis, memotong beberapa sayur dan juga menyiapkan telur untuk membuat nasi goreng. Lintang juga menyiapkan susu dengan madu, minuman wajib yang harus ada di meja makan untuk suaminya. Lintang mulai memasak, bau masakannya tercium enak dan menggugah selera.
Willy keluar dari kamar mandi, ia mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih setengah basah. Tampak tampan di mata Lintang. Lintang segera mengalihkan tatapan kagumnya saat Willy juga tiba-tiba bersitatap dengannya. Lelaki itu tersenyum kecil, ia mendekati Lintang dan berdiri di belakang gadis itu dengan masih bertelanjang dada. Lintang berusaha menyingkir sehalus mungkin.
"Hmmm.. Kakak makan saja dulu, aku mandi sebentar." Ujar nya gugup membuat Willy kembali merapatkan tubuhnya.
"Cepatlah, aku tidak mau makan sendirian." Sahut Willy tepat di belakang telinga Lintang. Nafasnya hangat, membuat bulu tubuhnya meremang.
"Iya Kak." Lintang menyingkir perlahan lalu menghilang dari balik pintu kamar mandi. Lintang juga mengunci pintu, agar Willy tidak tiba-tiba masuk seperti kemarin. Jujur saja itu membuatnya jadi serba salah. Willy telah mengaduk-aduk perasaannya.
Lintang mulai menyendok kan nasi goreng buatannya untuk suaminya itu. Lalu, ia juga menuangkan ke piringnya sendiri. Mereka larut lagi dalam keheningan. Hanya terdengar denting garpu dan sendok yang saling beradu perlahan.
"Ikut aku ke kamarku setelah ini. Ada beberapa barang yang ingin aku ambil. Kau juga harus membersihkannya nanti." Ujar Willy memecah keheningan. Lintang seperti biasa, akan mengangguk dan setuju pada apapun perintah suaminya. Mereka meneruskan makan hingga selesai.
...****************...
__ADS_1
Lintang mengikuti Willy dari belakang menuju kamar yang sudah cukup lama tidak di gunakan pemiliknya semenjak mereka telah pindah ke apartement. Willy membuka pintu, masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Willy membuka laci meja yang ada di dalam sana, ia mengambil beberapa berkas penting yang tidak sengaja tertinggal saat mereka pindah kemarin. Lintang sendiri memilih untuk membersihkan ranjang yang sebenarnya tidak kotor sama sekali. Ia hanya perlu membenarkan posisi bantal juga selimut yang tidak terlalu rapi.
Melihat ranjang itu, Lintang jadi terkenang saat dulu diminta Willy membersihkan kamarnya. Ketika itu mereka belum menikah, namun Willy telah banyak melakukan penindasan juga pelecehan padanya. Dan kamar ini juga pernah menjadi saksi saat Willy menindihnya dengan kasar meski ia tidak melakukan apapun setelah itu. Lintang terhenyak saat Willy telah berdiri di belakangnya. Kemudian lelaki itu bergerak, ia duduk di sisi ranjang. Willy menatap Lintang intens, membuat Lintang salah tingkah.
"Hmmm Kak.. aku turun saja ya." Ujarnya kikuk. Situasi seperti ini nyatanya lebih sulit ia lewati dibanding dulu ketika Willy lebih sering menindasnya dengan cepat kemudian pergi begitu saja.
"Aku tidak menyuruhmu pergi." Willy menarik tangan istrinya, membuatnya kembali berbalik. "Duduk disini." Perintahnya sambil menunjuk kedua pahanya yang sedikit terbuka. Lintang semakin tak karuan. Mau lari percuma saja. Menolak tentu bukan pilihan terbaik. Lagipula, saat ini Willy tidak memberinya pilihan bukan?
Lintang kesulitan duduk di atas pangkuan suaminya itu, apalagi dengan roknya yang cukup panjang. Akhirnya ia menarik roknya sedikit ke atas, lalu duduk dengan kaku di atas pangkuan suaminya. Ia terpaksa melingkari tangannya ke leher Willy.
"Lin.. " Panggil Willy pelan. Tidak seperti biasanya. Tidak ada nada kasar dan dingin.
"Iya Kak.." Serak suara Lintang menjawabnya.
"Kenapa kau hadir dalam hidupku?" Tanya Willy, ia menatap Lintang, jemarinya terulur merapikan rambut istrinya yang panjang, menyibaknya ke belakang telinga.
"Maafkan Lintang, Kak." Hanya itu yang mampu Lintang berikan sebagai jawaban. Willy tentunya tahu Lintang pun melakukan ini karena janjinya pada Kakek. Tapi, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Lintang telah membiarkan bunga-bunga cinta bermekaran, meski sebelumnya telah sekuat tenaga ia tekan. Lintang tahu resikonya mencintai laki-laki ini. Bahwa yang akan terluka paling dalam nanti adalah dirinya. Namun, Lintang tidak bisa apa-apa selain membiarkan hatinya terus cidera dan cidera.
__ADS_1
Willy tidak mengatakan apapun lagi, ia mulai menciumi istrinya itu dengan kebimbangan yang kini menjalar di seluruh otaknya mengenai Lintang. Ia mulai kalah oleh perasaannya sendiri. Willy merengkuh pinggang istrinya, membiarkan tangannya melingkar disana, kemudian ia mulai menelusuri semua yang ada di tubuh itu. Willy memulainya lagi, pergumulan penuh perasaan aneh diantara mereka berdua sebelum kembali ke apartemen sore nanti.