Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
25. Bertemu Zacky


__ADS_3

Lintang dan Ibu mertuanya pergi ke rumah Tante Monik dengan di antar sopir mereka. Lintang baru sekali ini pergi ke sana. Rumah keluarga Tante Monik tidak kalah besar dan megah. Rumah itu juga memiliki beberapa pelayan namun tidak sebanyak di rumah induk yang di tempati Miranti sekeluarga. Saat mereka datang mereka tampak melihat suasana yang ramai di sana, bukan karena banyaknya orang tapi karena dua kakak beradik yang sedang bergurau dan tertawa hingga membuat suara yang cukup gaduh.


"Eh, Tante kapan datang. Aduh maaf ya Tan, jadi berantakan gini." Ujar Zacky saat ia menyadari kedatangan Tante dan Lintang. Ia segera membereskan tumpukan majalah yang sudah berantakan dan berserakan serta memungut beberapa kulit kacang yang bertebaran di mana-mana. Ibunya, Monik yang sedang turun dari tangga hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua anaknya. Pemandangan yang hampir setiap hari ia lihat dari mereka.


"Aduh Mbak yu, Ini anak dua memang begini. Setiap hari kerjaannya pasti bikin gaduh." Monik merangkul kakak iparnya lalu mengajak mereka untuk bersantai di taman. Ia juga meminta pelayan untuk membawakan makanan camilan juga minuman dingin untuk mereka bertiga.


"Gak papa, dik. Mbak senang sekali setiap berkunjung ke sini. Lihat Zacky sama Audy akur dan suka bercanda. Kalau di rumah Mbak, kamu lihat sendiri cuma suara celotehan pelayan." Sahut Miranti sambil tertawa.


"Sebentar lagi juga rame lagi Mbak, Lintang sama Willy harus kasih cucu secepatnya. Iya gak Lin?" Tante Monik menoleh pada Lintang. Lintang hanya mengangguk pelan, tidak yakin dengan jawabannya sendiri.


"Tante, Lintang permisi ke kamar mandi ya." Ujar Lintang disela Obrolan mereka.


Saat Lintang telah keluar dari kamar mandi. Ia bertemu dengan Zacky yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Ia kembali melajukan kaki, namun segera menghentikan langkah saat terdengar suara Zacky memanggilnya.


"Lin, sini aja." Zacky melambai ke arah Lintang. Gadis itu tersenyum lalu berjalan mendekat.


"Audy mana Kak?" Tanya Lintang saat ia telah duduk di samping Zacky.

__ADS_1


"Udah naik tadi, biasa deh Lin. Kalo udah jam segini, itu anak emang lebih suka di kamar. Palingan chatting gak jelas sama teman-temannya." Sahut Zacky sambil tertawa kecil. "Oh iya, selamat ya atas pernikahan lo sama Willy." Sambungnya lagi.


"Makasih ya Kak." Lintang menimpalinya lirih.


"Lin, lo bahagia?" Tanya Zacky. Kali ini ia memalingkan wajahnya menghadap Lintang.


"Iya kak." Singkat. Tapi tidak menjelaskan hal yang sebenarnya. Zacky tahu itu. Ia menarik nafas panjang.


"Lin, gue harap lo bahagia ya. Lo gak boleh sedih." Ujar Zacky tulus. Ia melihat Lintang yang kini semakin cantik setelah menikah. Entah mengapa aura gadis itu bertambah berkali-kali lipat saat ia telah menyandang status sebagai seorang istri.


"Bahagia gue udah di ambil orang lain, Lin. Gua gak tahu, apa nanti gue bisa ketemu perempuan sebaik dia lagi." Ujar Zacky pelan, Ia nampak menerawang. Lintang tidak tahu siapa yang lelaki itu bicarakan tetapi ia tetap menyemangati lelaki itu untuk mencari cinta sejatinya.


"Kak, aku lihat ada studio musik di belakang." Ujar Lintang.


"Oh itu, studio gue kok. Lo mau lihat?" Tanya Zacky. Lintang mengangguk cepat. Zacky gemas sekali melihatnya.


Keduanya kemudian memutuskan untuk ke studio musik milik Zacky. Namun, saat Lintang hendak berdiri ia limbung dan dengan cepat Zacky segera menyambut tubuh gadis itu agar tidak jatuh. Cukup lama mereka saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya Zacky tersadar dan segera mengembalikan posisi ke semula.

__ADS_1


"Maaf Kak, aku gak hati-hati tadi." Ujar Lintang dengan wajah yang sudah bersemu merah. Zacky sendiri hanya mengangguk. Ia tidak bisa menenangkan detak jantungnya sendiri saat ini. Ia merasakan jantungnya berdebar keras saat mereka saling menatap. Zacky tidak tahu apa namanya, tapi perasaan ini aneh. Ia belum pernah merasakannya ketika berdekatan dengan perempuan lain.


Mereka meneruskan langkah menuju studio musik di belakang. Ada sebuah piano di sana diantara alat musik lainnya. Zacky duduk di depan piano itu dan mengajak Lintang juga duduk bersamanya. Lintang memandang ruangan itu penuh kekaguman. Ia juga tidak menyangka, Zacky memiliki kecintaan pada seni musik. Lelaki tampan itu memiliki banyak kegiatan memang, selain memimpin sebuah cabang perusahaan milik Kakek, ia juga sering menemani adiknya kemana pun, juga sederet kegiatan lainnya termasuk bermusik.


"Mau dengerin gue main?" Tanya Zacky. Lintang mengangguk cepat, ia antusias sekali. Zacky tersenyum lalu mulai menekan tuts piano. Alunan merdu Fur Elis mulai mengalun merdu. Lintang merasa damai sekali mendengarnya. Ia memandang Zacky yang sedang serius dengan permainannya.


Zacky juga sesekali menoleh pada Lintang yang sedang serius mendengarnya bermain piano. Ia tersenyum lembut menatap Lintang. Zacky mengagumi semua yang ada pada diri gadis itu. Kecantikannya yang alami tanpa make up tebal, rambut hitam panjangnya yang lurus jatuh terjuntai, juga bibir mungilnya yang ranum merah muda. Semuanya, semua yang ada pada Lintang tidak akan pernah membuat Zacky bosan memandangnya.


Setelah selesai dengan Fur Elise, Alunan merdu dari permainan piano itu kembali terdengar. Kali ini Zacky membawakan Lagu My Heart Will Go On dalam permainan pianonya. Lintang hanyut dalam suasana indah dan romantis yang tercipta tanpa sengaja. Ia memejamkan mata mencoba menghayati alunan melodi yang masih terdengar indah di telinganya.


Zacky masih saja terus bermain dengan sesekali menoleh, menatap Lintang. Ia menatap Lintang hangat dan penuh perhatian. Hatinya berdebar mengikuti alunan merdu dari permainannya sendiri. Suara jantungnya seolah mampu ia dengar meski suara piano jauh lebih mendominasi.


Permainannya kemudian selesai. Zacky memandang Lintang yang terpejam dan tiba-tiba saja ia mencium pipi gadis itu lembut. Entah dorongan apa yang membuatnya melakukan itu. Lintang membuka matanya, menatap Zacky tanpa bersuara. Ia benar-benar bisa melihat ketulusan yang begitu nyata dari lelaki itu. Keduanya terdiam, tidak ada yang berani untuk berbicara. Keheningan kini terasa begitu nyata. Zacky tidak mampu untuk membuka mulutnya, lidahnya keluh. Ia menyadari ada yang salah dengan hatinya.


Tidak! ia tidak boleh mencintai perempuan ini. Ia tidak boleh menyayangi perempuan yang sudah dimiliki oleh lelaki lain yang telah mengikatnya dalam pernikahan. Terlebih perempuan itu adalah istri dari sepupunya sendiri. Meski ia tahu, tidak ada cinta yang mendasari terciptanya pernikahan itu namun, tetap saja rasanya tidak pantas jika ia tetap meneruskan perasaanya pada Lintang.


Lintang juga tidak mampu mengatakan apapun. Lintang sudah kehilangan banyak hal. Termasuk harga dirinya sendiri karena telah direnggut paksa oleh lelaki yang tidak mencintainya namun mengikatnya dalam pernikahan. Lintang juga membiarkan saja ketika Zacky merengkuhnya dalam pelukan hangat dan menenangkan. Ia tidak kuasa menentang takdir. Juga tidak kuasa membela haknya sendiri. Sudahlah, Lintang tetap lah seorang pembantu yang harus mengabdi pada majikan yang kini menjadi suaminya. Apapun yang terjadi, ia tetap harus menjalani takdirnya.

__ADS_1


__ADS_2