Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Al Sayang Adik-Adik


__ADS_3

"Nda.." Lintang menoleh, mendapati Al dengan langkah setengah berlari menuju ke arahnya dan kembar yang sedang berbaring di atas karpet bulu tebal di ruang keluarga.


Lintang menyambut anaknya itu dengan tangan terbuka siap memeluk. Al masuk ke dalam pelukan bundanya yang hangat. Ia mencium pipi Lintang. Usia Al kini sudah dua tahun lebih. Kembar sudah empat bulan.


"Mau main kila sama kira." Ujar Al sambil menunjuk kedua kembar yang sedang tengkurap.


"Iya, duduk sini bareng bunda ya." Lintang melihat Al yang langsung mengambil posisi di depan adik-adiknya itu.


"Kila sama Kira gak boleh nakal." Al membisik kedua adik kembarnya.


"Kila sama kira gak nakal kok, Kak." Lintang menjawab dengan gaya lucu. Al mengangkat wajahnya, lalu beranjak dan membisikan sesuatu di telinga Lintang.


"Kila sama Kira nangis malem." Bisik Al dengan wajah serius.


"Terus?" Lintang mendekatkan lagi telinga agar Al bisa berbisik.


"Nda jadi gak bobo." Bisik Al lagi.


Lintang tersenyum mendengar kata-kata Al barusan. Anak pertamanya itu sudah semakin cerdas saja.


"Gak papa kok, Adik kalau nangis malem, lagi laper. Mau mimik." Lintang menjawil hidung mancung putra nya itu. Al tampak mengangguk paham.


Ia kembali ke depan Kembar lalu mencium pipi keduanya bergantian. Sejuk sekali rasa hati Lintang saat melihat hal itu.


"Al sayang adik-adik?" Tanya Lintang. Al mengangkat kepalanya lagi dengan gerakan lucu.


"Iya." Sahutnya sambil tertawa. Lintang ikut tersenyum.


"Lagi ngomongin apa sih ini? serius banget kayaknya." Mama datang dari belakang. Ditangannya ada piring berisi puding. Ia mulai menyuapi Al.


"Al lagi pengen main sama kembar, Ma." Ujar Lintang sambil tertawa.


Mama menyuapi Al yang nampak lahap. Puding itu hampir habis. Willy belum pulang, ada meeting penting di perusahaan. Nampaknya ia akan sedikit terlambat.


"Restoran ditangani dengan baik oleh Nora, kamu serahkan saja sama dia dulu ya Lin. Sementara fokus saja pada anak-anakmu, nanti kalau kembar sudah mau satu tahun, kamu bisa deh balik lagi kuliah sama ngurusin restoran. Nanti mama akan mencari pengasuh yang tinggal di rumah ini untuk membantumu." Ujar mama lembut, Lintang mengangguk. Ia akan selalu setuju pada apa saja yang akan menjadi rencana mertuanya itu.

__ADS_1


"Iya ma, Lintang juga tinggal beberapa semester lagi kok."


Mama tersenyum. Ia mulai sibuk mengajak kembar berbicara. Al juga ikut-ikutan. Lintang membuka ponsel, ada pesan dari suaminya.


Bun, mau titip apa ntar ayah beliin kalo udah pulang.


Lintang segera membalas pesan itu.


Beliin pizza aja Yah, bunda pengen


Iya, Bun. Ntar ayah bawain ya.


Lintang menutup pesan itu dengan emoticon love untuk suaminya.


...****************...


"Enak Bun?" Tanya Willy saat melihat Lintang begitu lahap memakan pizza yang ia bawa.


"Iya Yah, enak. Mau Yah?" Lintang menyodorkan setengah potongan pizza bekas gigitannya kepada Willy.


"Besok ke apartement yuk bun. Udah lama kita gak ke sana."


"Gak usah sayang, Aku udah bilang kok tadi. Mama bilang oke." Willy mengerling nakal.


Mama memang ibu juga mertua yang sangat mengerti perasaan anaknya. Ia tahu, Willy juga butuh waktu hanya berdua dengan Lintang. Dan Mama tidak pernah keberatan melepaskan mereka untuk merajut asmara untuk waktu yang lama dengan kembar dan Al bersamanya. Lagi pula, papa dan mama memang tidak bisa jauh dari cucu-cucu kesayangannya.


"Ma, aku mau ke apartement ya besok sama Lintang." Kata Willy waktu itu. Mama menatapnya dengan senyum menggoda.


"Udah gak tahan ya." Goda Mama dengan wajah dibuat lucu.


Willy menggaruk kepalanya. Tapi kemudian ia mengangguk malu.


"Udah, pergi aja. Kamu sama Lintang pacaran aja. Kembar sama Al ada Mama, papa dan mbok."


Willy sumringah sekali, ia segera memeluk mama dengan ucapan terima kasih berulang kali.

__ADS_1


"Senang banget ya kamu." Goda mama untuk kesekian kalinya.


"Iya dong Ma, udah lama gak nyoblos." Sahut Willy asal yang segera dibalas lemparan bantal ke wajah putranya itu.


Willy menatap Lintang, ia mengagumi Lintang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tubuh Lintang kini mulai kembali ke bentuknya semula. Lintang rajin minum-minum tradisional yang berguna untuk melancarkan metabolismenya. Di samping itu ia juga rajin olahraga. Tubuhnya mulai ramping lagi.


Kembar juga sekarang tidak mau lagi menerima asi nya. Entah mengapa mereka lebih suka minum susu formula.


"Kau pandai merawat tubuhmu." Willy mencium rambut istirnya yang wangi itu ketika keesokan hari mereka telah berada di dalam apartement.


"Kalau rumah tangga bahagia, istri juga akan senantiasa ingin berusaha menyenangkan suaminya. Aku begini untukmu, sayang. Agar kau tidak nakal di luar sana." Lintang menjawil hidung suaminya itu gemas.


Willy mengecup bibir Lintang lembut. Mereka memulai percintaan panjang di atas sofa lalu beranjak menuju ranjang luas di dalam kamar.


"Kau masih senikmat dulu." Ujar Willy setelah mereka melakukan pelepasan.


Lintang memeluk Willy dalam pembaringan mereka, jemarinya memainkan dada Willy lembut.


"Al sangat baik memperlakukan kembar, ia sangat sayang pada Shakila dan Shakira." Ujar Lintang sambil tersenyum, teringat saat Al mengajak kembar bermain di ruang keluarga kemarin.


"Ya, kita harus terus membimbingnya agar ia tumbuh menjadi anak yang penyayang juga melindungi keluarga." Sahut Willy dengan tangan yang masih merengkuh tubuh Lintang.


"Sayang, aku mau mandi. Kau mau ikut?" Lintang menawarkan Willy yang tentu saja tidak akan mau menolaknya.


"Ayo." Ia mengikuti langkah istrinya, masuk ke dalam kamar mandi lalu mulai kembali membawa Lintang ke dalam kemesraan.


"Sini bun." Willy menarik Lintang duduk diatas kakinya yang selonjoran di lantai kamar mandi.


Lintang melingkarkan tangan di leher suaminya itu. Berapa kali pun harus mengulang ini, Lintang tidak akan pernah menolaknya.


Seumur hidupnya Lintang hanya mencintai satu orang lelaki saja. Bahkan Tuhan nyatanya tidak pernah membiarkan ia merajut kemesraan dengan orang lain dulu sebelum menikah dengan Willy.


"Kak Willy, aku bersyukur sekali Tuhan langsung memberi mu untuk ku tanpa aku sempat menjalin hubungan dengan pria lain dahulu." Willy bergetar mendengarnya, sudah lama Lintang tidak memanggilnya begitu. Bayangan awal pertemuan mereka dahulu berlarian dalam ingatan.


"Lintang, yang beruntung itu adalah aku." Balas Willy menahan gemuruh di hatinya. Kakek Franky lah yang telah mempertemukan mereka. Ia sangat bersyukur karenanya.

__ADS_1


Walau telah sering memadu kasih, merajut penyatuan indah, melalui hari bertatap muka, namun Willy tetap saja selalu bisa merasakan getaran dahsyat saat berada dekat istrinya ini.


Tidak ada yang lebih indah dari pada dua insan yang saling mencintai dalam keadaan apapun, menerima masa lalu dengan ikhlas meski sempat menyakitkan. Dewasa lah dalam setiap pilihan yang telah kau ambil. Terima, jalani dan syukuri. Bahagia pasti datang mengiringi.


__ADS_2