
Pagi menggeliat, menyapa hangat. Sinarnya menerobos masuk lewat celah tirai yang sedikit tersibak. Willy duduk di sofa kamar hotel, ia telah rapi. Sedari tadi asap rokok yang ia hembuskan menemaninya pagi ini. Sarapan yang tadi diantar oleh pelayan hotel masih utuh, sama sekali belum tersentuh. Willy memandang Lintang yang masih tergeletak di atas lantai, matanya masih terpejam. Willy sadar apa yang ia lakukan semalam. Entah mengapa hasrat dan kebenciannya berbaur menjadi satu. Ia juga sadar telah merenggut sesuatu yang paling berharga milik gadis yang masih tertidur itu.
Perlahan, mata itu terbuka. Lintang merasakan remuk di seluruh persendian tubuhnya. Ia segera tersadar ketika matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan Willy yang masih melihatnya dengan sorot yang sama : benci.
"Bersihkan tubuhmu, aku menunggumu di mobil. Cepat, jangan lama." Ujar Willy dengan perintah yang tegas, setelah itu ia berdiri lalu berjalan dan meraih gagang pintu, meninggalkan Lintang dengan luka hati yang sudah benar-benar terkoyak panjang.
Lintang bangun dari posisinya, ia memaksa menyeret tubuhnya ke kamar mandi. Dihidupkannya shower yang langsung mengguyur tubuh polosnya. Lintang menggosok kuat semua bagian tubuhnya. Ia berusaha menghilangkan semua jejak penindasan yang dilakukan suaminya semalam. Lintang menangis sesegukan di bawah guyuran air.
...****************...
Lintang telah berada di dalam mobil, Willy sedari tadi menunggunya. Lelaki itu memalingkan muka, melihat betapa hancurnya Lintang saat ini. Ia tertawa kecil, melihat betapa Lintang menderita saat ini.
"Ceritakan yang baik-baik saja pada keluarga besar ku. Ingat, jangan membuat mereka curiga sedikit pun." Ujar Willy sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Tuan, apakah anda akan melakukannya setiap malam kepadaku? bisakah aku meminta Tuan tidak lagi melakukannya." Sahut Lintang lirih, ia tidak menggubris perkataan Willy barusan, karena tanpa diperintahkan pun, ia memang tidak berniat menceritakan penderitaannya pada keluarga besar.
"Kau tidak memiliki hak untuk bertanya seperti itu. Aku yang membeli mu. Itulah hargamu. Aku mencincang tubuhmu pun itu sudah menjadi hak ku." Jawab Willy tajam. Lintang menunduk dalam, ia tidak ingin lagi menanyakan apapun. Percuma bukan, tidak akan ada orang yang bisa menolongnya.
Lintang larut dalam lamunan panjang selama dalam perjalanan. Pagi ini, mereka akan kembali ke rumah induk setelah nanti mereka akan pindah ke apartemen willy. Tadinya, Mama Miranti tidak setuju mereka harus tinggal di apartemen, namun dengan alasan yang dibuat Willy, ia tentu saja akhirnya bisa menerima alasan itu.
__ADS_1
"Tuan, bolehkah nanti dalam satu kali setiap minggu aku pulang ke rumah mungilku. Hanya itu Tuan, aku hanya menginginkan itu." Lintang bersuara lagi. Ia sudah hampir menangis kembali.
Willy tidak menjawab untuk sesaat, tapi kemudian ia mengangguk. Willy tahu rumah itu Kakek yang membuatkan untuk Lintang.
"Hanya setiap sabtu. Kalau lebih dari hari itu, kau akan rasakan akibatnya." Ujar Willy dengan santai namun penuh ancaman.
"Terima kasih Tuan." Lintang mengucapkan dengan terbata-bata. Entah mengapa, nyeri di hatinya terasa begitu perih.
Suasana kembali hening saat mereka telah memasuki rumah mewah itu. Di luar rumah telah menunggu ayah dan ibu Willy. Miranti menyambut keduanya hangat dan sangat antusias. Willy memilih untuk langsung masuk ke kamarnya. Ia malas menanggapi ibunya yang begitu antusias untuk mendengarkan cerita omong kosong tentang pernikahan ini.
"Lin, Willy bersikap baik kan sama kamu?" Tanya Miranti penuh selidik. Lintang segera mengangguk. Wajahnya dibuat seceria mungkin.
"Kak Willy baik kok, Ma." Lintang mengatakan itu seolah ia sedang mengatakan hal yang sebenarnya.
Lintang tiba-tiba terhuyung, badannya lemas seketika. Pandangannya berkunang-kunang, Ia jatuh lunglai merosot ke lantai. Mertuanya panik, ia berteriak memanggil siapa saja. Lintang di gotong oleh beberapa pelayan menuju sofa lalu membaringkan tubuh lemas nya di sana. Lintang tidak pingsan, ia hanya merasa kehilangan tenaga akibat beban pikir yang sedang menguasai otak yang berakibat lemah ke tubuhnya sendiri.
Miranti menghampiri kamar Willy, ia mengetuknya sedikit keras.
"Kenapa Ma?" Tanya putranya malas, rambutnya sedikit terlihat berantakan.
__ADS_1
"Kenapa apanya? kamu gak dengar ribut-ribut di bawah tadi. Istrimu loh Will, mau pingsan." Sahut Miranti sedikit kesal melihat reaksi anaknya itu.
"Oh, kasih minyak angin aja ma. Nanti sehat lagi." Balas Willy masih dengan sikapnya yang tidak antusias
"Kamu itu Will. Istri lagi sakit kok bisa-bisanya santai begini. Cepat bawa ke rumah sakit!" Perintah ibunya sambil berkacak pinggang. Willy mengerang pelan, bersiap menolak. Namun, mamanya sudah mendelik yang berarti ia tidak mau mendengar bantahan. Willy menghela nafas berat.
"Iya, aku antar ke rumah sakit sekarang." Ujarnya mengalah. Willy memang sangat menyayangi ibunya itu jadi ia tidak pernah sekali pun membantah semua perkataan ibunya.
Maka dengan langkah yang berat di gendongnya tubuh Lintang menuju mobil, Ia juga menyandarkan tubuh istrinya itu ke tubuhnya. Mereka duduk di kursi belakang, sementara pak Tejo fokus menyetir. Lintang memang teramat lemas, Ia sebenarnya hanya lelah di pikiran tapi ternyata berimbas pada kesehatan fisiknya sendiri.
Mereka tiba di rumah sakit, Lintang segera di tangani oleh dokter yang biasa menangani keluarga mereka.
"Istrimu hanya kelelahan, jangan biarkan dia mengerjakan pekerjaan berat juga jangan biarkan dia terlalu sering berpikir. Itu mempengaruhi kesehatan tubuhnya. Saya resep kan Vitamin ya." Ujar Dokter Hilman sambil tersenyum.
Willy hanya mengangguk saja. Ia sama sekali tidak peduli pada keadaan Lintang saat ini. Kalau bukan Mamanya yang menyuruh ia mengantarkan Lintang ke rumah sakit, ia tak akan mau melakukannya.
Lintang setelah diberikan perawatan beberapa jam akhirnya bisa kembali mendapatkan tenaganya. Ia mengikuti langkah Willy yang cepat di belakang lelaki itu. Setelah mereka sampai di mobil yang telah menunggu Pak Tejo, keduanya segera masuk. Suasana hening. Lintang tidak berani membuka suara, sementara Willy tidak mungkin memberi perhitungan dengan adanya supir mereka jadilah ia berbisik kepada Lintang.
"Kita tidur di rumahmu malam nanti." Ujarnya tepat di telinga Lintang. Lintang meremas tangannya sendiri. Ia tidak ingin peristiwa semalam kembali terulang. Tubuhnya masih terasa remuk karena Willy semalam, dan malam ini ia harus kembali mendapat perlakuan yang sama.
__ADS_1
"Tapi Kak.."
"Jangan membantah. Hutangmu terlalu banyak, bayar itu dengan tubuhmu." Willy menyeringai saat ia mengatakannya. Lintang hanya terdiam, mau membela diri tentu percuma saja. Ia memalingkan wajah dan matanya yang sudah terasa panas.