Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Dua Perempuan Pengacau 1


__ADS_3

"Apa? Willy ingin bertemu denganku?" Tanya Emilie pada asistennya dengan mata berbinar-binar. Ia merasa surprise mendapat undangan dari lelaki yang ia cintai melalui asistennya.


Beberapa jam yang lalu, Setya telah menghubungi asistennya. Dalam sambungan telpon itu pula ia mengatakan bahwa Tuannya menunggu kedatangan Emilie besok hari. Tentu saja kabar itu disambut antusias oleh perempuan itu. Ia jadi tidak sabar akan datang ke perusahaan besar itu esok hari.


"Jam berapa kita akan ke sana?" Tanya Emilie antusias.


"Pukul 10 pagi, Nona." Jawab asistennya.


"Persiapkan sebaik mungkin keperluanku untuk besok." Perintahnya. Asistennya segera mengangguk patuh.


Malam ini Emilie tidur dengan nyenyak dan berharap besok pagi akan datang lebih cepat. Ia benar tidak sabar untuk segera berjumpa dan berbincang hangat dengan lelaki pujaannya.


Sementara di tempat lain, Fiska juga nampak berbunga-bunga. Tadi orang suruhan Willy datang menemuinya ke club malam tempat biasa ia akan menjajakan dirinya. Ia mendapat kabar yang membuat hatinya serasa bermekaran.


"Nona, Tuan kami menunggu kedatangan anda di privat room besok." Kata bawahan Willy yang berbadan tegap.


"Apa?! aku tidak salah dengar? Willy menunggu kedatanganku besok?" Tanya Fiska memastikan.


"Benar, Nona. Tuan sangat mengharapkan kedatangan anda."


"Baik. Aku pasti datang. Katakan padanya aku pasti datang." Fiska berlalu meninggalkan orang suruhan Willy dengan langkah yang lebih berani dan juga percaya diri. Ia akan berdandan secantik mungkin untuk memanjakan mata lelaki kesayangannya.


...****************...


Di tempat tidur mereka, Lintang dan Willy masih terjaga. Willy masih melakukan kegiatan rutinnya yaitu mengajak anak di dalam perut istrinya untuk bicara. Lintang tersenyum saja melihat suaminya melakukan itu seolah ia benar-benar sedang berbicara seru dengan anaknya yang belum lahir.


"Bunda jangan ngidam yang aneh-aneh lagi ya, kasihan ayah." Ujar Willy dengan suara dibuat lucu, Lintang jadi tertawa mendengarnya.


"Bunda jadi pengen buah yang lain." Lintang menggoda suaminya yang sudah memasang bendera damai dengan waspada.


"Bunda mau ayah manjat pohon apa lagi?"


"Bunda jadi menghayal pengen buah asem yang ada di halaman tetangga."

__ADS_1


"Bunda jangan aneh-aneh dong nanti ayah jadi tupai beneran nih." Willy menimpali lagi dengan suaranya yang masih di buat lucu.


"Tapi bunda pengen gimana dong." Sahut Lintang membalas gurauan suaminya.


"Ayah ajak bunda ke swalayan aja ya. Nanti ayah belikan satu keranjang."


Lintang mengusap kepala Willy dengan lembut. Ia juga membiarkan lelaki itu berbaring di pahanya setelah puas mengajak anaknya berbicara.


"Sayang, besok aku akan pulang terlambat. Mungkin akan terlalu sore untuk sampai di rumah." Ujar Willy pada Lintang yang masih asyik membelai kepala dan rambutnya.


"Iya Kak, tidak apa-apa."


"Kau tidak perlu memasak, aku akan meminta Setya mengantarkan makanan untukmu besok." Kata Willy lagi. Lintang menganggu lagi.


"Apa ini akan mengecil lagi nanti?" Tanya Willy, jarinya menjawil perut Lintang yang membuncit.


"Tentu saja, sayang. Ia akan mengecil setelah anak kita lahir." Sahut Lintang.


"Tapi, kau akan kesulitan ketika sedang bermain denganku." Lintang menjawil hidung suaminya.


"Tidak apa, aku akan melakukannya dengan cara lain. Ada banyak sekali cara sayangku." Sahut Willy sambil tersenyum jahil.


"Lakukanlah apa yang kau sukai, suamiku." Balas Lintang.


"Aku akan membuatmu melahirkan banyak anak untukku." Kata Willy lagi, membuat Lintang jadi ngeri sendiri membayangkan ia akan terus membuncit setiap tahun.


"Sayang, sepertinya kau harus memikirkannya ulang."


"Iya sayang, kau hanya perlu memberiku lebih dari satu anak. Terserah berapa lebihnya yang penting ia tidak sendiri." Kata Willy, itu membuat Lintang menjadi sedikit tenang.


"Ya sayang, kita sama-sama anak tunggal, aku tahu rasanya kesepian tanpa adik beradik."


"Kau mengerti perasaanku, Lintang. Aku semakin mencintaimu." Willy bangkit dari posisinya, ia mengecup bibir Lintang dengan lembut. Keduanya kemudian mulai berbaring, Willy merengkuh istrinya dalam tidur. Ia semakin mencintai istrinya dari hari ke hari.

__ADS_1


...****************...


"Sayang, apa kau tidak memiliki permintaan apapun padaku?" Tanya Willy ketika Lintang tengah memasang dasinya.


"Tidak, aku hanya ingin kau selalu mengingatku dan menjaga hatimu saja."


"Itu akan selalu ku lakukan setiap waktu." Willy meraih dagu istrinya kemudian mengecup bibirnya.


"Terima kasih, Kak. Aku mencintaimu selalu." Lintang membalasnya.


Lintang mengantar Willy sampai di depan pintu apartement. Rutinitas yang setiap pagi tidak ingin ia lewatkan. Pagi ini tubuhnya terasa lebih segar dan bersemangat. Lintang sebenarnya bosan berada di apartement tapi ia tidak ingin melanggar apa yang sudah di larang oleh suaminya.


Biasanya Lintang akan mengisi hari dengan menonton tayangan seputar kehamilan, video-video motivasi juga berchat ria dengan sahabatnya apabila ia sedang tidak ada perkuliahan seperti ini sambil menunggu kepulangan suaminya.


Willy juga akan rutin menelpon dan mengajaknya video call untuk memastikan bahwa Lintang baik-baik saja selama ia tidak berada di dekat istrinya itu. Atau terkadang, Ibu Mertuanya akan datang ke apartement menemaninya dengan membawa banyak makanan enak untuk menantunya itu.


Seperti saat ini, Ibu Mertua sudah berada di apartement tepat setelah satu jam Willy berangkat bekerja.


"Lin, nanti kalau usia kandungan mu sudah dekat dengan hari perkiraan lahir, kau tinggal saja ya di rumah kita." Kata Ibu Mertuanya sambil mengupas buah apel.


"Iya Ma, Kak Willy juga mengatakan itu padaku kemarin."


"Kamu jangan capek-capek ya. Mama itu suka was-was ninggalin kamu sendirian disini." Ujar Miranti lagi sambil memberikan buah yang sudah ia kupas kulitnya itu.


"Gak papa kok, Ma. Kak Willy juga selalu telepon Lintang setiap siang, atau ketika ia sedang bersantai di kantornya." Sahut Lintang lalu mulai mengunyah buah apel yang tadi diberikan Ibu Mertua.


"Mama senang Willy sudah banyak berubah sekarang. Ini semua berkat kamu." Miranti memeluk Lintang hangat.


"Juga berkat mama yang selalu mendukung Lintang." Sahut Lintang sembari mengusap punggung Ibu Mertuanya.


"Karena kesabaran kamu menghadapi anak mama. Willy memang keras kepala Lin. Sejak kecil ia sudah di didik serba perfeksionis. Ia di persiapkan untuk menjadi raja dari keluarga besar ini. Kakek Franky juga sangat menyayanginya. Kadang mama juga jadi tidak enak hati pada sepupu-sepupunya yang lain, kepada Zacky apalagi. Dia anak yang sangat baik." Tatapan Miranti menerawang jauh, membawanya pada kenangan-kenangan lalu dalam keluarga mereka.


Membahas itu Lintang jadi terkenang Zacky. Entah apa kabarnya sekarang. Zacky tidak pernah lagi menghubunginya. Lintang tahu Zacky mencintainya namun Lintang tidak bisa membiarkan Zacky memelihara perasaan itu sebab baginya Zacky sudah seperti kakaknya sendiri. Sementara tentang cinta, Lintang hanya memilikinya pada Willy saja.

__ADS_1


__ADS_2