Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Liontin


__ADS_3

Willy sampai di rumah tepat seperti perkiraannya. Hari sudah cukup senja. Ia melihat Lintang, istrinya sedang tertidur di sofa. Di tangannya terjuntai remot televisi. Ia tidur tenang sekali. Willy mengecup kening Lintang membuat mata indahnya terbuka. Ia tersenyum menyambut kepulangan suaminya.


"Kak sudah lama?" Tanyanya sambil berusaha bangkit untuk duduk.


"Baru saja, sayang. Tapi cukup untuk memandang mu yang sedang tertidur dengan liur yang sudah keluar itu." Sahut Willy yang membuat Lintang kelabakan meraba bibir juga mulutnya. Ia tidak merasakan adanya air liur.


"Gak ada, Kak." Ujarnya malu. Willy tersenyum, ia senang bisa menggoda dan menjahili istrinya.


Willy meraih sebuah benda dari tas kerjanya. sebuah kalung liontin terindah yang pernah dilihat Lintang. Ia menutup bibirnya, menatap Willy dan benda itu bergantian.


"Kak.."


"Iya, ini untukmu." Ujar Willy sambil tersenyum.


"Kak... ini pasti mahal sekali." Lintang jadi tak enak hati. Willy meraih dagu istrinya.


"Tidak ada yang lebih mahal dari mu, sayang. Kau tak bisa dibandingkan dengan apapun. Berbalik lah, aku akan memasangnya untukmu." Ujar Willy. Lintang berbalik dengan perlahan. Seolah tak percaya dengan apa yang kini diberikan oleh suaminya.


Garrard’s Heart of the Kingdom Ruby, adalah salah satu kalung termahal di dunia. Terdiri dari potongan ruby Burma berbentuk hati seberat 40,63 karat, yang juga dikelilingi oleh 155 karat berlian. Harganya? jangan di tanya. Mampu membuatmu memiliki beberapa rumah mewah sekaligus. Willy telah memesannya dari sebuah perusahaan besar yang memproduksi benda terbatas itu beberapa bulan yang lalu lewat sebuah toko perhiasan mewah yang menjalin kerja sama.


Lintang memang tak tahu berapa harga pasti dari benda itu namun ia menaksir harganya di atas ratusan juta. Lintang tidak mampu berkata-kata. Ia tidak pernah mengharapkan apapun, dengan Willy yang selalu berada di sisinya saja sudah membuat ia sangat bahagia.

__ADS_1


Willy menuntunnya menuju cermin, ia melihat benda itu telah tergantung, melingkar indah di leher istrinya. Lintang tidak kuasa menahan haru. Airmatanya turun satu persatu. Willy menghapusnya lembut.


"Kak.. terima kasih telah mencintaiku." Ujarnya tulus. Willy tersenyum.


"Cintaku berat padamu." Sahut Willy mengusap bibir Lintang yang telah basah.


Lintang memeluk Willy erat. Terasa perutnya yang membesar menempel pada perut Willy. Willy mengusap punggung istrinya. Ia begitu sayang pada Lintang. Perempuan ini benar telah membuatnya takluk. Willy tidak ingin kehilangan Lintang lagi, ia takut.


"Berjanjilah untuk saling setia." Ujarnya serak. Lintang mengangguk.


"Aku tidak punya apa pun lagi selain cinta yang banyak untukmu, Kak."


Keduanya larut dalam haru yang menenangkan. Lintang tidak akan pernah meragukan apapun lagi tentang suaminya. Ia sudah memaafkan semua kesalahan suaminya dahulu. Bahkan sebelum Willy mencintainya, ia telah memaafkan lelaki itu. Willy pun demikian, jika ingat perlakuannya pada Lintang dulu hatinya langsung nyeri. Betapa ia jahat. Namun, ia bersyukur ia belum terlambat. Ia hanya ingin membahagiakan Lintang juga anak-anak mereka nantinya. Willy akan melakukan semua yang terbaik bagi keluarga kecilnya.


Willy membawa Lintang ke sebuah restoran lagi malam ini. Lintang memakai kalung pemberian suaminya itu, nampak kontras dengan gaun merah yang ia kenakan. Rambut panjangnya di gelung dengan anak rambut terjuntai di setiap sisi pipi. Lintang nampak selalu cantik. Willy juga nampak tampan dengan kemeja santainya. Tubuh atletis dan tingginya membuat para pengunjung terpesona.


"Sayang, aku akan mengajakmu berbulan madu nanti." Ujar Willy sambil menggenggam jemari Lintang. Lintang tersenyum mendengarnya.


"Tapi, apa aku tidak merepotkan dengan perut besar seperti ini?" Tanya Lintang sambil mengusap perut dengan salah satu tangannya.


"Tidak, kau tidak pernah merepotkan ku sayang." Ujar Willy menenangkan istrinya.

__ADS_1


Lintang akhirnya mengangguk lalu tersenyum. Mereka mulai menikmati hidangan dari restoran mewah itu. Saat keduanya hampir menyelesaikan makan, seseorang datang. Melangkah penuh keraguan ke arah meja. Lintang melihat Fiska, perempuan yang menggilai suaminya. Namun, wajah itu tak lagi angkuh. Terlihat berbeda dari terakhir kali bertemu. Willy hanya melihatnya tanpa ekspresi, tapi ia yakin Fiska tidak akan berani lagi melakukan hal bodoh seperti sebelumnya.


"Aku... aku datang untuk meminta maaf padamu, pada kalian." Ujar Fiska sambil menunduk. Lintang terperangah, ia seperti salah dengar. Willy tersenyum mendengarnya. "Hmmm.. Lin, maafkan aku ya. Maaf atas ulahku kemarin. Juga, aku minta maaf padamu Will, atas semua yang telah ku lakukan selama ini. Aku menyesal." Sambungnya, ia menunduk kemudian berbalik dan meninggalkan Lintang juga Willy.


Lintang seolah tersadar dari keterkejutannya. Ia beranjak, berjalan dengan setengah berlari mengejar Fiska yang sudah menuju parkir. Willy segera menyusul istrinya itu, ia khawatir melihat Lintang yang setengah berlari dengan menahan pinggang juga perutnya. Di area parkiran itu, ia melihat Lintang dan Fiska sudah saling berhadapan. Ia menyaksikan keduanya dari jarak yang cukup jauh tapi masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Aku sudah memaafkan mu, Kak. Aku juga minta maaf karena cukup kasar padamu waktu itu." Ujar Lintang pada Fiska yang sudah meneteskan airmata.


"Tidak.. aku pantas mendapatkannya, Lin. Terima kasih kau telah memaafkan ku." Fiska menatap Lintang hangat. Lintang membalasnya dengan tersenyum.


"Kakak, jangan memusuhiku lagi ya." Kata Lintang lagi. Fiska segera mengangguk cepat, ia memeluk Lintang. Mengucapkan terima kasih berulang-ulang.


"Terima kasih Lin." Ia melepaskan pelukannya.


Mereka akhirnya berpisah. Fiska telah masuk ke dalam mobilnya dengan hati yang lebih tenang. Ia merasa pikirannya telah terbuka, ia merasa sangat bahagia karena Lintang mau memaafkannya. Saat itu juga Willy menghampiri Lintang lalu merangkul istrinya untuk masuk ke dalam mobil mereka juga.


Ia senang memiliki istri yang begitu pemaaf. Ia tidak mendendam sama sekali pada wanita tadi. Willy mencium kening juga pipinya berkali-kali.


"Kau tidak marah padanya?" Tanya Willy sebelum ia menyalakan mesin mobil.


"Tidak. Aku senang ia telah berubah dan sadar. Bagaimana pun ia pernah membuatmu jatuh hati dulunya kak. Aku memaklumi semua perbuatannya kemarin dan aku sudah memaafkannya." Lintang berkata sambil tersenyum. Willy membalas senyuman itu dengan mengusap bibirnya lembut.

__ADS_1


"Kau baik, aku semakin mencintaimu." Ujar Willy lalu ia kembali mencium bibir istrinya. Sesuatu yang selalu ingin dilakukan nya ketika bersama Lintang.


Setelah itu Willy menghidupkan mesin mobil, ia membawa Lintang untuk pulang. Di dalam perjalanan, Lintang sangat senang juga lega mendapati kenyataan Fiska telah berubah. Ia tidak lagi memusuhinya, juga telah menerima dengan lapang hubungannya dengan Willy, lelaki yang pernah menjadi kekasihnya dahulu. Lelaki yang pernah membuatnya tergila-gila dan lelaki yang telah mengajarkannya bahwa tidak semua hal itu pantas untuk dipaksakan.


__ADS_2